Senin 30 Agustus 2021, 16:59 WIB

KLHK: NTT dan NTB Waspada Karhutla

Atalya Puspa | Humaniora
KLHK: NTT dan NTB Waspada Karhutla

ANTARA/BAYU PRATAMA
Asap membubung tinggi dari lahan yang terbakar di Desa Ujung Batu, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Minggu (1/8/2021).

 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di puncak musim kemarau sepanjang Agustus hingga Oktober 2021. Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Laksmi Dewanthi mengungkapkan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terdapat sejumlah wilayah yang sudah memasuki musim kemarau.

Wilayah tersebut ialah Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku, dan Papua.

"Berdasarkan data BMKG, hotspot menengah hingga tinggi muncul di wilayah Sumatra bagian Tengah dan sebagian NTB dan NTT," kata Laksmi dalam koferensi pers yang diselenggarakan secara virtual, Senin (30/8).

Baca juga: Pernikahan-Kecanduan Gadget, Penyebab Anak Putus Sekolah di 2021

"Sedangkan untuk september Oktober, potensi karhtla kategori mengengah hingga tinggi ada di sebagian NTB dan NTT," lanjut dia.

Sementara itu, untuk bulan Desember 2021, berdasarkan prediksi BMKG tidak ada potensi karhutla.

Untuk saat ini sendiri, Laksmi mengungkapkan, pihaknya senantiasa melakukan upaya pencegahan dengan penetapan status siaga di berbagai wilayah yang menghadapi musim kering.

"Antisipasi karhutla di tingkat provinsi diharapkan bisa dilakukan dan diupayakan dengan mengendalikan kahutla sedini mungkin," tutur dia.

Upaya-upaya yang dilakukan di antaranya yakni melakukan pengendalian operasional melalui satgas terpadu, meningkatkan deteksi dini, kesiapan pemadaman, dan upaya permanen seperti teknologi modifikasi cuaca yang dilakukan bersama dengan BNPB dan BPPT.

"Sejak tahun 2020 sampai sekarang, upaya TMC terus dilakukan. Dan kita melihat hasil dari intervensi TMC ini membuat curah hujan lebih tinggi dari prediksi, yakni sekitar 12,38% sampai 35,99%," beber dia.

Laksmi sendiri menyatakan, berbagai upaya pencegahan karhutla yang dilakukan berhasil menekan angka kejadian karhutla tahunan. Pada 2020 saja, angka karhutla menurun sebesar 82% dibanding 2019.

"Sementara pada 2021 dari Januari sampai Agustus 2021 ini angka karhutla berjumlah 105.789 hektar. Tapi belum bisa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karena saat ini masih di bulan Agustus," ucap dia.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani mengungkapkan, selain melakukan langkah pencegahan, KLHK juga melakukan langkah penegakan hukum bagi pihak yang terbukti menyebabkan karhutla.

"Sampai saat ini ada 134 surat peringatan yang sudah kami sampaikan kepada perusahaan yang di lokasinya terjadi karhutla," ucap Rasio.

"Kami terus melakukan upaya-upaya pemantauan dari semua hotspoy yang ada dan merespon dengan memberikan peringatan pada lokasi apabila kami lihat ada hotspot di titik tersebut," pungkas dia. (H-3)

Baca Juga

Antara

33.041 Warga Manado Sembuh dari Covid-19

👤Ant 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 23:59 WIB
Steaven Dandel berharap warga terus menerapkan protokol kesehatan ketat sehingga bisa menekan angka...
Antara

Pesan Indonesia untuk Dunia Dituaikan dalam Batik Biota Laut di Dubai Expo

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 22:59 WIB
Batik dipilih sebagai objek pameran karena merupakan warisan budaya Indonesia yang telah diakui...
Ist

Dari Hasil Penelitian, Ada Perbedaan Nilai Perorangan dan Budaya Bangsa

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 20:18 WIB
Rektor Universitas Pancasila Prof. Dr. Edie Toet Hendratno mengtaakan hal ini mengindikasikan adanya ketidakselarasan antara...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Krisis Energi Eropa akan Memburuk

Jika situasinya tidak membaik dalam beberapa bulan ke depan, ada potensi krisis ekonomi yang menghancurkan

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya