Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
BERDASARKAN hasil penelitian disimpulkan perbedaan antara nilai yang dipegang teguh secara perorangan dan budaya bangsa saat ini.
"Ini mengindikasikan adanya ketidakselarasan antara nilai pribadi warga bangsa dan budaya bangsa yang terbentuk. Hal ini bila tidak terkelola dengan baik, bisa berujung pada berbagai persoalan lanjutan," kata Rektor Universitas Pancasila (UP) Prof. Dr. Edie Toet Hendratno, S.H., M.Si, FCBArb.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Prof.Edi pada Dies Natalis ke-55 dan Wisuda Sarjana Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021 secara daring dan luring yang gelar Sabtu (23/10).
Dalam wisuda yang bertema “Indonesia Bangkit Pasca Pandemi Covid-19 Melalui Pengembangan SDM Unggul dan Ekonomi Digital Berlandaskan Nilai Nilai Luhur Pancasila”, Rektur UP memaparkan kesimpulan kedua adalah bahwa beberapa budaya harapan bagi bangsa (nilai masa depan) muncul dalam nilai budaya bangsa saat ini, yaitu gotong royong, demokrasi, dan HAM (hak asasi manusia).
"Ini menjadi modal sosial yang cukup baik untuk mendorong ke pertanyaannya, bagaimana kita memastikan bahwa budaya bangsa yang diidealkan tetapi belum dominan di masa sekarang dapat mulai ditumbuhkan," papar Prof.Edi.
Penjelasan Rektor tersebut didasarkan penelitian terbaru yang bekerja sama dengan Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) pada tahun 2019-2020, menghasilkan bahwa pada nilai budaya bangsa saat ini (current culture).
Dari penelitian, menurut Prof.Edi, ditemukan urutan tertinggi gotong royong, birokrasi atau aturan berbelit-belit, berpegang pada aturan agama, korupsi, keberagaman, demokrasi, diskriminasi SARA, dominasi kaum elite atau golongan atas, berpikir jangka pendek, dan hak asasi manusia.
"Selain itu, tentang nilai budaya bangsa yang diharapkan, ditemukan sesuai urutan tertinggi yaitu adil atau keadilan, keadilan sosial, hak asasi manusia, gotong royong, demokrasi, berpikir jangka panjang, bertanggung jawab, integritas atau kejujuran, kemakmuran, dan hidup yang berkualitas," papar Rektor UP.
Sementara itu, kegiatan Wisuda kali ini dihadiri Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy yang turut menyampaikan orasi ilmiahnya.
Tak hanya itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny Gerald Plate dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Agus Setyo Budi, M.Sc. yang telah memberikan sambutannya secara taping video.
Turut hadir Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila (YPPUP) Siswono Yudo Husodo beserta jajarannya.
Dalam pidatonya, Siswono menghatakan kepada wisudawan untuk menanamkan kesadaran dan budaya kerja untuk pencarian ilmu serta pembentukan karakter yang akan dapat menghasilkan kerja keras, ulet, semangat belajar, yang membuat kerja keras anda menjadi berkualitas, efektif, produktif, dan efisien.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UP juga mengucapkan selamat kepada para wisudawan atas keberhasilan menyelesaikan studinya di Universitas Pancasila.
"Gunakanlah ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan untuk membangun bangsa dan negara, serta aktif berpartisipasi mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan nilai-nilai untuk kemajuan bangsa," tutur Prof.Edi.
Pada wisuda kali ini, jumlah Wisudawan D3/S1/S2/S3 dan apoteker yang telah diwisuda adalah 1464 orang. Dengan tambahan kelulusan ini, tercatat sejak didirikan pada 28 Oktober 1966 UP telah memiliki 66.945 alumni dari berbagai program studi. (RO/OL-09)
SNBP merupakan jalur penerimaan mahasiswa baru yang didasarkan pada penelusuran prestasi akademik menggunakan nilai rapor, serta prestasi akademik dan nonakademik.
Kegagalan di masyarakat jauh lebih fatal dibanding kegagalan akademik.
Presiden Prabowo Subianto mengundang perguruan tinggi terkemuka Inggris untuk menjalin kerja sama dalam pendirian 10 universitas baru di Indonesia.
Mitigasi lewat pendekatan sosial kemasyarakatan ini bisa menjadi contoh sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun ketangguhan desa menghadapi bencana.
Penguatan kompetensi dan sistem perlindungan bagi mahasiswa yang melakukan kegiatan kerja di luar negeri harus terus ditingkatkan.
Peserta juga diajak mengeksplorasi cara memanfaatkan kertas daur ulang sebagai media artistik seperti ilustrasi, kartu ucapan, kemasan kreatif, dan karya dekoratif.
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan kekuatan Indonesia bertumpu pada kerukunan yang terus dipelihara di tengah masyarakat.
Guru Besar UNJ, Abdul Haris Fatgehipon, menegaskan perlunya rekonstruksi gerakan kebangsaan dengan menempatkan pemuda sebagai aktor utama.
pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama merupakan langkah strategis dan visioner dalam arsitektur kebijakan pendidikan nasional.
Pemutaran film Believe yang mengangkat kisah hidup Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dimanfaatkan sebagai sarana membangun kebangsaan dan nasionalisme.
Di tengah dinamika kebangsaan yang kerap diwarnai ketegangan antara identitas agama dan tenun pluralitas, sebuah pertanyaan fundamental layak kita ajukan kembali.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved