Jumat 17 September 2021, 14:43 WIB

Kang Maman: Beragama dan Bernegara dalam Satu Napas NKRI

mediaindonesia.com | Humaniora
Kang Maman: Beragama dan Bernegara dalam Satu Napas NKRI

ANTARA/HO-Humas PKB/am.
Anggota Komisi III DPR RI KH Maman Imanulhaq.

 

ANGGOTA Komisi III DPR RI KH Maman Imanulhaq mengatakan untuk membendung ideologi transnasional, bangsa Indonesia harus terus memperkuat komitmen beragama dan bernegara dalam satu nafas, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Beragama dan bernegara dalam konsep NKRI memang harus memiliki satu napas, bahwa orang yang memiliki komitmen keagamaan yang kuat, ia pasti mencintai Indonesia. Sebaliknya ia yang menjadi warga negara Indonesia, dia akan memiliki keyakinan agama sesuai yang diyakini," ujar anggota DPR yang karib disapa Kang Maman dalam keterangan yang diterima Jakarta, Jumat (17/9).

Kang Maman mengatakan, jika dua komitmen itu luntur dimana komitmen keagamaan ketika orang menganggap bahwa dirinya paling benar dan orang lain salah, maka muncullah kelompok-kelompok yang justru ingin membuat kegaduhan, bahkan melakukan diskriminasi serta kriminalisasi sekelompok orang lain yang berbeda.

"Padahal, komitmen keagamaan mengharuskan kita untuk selalu mengasihi siapa pun orang walaupun dia berbeda. Dengan kita meyakini bahwa Tuhan Itu satu, maka kita wajib bersatu, Tuhan itu tunggal maka kita wajib manunggal dengan tetap menghargai adat istiadat dan budaya," tutur Kang Maman.

Begitu pula dengan komitmen kebangsaan, ia mengatakan bangsa Indonesia sudah terlahir menjadi bangsa yang memang beragam tapi disatukan dalam sebuah ikatan bernama Indonesia. Dengan demikian, tidak ada orang atau kelompok yang disebut mayoritas atau minoritas.

"Tidak ada orang yang dianggap sebagai orang lain semuanya satu dengan jiwa Indonesia," tukasnya.

Menurut Maman, keragaman di Indonesia justru menjadi modal besar terbentuknya Indonesia. Itu menunjukkan bahwa Indonesia bukan untuk satu kelompok dan bukan untuk satu golongan. Sebagai Indonesia, seluruh bangsa harus saling toleransi antar-umat beragama.

Artinya saling menghormati dan menghargai serta saling mencintai Indonesia akan menjadi lebih kuat.

Ia menilai rasa saling menghormati dan ikatan persaudaraan antar-anak bangsa justru akan membuat kehidupan beragama akan semakin indah.

"Kalau hari ini ada orang yang masih terganggu dengan keadaan orang lain, berarti dia terganggu akidahnya, terganggu keyakinannya. Dan kalau pun kita tidak satu agama, kita masih satu bangsa, bahkan kalau kita bukan satu bangsa, kita masih satu manusia. Maka nilai kemanusiaan itulah yang kata Sayyidina Ali harus dikuatkan antara sesama," papar pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka ini.

Ia melihat saat ini ada dua kelompok yang bahaya bagi kedamaian dan keutuhan Indonesia. Pertama kelompok transnasional dan transaksional. Kelompok transnasional mencoba untuk membawa ideologi secara mendunia tapi melupakan aspek lokal berupa kearifan lokal, merupakan nilai-nilai yang menjadi jati diri bangsa Indonesia.

"Mereka selalu memperlihatkan transnasionalnya tapi dia melupakan budaya luhur yang kita miliki," ucap dia.

Kedua, kata Kang Maman, kelompok transaksional adalah mereka yang dibayar untuk mengganggu Indonesia dan untuk mengganggu ukhuwah serta kebersamaan bangsa. Kelompok ini juga mengganggu hubungan antar-umat beragama yang selama terajut dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

Maman menilai, salah satu penyebab dari munculnya ideologi-ideologi kekerasan dengan mengatasnamakan agama itu, diperparah dengan keberadaan media sosial.

Ia menilai media sosial sangat dahsyat ‘menghantam’ jantung-jantung kebersamaan bangsa lewat hoaks, fitnah, perundungan dan sebagainya.

Untuk itu, ia mengajak seluruh anak bangsa untuk menguatkan kembali literasi keagamaan yang moderat atau moderasi agama. Menurutnya, literasi dan moderasi agama menjadi kata kunci untuk menguatkan kembali ukhuwah.

"Kita juga harus mengukuhkan kembali semangat nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia dan meyakini bahwa Indonesia akan maju dengan spirit agama-agama yang ada untuk dijadikan energi dalam menciptakan perdamaian dan persaudaraan yang abadi," ujar Kang Maman. (Ant/OL-09)

Baca Juga

Antara

Temukan Model Toleransi, Mahasiswa UNY Lulus PIMNAS ke-34

👤Muhamad Fauzi 🕔Senin 18 Oktober 2021, 10:46 WIB
PERBEDAAN paham menjadi sebuah keniscayaan. Penelitian studi kasus yang dilakukan oleh mahasiswa UNY di Masjid Agung Mataram, Kotagede,...
MI/Koresponden

Sandiaga: Di Bogor, Bakal Ada Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia

👤 Insi Nantika Jelita 🕔Senin 18 Oktober 2021, 09:42 WIB
Jembatan gantung (suspension bridge) terpanjang di dunia sepanjang 535 meter dan Cable Car dengan rute sepanjang 930 meter akan dibangun di...
medcom.id

Lengkap! Ini Doa Masuk dan Keluar Masjid Beserta Artinya

👤Sofia 🕔Senin 18 Oktober 2021, 09:37 WIB
Simak, berikut bacaan dan arti doa masuk serta keluar...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya