Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKRETARIS Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan mengatakan riset dan inovasi sangat penting untuk akselerasi pengurangan risiko bencana di Indonesia. Sayangnya, perencanaan, pelaksanaan dan dokumentasi hasil penelitian riset tersebut belum terkoordinasi dengan baik.
"Oleh karena ini, riset dan inovasi sebagai basis upaya akselerasi pengurangan resiko bencana di Indonesia menjadi suatu hal yang sangat penting," katanya dalam sesi webinar Talk to Scientists dengan tema “Riset dan Inovasi untuk Indonesia Tangguh Bencana” yang disiarkan live di kanal Youtube BRIN Indonesia, pada Kamis (7/10).
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan mereka menyadari pentingnya dukungan riset dan teknologi dalam mitigasi bencana. BRIN pun bertekad terus mendekatkan diri kepada publik dengan memberi berbagai informasi yang dibutuhkan.
"Kami perlu menyadari bahwa BRIN harus terus mendekatkan diri kepada publik, membuka berbagai informasi mengenai riset dan teknologi kepada publik sehingga publik dapat memahami riset dengan lebih baik," katanya.
Ia menyebutkan, Indonesia di satu sisi telah dianugerahi keanekaragaman kekayaan karakter alam. Namun, disatu sisi Indonesia berada di antara dua lempeng besar dunia, dilintasi jalur cincin api, dan juga dikelilingi perairan besar dunia.
"Keberagaman seperti ini yang telah mengajarkan masyarakat Indonesia untuk hidup berdampingan dengan berbagai bencana," sahutnya.
Kearifan lokal
Adrin Tohari, Plt kepala kantor Pusat Riset Geoteknologi dari organisasi riset Ilmu Pengetahuan Kebumian BRIN mengingatkan bahwa mitigasi bencana yang efektif itu tidak hanya berbasis pada ilmu pengetahuan, tetapi juga kearifan lokal.
"Karena sejatinya, sejak dahulu para leluhur kita hidup berdampingan secara harmonis dengan alam, dengan memperhatikan gejala dan tanda-tanda dari alam," sebutnya.
Dari semua jenis bencana, Aldrin mewanti-wanti mitigasi bencana pada gempa bumi dan tsunami. Ia mengatakan, bencana alam yang terjadi dengan jumlah frekuensi yang rendah seperti gempa bumi dan tsunami memiliki dampak yang sangat besar jika dibandingkan dengan bencana seperti banjir, kekeringan, erupsi gunung berapi, dan tanah longsor.
Salah satu riset bencana yang bisa dijadikan rujukan dalam mitigasi bencana ialah temuan adanya bencana penurunan tanah di Semarang, Jawa Tengah. Dwi Sarah, peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan dalam risetnya bahwa fenomena penurunan tanah 80% terjadi akibat penggunaan air tanah secara berlebih. Sisanya, sebanya 20% penyebab penurunan tanah berasal dari beban bangunan.
Dari sisi peneliti, Herry Yogaswara, Plt kepala kantor Pusat Riset Kependudukan, dari organisasi riset sosial humaniora BRIN berharap setiap riset yang dihasilkan peneliti tidak hanya berhenti pada riset dan inovasi saja.
"Melainkan perlu adanya keterikatan, satu keberpihakan, dan sikap dimana tidak akan berhenti setelah riset telah diselesaikan. Semua dari hasil-hasil dari riset maupun produksi pengetahuan lain, perlu ditranslasikan atau diterjemahkan untuk dapat secara mudah dipahami oleh kepentingan dari para masyarakat yang berbeda-beda," kata dia. (*)
Melihat kondisi cuaca yang masih hujan hingga saat ini, ia juga meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk ikut serta melakukan modifikasi cuaca.
BANJIR dan tanah longsor yang terjadi di Desa Tempur, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, telah memutus akses jalan masyatakat dan merusak rumah warga.
Bahkan banjir merendam sejumlah daerah tersebut, juga mengakibatkan kerusakan sejumlah infrastruktur seperti tanggul jebol, jalan l, jembatan hingga sejumlah perkantoran dan sekolah rusak
KEPALA Badan Penanggulangan Bencana Nasional Letjen TNI Suharyanto menegaskan, pemerintah tidak membeda-bedakan satu daerah dengan daerah yang lain.
Ratusan unit huntara tersebut tersebar di Kecamatan Baktiya sebanyak 215 unit, Baktiya Barat 5 unit, Dewantara 115 unit, Sawang 241 unit, dan Kecamatan Seunuddon 135 unit.
BNPB bersama kementerian/lembaga, pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, serta mitra swasta terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang.
MENURUT laporan World Economic Forum yang dilansir pada 2023, Kota Jakarta menghadapi penurunan tanah hingga 25 sentimeter.
Penelitian terbaru menunjukkan puluhan bangunan mewah di Florida Tenggara, termasuk Ritz-Carlton dan Trump Tower, mengalami penurunan tanah yang signifikan.
Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan menyampaikan harga cabai baik cabai merah besar, cabai rawit, dan cabai merah keriting mengalami penurunan harga saat berkunjung ke Pasar Tambun.
Penurunan muka tanah tidak hanya terjadi di Jakarta bagian utara. Jakarta bagian selatan pun turut terdampak penurunan muka tanah.
“Hasil penelitian kita di Semarang, kondisi di Jakarta juga sama, penurunan tanah dipercepat oleh pemanfaatan air tanah yang berlebihan dan melebih kapasitas imbuhannya,”
"Daya dukung Jakarta ini sudah berat. Memperbaikinya pun mungkin lebih mahal dari pada kita bikin baru,"
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved