Minggu 24 Oktober 2021, 14:45 WIB

BMKG Catat Ada 32 Kali Aktivitas Gempa di Banyubiru, Ambarawa, Salatiga

Atalya Puspa | Humaniora
BMKG Catat Ada 32 Kali Aktivitas Gempa di Banyubiru, Ambarawa, Salatiga

ANTARA / Nyoman Hendra Wibowo
DAMPAK GEMPA BUMI: Warga melihat kondisi bangunan rumahnya yang rusak berat akibat gempa bumi.

 

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, sejak Sabtu (23/10) pukul 00.00 WIB dinihari hingga Minggu (24/10)  2021 pukul 10.00 WIB sudah tercatat sebanyak 32 kali aktivitas gempa di Banyubiru, Ambarawa, Salatiga dan sekitarnya.

Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengungkapkan, seluruh gempa yang terjadi memiliki magnitudo kecil, bahkan tidak ada yang melebihi Magnitudo 3,5. Gempa paling banyak terjadi memiliki magnitudo kurang dari 3,0 dengan magnitudo terkecil yang dapat dianalisis adalah gempa dengan Magnitudo 2,1.

Ia menjelaskan, seluruh gempa yang terjadi merupakan gempa sangat dangkal dengan kedalaman kurang dari 30 kilometer. Gempa paling banyak terjadi berada pada kedalaman kurang dari 10 km dimana gempa terdangkal berada pada kedalaman 3 kilometer yang terjadi sebanyak 3 kali.

"Jika kita mencermati data parameter gempa yang terjadi sejak Sabtu pagi dinihari tampak bahwa berdasarkan sebaran temporal magnitudo gempa, maka fenomena tersebut dapat dikategorikan sebagai gempa swarm," kata Daryono dalam keterangannya, Minggu (24/10).

Daryono menjelaskan, gempa swarm dicirikan dengan serangkaian aktivitas gempa bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian yang sangat tinggi, berlangsung dalam waktu relatif lama di suatu kawasan, tanpa ada gempa kuat sebagai gempa utama (mainshock).

Adapun, umumnya penyebab gempa swarm antara lain berkaitan dengan transpor fluida, intrusi magma, atau migrasi magma yang menyebabkan terjadinya deformasi batuan bawah permukaan di zona gunung api.

"Gempa swarm memang banyak terjadi karena proses-proses kegunungapian," imbuh dia.

Selain berkaitan dengan kawasan gunung api, beberapa laporan menunjukkan bahwa aktivitas swarm juga dapat terjadi di kawasan nonvulkanik, meskipun kejadiannya sangat jarang. Swarm dapat terjadi di zona sesar aktif atau kawasan dengan karakteristik batuan yang rapuh sehingga mudah terjadi retakan.

"Terkait fenomena swarm yang mengguncang Banyubiru, Ambarawa, Salatiga dan sekitarnya ada dugaan jenis swarm tersebut berkaitan dengan fenomena tektonik (tectonic swarm), karena zona ini cukup kompleks berdekatan dengan jalur Sesar Merapi Merbabu, Sesar Rawapening dan Sesar Ungaran," jelas Daryono.

Ia melanjutkan, dugaan tektonik swarm ini tampak dari bentuk gelombang geser (shear wave) yang sangat jelas dan nyata menggambarkan adanya pergeseran 2 blok batuan secara tiba-tiba.

Tectonic swarm umumnya terjadi karena adanya bagian sesar yang mengalami rayapan (creeping) sehingga mengalami deformasi aseismik atau bagian/segmen sesar yang tidak terkunci (locked) bergerak perlahan seperti rayapan (creep).

Adapun, berdasarkan catatan BMKG, gempa swarm bukan sekali ini terjadi di Indonesia. Beberapa fenomenanya pernah terjadi beberapa kali, di antaranya di Klangon, Madiun pada Juni 2015, Jailolo, Halmahera Barat pada Desember 2015 dan Mamasa, Sulawesi Barat pada November 2018.

"Masa berakhirnya aktivitas swarm berbeda-beda, dapat berlangsung selama beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, hingga beberapa tahun sperti halnya swarm Mamasa Sulawesi Barat yang mulai terjadi sejak akhir tahun 2018 dan masih terus terjadi hingga saat ini," ungkap Daryono.

Dampak gempa swarm jika kekuatannya cukup signifikan dan guncangannya sering dirasakan dapat meresahkan masyarakat. Daryono menegaskan, masyarakat diimbau untuk tidak panik tetapi waspada. Terjadinya fenomena gempa swarm ini setidaknya menjadikan pembelajaran tersendiri untuk masyarakat, karena aktivitas swarm memang jarang terjadi.

"Namun demikian, jika kita belajar dari berbagai kasus gempa swarm di berbagai wilayah, sebenarnya tidak membahayakan jika bangunan rumah di zona swarm tersebut memiliki struktur yang kuat," kata Daryono.

"Jika struktur bangunan lemah maka dapat menyebabkan kerusakan bangunan rumah seperti yang saat ini sudah terjadi pada beberapa rumah warga di Banyubiru dan Ambarawa," pungkas dia. (H-1)

Baca Juga

MI/ Dwi Apriani

Kasus Covid-19 Terkendali, Upaya Perlindungan Tetap Maksimal

👤 Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 08 Desember 2021, 10:40 WIB
Pemerintah terus berupaya maksimal memberikan perlindungan dengan meningkatkan kualitas penanganan dan menggencarkan vaksinasi, terutama...
MI/Susanto

Konektivitas Digital Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Kesehatan, dan UMKM

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 08 Desember 2021, 10:30 WIB
BAKTI Kominfo telah membawa akses internet yang menjadi bagian dari usaha menuju Indonesia digital sepenuhnya pada...
ANTARA/Sigid Kurniawan

Yuk Mengenal Apa Itu BPUPKI

👤Muhammad Bintang Rizky 🕔Rabu 08 Desember 2021, 09:45 WIB
BPUPKI dibentuk pada 29 April 1945 sebagai bukti atas janji kemerdekaan dari perdana menteri Jepang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya