Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan bahwa stunting masih menjadi fokus permasalahan bangsa. Pasalnya, untuk memaksimalkan bonus demografi, Indonesia harus terus menekan angka stunting.
"Stunting adalah salah satu penghambat untuk kita bisa memetik bonus demografi atau sebagai salah satu penghambat untu kita bisa mentransformasikan bonus demografi menjadi bonus kesejahteraan," ungkapnya dalam Rakor BKKBN bersama KemenPPPA, Kamis (16/9).
Menurut Hasto, yang menjadi penentu bonus demografi bisa dimaksimalkan adalah remaja dan anak-anak. Generasi muda merupakan kunci bagi bangsa untuk meraih Indonesia Emas di 2045.
Baca juga: Pasca Pandemi, Semua Lapisan Masyarakat Dapatkan Jaminan Sosial
Lantas, perhatian dan upaya bersama difokuskan pada edukasi generasi muda. Semua pemangku kepentingan dan masyarakat pada umumnya perlu bergerak bersama.
"Ketika remaja dan anak-anak kita masih ada perkawinan anak maka akan diikuti dengan putus sekolah dan akan diikuti dengan jumlah yang banyak. Kemudia diikuti angka kematian ibu, bayi dan anak yang banyak dan diikuti pengangguran karena tidak ada pendidikan tinggi sudah keburu kawin dan melahirkan bayi-bayi stunting," terang Hasto.
Stunting, lanjutnya punya 3 konsekuensi. Pertama adalah fisik yang memang tidak bisa optimal, kemdian pertumbuhan pemikiran yang tidak optimal sehingga banyak keterbatasan. Selain itu juga mudah terkena penyakit yang tentu saja akan menjadi permasalahan di masa depan.
Saat ini angka stunting masih 27,67% dari total jumlah penduduk. Artinya diantara 3 penduduk atau bayi ada 1 orang stunting.
Pemerintah, melalui Perpres 72/2021 telah mengerahkan upaya untuk mempercepat penurunan angka stunting. Seluruh pemda, kepala dinas, pemangku kepentingan dan mayarakat diajak berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah bangsa.(H-3)
PEMERINTAH menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memanfaatkan bonus demografi agar menjadi kekuatan pembangunan, bukan justru berubah menjadi persoalan sosial dan ekonomi
Potensi bonus demografi 2045 terancam gagal total jika usia produktifnya lumpuh akibat utang dan mentalitas instan.
Generasi muda perlu ruang untuk kembali merumuskan harapan dan arah masa depan.
Jika bonus demografi ini bisa dikapitalisasi dengan benar, negara akan bisa melakukan saving dan reinvestasi setiap tahun.
Saat bonus demografi, terjadi surplus usia produktif yang sangat tinggi. Angkanya rata-rata 70% dari keseluruhan jumlah penduduk usia produktif.
Meski tingkat pengangguran terbuka turun ke angka 4,7%, jumlah absolut pengangguran justru meningkat.
PEMERINTAH menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memanfaatkan bonus demografi agar menjadi kekuatan pembangunan, bukan justru berubah menjadi persoalan sosial dan ekonomi
Analis Kebijakan BNPT Haris Fatwa Dinal Maula, mengungkapkan bahwa ancaman terorisme dan radikalisme masih nyata di Indonesia sepanjang tahun 2025.
Meski jangkauan tim sudah cukup luas, Safrina mencatat masih ada beberapa wilayah yang belum tertangani sepenuhnya karena kendala akses.
Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menegaskan urgensi pencegahan stunting sejak masa krusial 1.000 hari pertama kehidupan, khususnya ketika bayi masih berada dalam kandungan. MBG 3B
PT Hengjaya Mineralindo resmi berkolaborasi dengan Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tenggara dalam mengimplementasikan program Taman Asuh Sayang Anak
Kaji Reka merupakan forum untuk mendiseminasikan berbagai hasil kajian dari daerah agar dapat diketahui masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved