Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA akan menjadi tuan rumah COP-4 Konvensi Minamata. Pertemuan yang akan digelar secara daring pada 1-5 November 2021 dan secara fisik pada 21-25 Maret 2022 di Bali itu akan menjadi gelaran pertama yang dilaksanakan di luar Sekretariat Konvensi Minamata di Jenewa, Swiss.
Dirjen PSLB3 KLHK sekaligus President COP-4 Rosa Vivien Ratnawati mengungkapkan bahwa dipilihnya Indonesia sebagai tuan rumah merupakan suatu kehormatan. Hal itu menjadi mementum memperkuat komitmen Indonesia dalam mengurangi dan menghapus merkuri.
"Memang di sini ditekankan bahwa Indonesia mempunyai komitmen yang kuat. Konvensi ini tujuannya melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dari emisi dan lepasan merkuri," ungkapnya dalam Media Briefing Persiapan COP-4 Konvensi Minamata, Selasa (26/10).
Baca juga: BRIN: Pengembangan Talenta Muda Perlu Kolaborasi Banyak Pihak
Dijelaskannya, dalam COP 4.1 yang berlangsung secara virtual hanya hal-hal bersifat administratif saja yang akan dibahas. Artinya tidak akan ada kesepakatan yang terjadi lantara pertemuan virtual sulit untuk melakukan lobi-lobi diantara peserta.
Isu yang akan dibahas adalah anggaran Konvensi Minamata 2022/2023. Hal itu penting dan terkait dengan keterbukaan tata kelola.
"Juga mekanisme pendanaan. Banyak negara-negara yang masih membutuhkan pendanaan dalam upaya penanganan merkuri," tambahnya.
Selain itu, juga dibahas evaluasi implementasi kesepakatan COP sebelumnya. Menurut Vivien, hal itu yang paling susah dibahas lantaran setiap negara mempunyai kendala masing-masing.
COP-4.1 juga akan membahas pelaksanaan COP-4.2 di Bali nanti. Meski pemerintah Indonesia sudah merencanakan pelaksanaan pada tanggal 21-25 Maret 2022, jadwal tersebut masih harus dibahas bersama dengan negara pihak.
Sementara itu, terkait COP-4.2 di Bali nanti, pemerintah tengah menyiapkan berbagai hal yang dibahas juga terkait keputusan-keputusan yang diharpkan bisa tercapai. Salah satu poin penting, Indonesia akan menyampaikan Deklarasi Bali terkait pemberantasan perdagangan ilegal merkuri.
Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga, Kemenlu sekaligus Delegasi RI untuk COP-4 Konvensi Minamata, Muhsin Syihab mengungkapkan bahwa deklarasi merupakan bentuk keseriusan Indonesia terkait isu merkuri. Lantaran sampai saat ini masih banyak terjadi perdagangan ilegal murkuri yang menghambat berbagai upaya penanganan merkuri baik domestik, regional maupun global.
"Kita ingin ini nanti akan terwujud sebuah international governance dalam mengatur perdangan merkuri," ungkapnya.
Dia berharap dukungan dari semua pihak agar COP-4.2 bisa terlaksana dengan baik. Apalagi di tengah pandemi, Indonesia harus bisa memberi contoh kepemimpinan yang baik.
Selain itu, lokasi pertemuan di Bali diharapkan bisa membantu memulihkan ekonomi Bali. Sekaligus COP-4.2 menjadi pertemuan internasional terbesar di Indonesia setelah pandemi. (H-3)
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nuroqif, di tengah ancaman kepunahan berbagai satwa endemik, penyelamatan keanekaragaman hayati adalah prioritas
Volume besar itu tentunya memperparah tekanan terhadap lahan seluas 142 hektar yang sudah menampung sampah Ibu Kota selama lebih dari tiga dekade.
Dunia saat ini tengah menghadapi tiga ancaman serius yang disebut “Triple Planetary Crisis” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah tekankan komitmen industri jalankan EPR demi kelola sampah plastik. Target 100% pengelolaan tercapai pada 2029 lewat kolaborasi multi-pihak.
KLHK melalui Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menyegel empat perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
‘’Kolaborasi, termasuk dengan kerja sama dengan pihak swasta menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif, bernilai ekonomis dan ramah lingkungan,”
Menag juga mencontohkan perilaku ramah lingkungan dalam ibadah, seperti anjuran Nabi SAW untuk berhemat air saat berwudu.
Baterai kertas umumnya menggunakan substrat berbasis selulosa, yakni kertas, sebagai struktur utama yang digabung dengan material elektroda dan elektrolit yang aman serta mudah terurai.
Anggota DPR RI Komisi VII Novita Hardini menegaskan bahwa upaya penurunan emisi gas rumah kaca dapat dimulai dari langkah yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ketua DPR RI Puan Maharani mengajak perempuan Indonesia mengambil peran aktif dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.
Peserta diajak meningkatkan kesadaran untuk menjaga kelestarian Bumi dari ancaman seperti polusi, perubahan iklim, dan menurunnya kualitas sumber daya alam.
Selain memberikan dampak lingkungan dan sosial, inovas ini menghasilkan dampak ekonomi signifikan dan terukur bagi masyarakat Desa Kedungturi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved