Senin 20 September 2021, 23:05 WIB

Tokoh Muda NU: Silaturahim Nasional sebagai Tabayyun Jaga NKRI

mediaindonesia.com | Humaniora
Tokoh Muda NU: Silaturahim Nasional sebagai Tabayyun Jaga NKRI

ANTARA
Tokoh muda Nahdlatul Ulama Dr Adnan Anwar MA.

 

TOKOH muda Nahdlatul Ulama (NU) Adnan Anwar mengatakan pentingnya menjalin silaturahim sebagai bekal untuk merekatkan persaudaraan kebangsaan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terlebih dalam situasi pandemi covid-19 yang memaksa sebagian besar interaksi dan kegiatan masyarakat terbatasi.

"Mempererat persaudaraan harus terus dijalin melalui silaturahim nasional yang sering diadakan 1950-1970-an silam, sebagai sarana 'tabayyun' antara kelompok-kelompok masyarakat maupun pemerintah, sehingga tidak menimbulkan multitafsir atau dugaan-dugaan dalam menyikapi berbagai dinamika yang terjadi," ujar Adnan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (20/9).

Apalagi, lanjut dia, dewasa ini masyarakat bangsa ini mudah dipecah-belah akibat fenomena liberalisasi informasi dengan kebebasan berpendapat yang seringkali tidak memiliki koridor yang tepat antara ruang publik dan ruang privat.

Menurut dia, masyarakat selama ini belum diajarkan bagaimana menggunakan ruang publik yang baik yang tidak memicu terjadi mispersepsi dan konflik.

"Misalnya bagaimana menggunakan media sosial yang sesuai dengan etika dan undang-undang, sehingga tidak menggunakan ruang media sosial itu untuk suatu gagasan atau aspirasi yang sifatnya anarki dan liar yang dapat membahayakan negara," ucap pria yang juga Direktur Panata Dipantara yang bergerak dalam bidang kajian Kontra Narasi dan Ideologi dari paham radikal terorisme itu.


Baca juga: BNPT Lakukan Silaturahim Kebangsaan ke Suku Baduy


Ia menilai kelalaian dalam menggunakan ruang publik, seperti media sosial dewasa ini kerap memperuncing masalah perbedaan dalam agama, meributkan mayoritas dan minoritas kesukuan. Masalah ini sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan masyarakat di negara ini.

Selain itu, katanya, masih ada pihak-pihak yang menyebarkan provokasi, hoaks dan ujaran kebencian. Kondisi ini memerlukan strategi baru untuk menata ulang masyarakat melalui revolusi budaya dan pengawasan terhadap perkembangan masyarakat di dunia maya.

Selain itu, ia juga memandang bagaimana pentingnya pendidikan sebagai pilar utama dalam menahan arus globalisasi yang masif dewasa ini. Ia menilai model pendidikan saat ini terlalu liberal, beberapa subjek mata pelajaran juga telah hilang.

"Seperti pelajaran geografi, sejarah, bahkan pelajaran Pancasila yang notabene untuk menanamkan dasar-dasar ideologi sudah banyak yang hilang. Maka dari itu reorientasi pendidikan yang bisa menjawab tantangan global itu sangat penting," ujar mantan Wakil Sekjen PBNU ini.

Ia mengakui keberadaan pesantren dirasa sebagai harapan baru untuk mentransformasikan nilai-nilai moral dan agama yang moderat.

Untuk itu lembaga negara perlu memikirkan metode pendidikan atau metode sosialisasi yang tepat di kalangan generasi muda yang salah satunya juga melalui keberadaan para tokoh agama dan santri di tengah masyarakat.

"Keberadaan tokoh-tokoh agama ini sangat penting keberadaannya karena mereka ini memegang pilar agama. Sehingga perlu peran dari pemerintah untuk meletakkan tokoh-tokoh agama untuk selalu berdampingan dalam memimpin umatnya agar bangsa ini biar kokoh," pungkasnya. (Ant/S-2)

 

Baca Juga

dok.PITI

Munas VI PITI Pilih H Serian Wijatno sebagai Ketum 2022-2027

👤Muhamad Fauzi 🕔Minggu 22 Mei 2022, 16:25 WIB
MUKTAMAR Nasional (Munas) ke-VI Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI )menetapkan Dr. H. Serian Wijatno, SE, MM, MH. sebagai Ketua Umum...
Dok. MI

Pemakaian High Heels Rentan Picu Varises

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Minggu 22 Mei 2022, 15:45 WIB
High heels juga membuat gerakan otot kaki tidak sempurna untuk memompa darah kembali ke jantung. Jika harus berdiri dalam waktu lama,...
Antara

Fahmi Idris Meninggal Dunia, Sandiaga Uno Ucapkan Belasungkawa

👤Fetry Wuryasti 🕔Minggu 22 Mei 2022, 15:30 WIB
Lewat akun Instagramnya, Sandiaga mengenang sosok Fahmi Idris, mantan Menteri Perindustrian, sebagai pejabat publik sekaligus pebisnis yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya