Rabu 25 Agustus 2021, 10:26 WIB

95% Bahan Baku Produk Farmasi Indonesia Masih Andalkan Impor

Atalya Puspa | Humaniora
95% Bahan Baku Produk Farmasi Indonesia Masih Andalkan Impor

ANTARA/ADWIT B PRAMONO
Apoteker memperlihatkan salah satu obat covid-19 di salah satu apotek di Manado, Sulawesi Utara, Minggu (25/7/2021).

 

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono menyebut bahwa hingga kini industri farmasi di Indonesia masih sangat bergantung pada luar negeri. Dikatakan Panut bahwa kurang lebih sebanyak 95% bahan baku produk farmasi Indonesia masih diimpor dari luar negeri. Bahkan, alat kesehatan yang ada di berbagai rumah sakit sekitar 94% bergantung pada produk impor.

"Ketergantungan kita pada impor bahan baku obat dan alat kesehatan masih sangat besar," kata Pandu dikutip dari laman resmi UGM, Selasa (25/8).

Beberapa bahan baku yang masih impor menurut Panut adalah beta lactam sebagai bahan pembuatan obat amoksilin, lalu phenol untuk pembuatan para amino phenol. Selanjutnya benzene untuk para nitrochlorobenzene, dan gelatin untuk pembuatan kapsul. “Semua bahan baku ini diimpor dari Tiongkok, India, Italia, Spanyol, Korea dan Malaysia,” katanya.

Baca juga: Bakamla RI Bagi-bagi Bansos di Tengah Laut

Untuk itu, dalam hal menjawab tantangan kemandirian industri farmasi dan alat kesehatan, UGM membentuk tim gugus tugas kemandirian industri farmasi dan alat kesehatan (KIFA). Panut mengungkapkan, pembentukan gugus tugas KIFA UGM ini diharapkan bisa mendorong terciptanya banyak produk farmasi dan alat kesehatan yang bisa dihilirkan ke masyarakat melalui kerja sama dengan pihak industri.

“Selama ini bergantung pada impor, namun kemandirian itu harus dilakukan dengan bersinergi lewat berbagai instansi dan industri,” imbuh dia.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko, menuturkan pihaknya memfasilitasi periset dari berbagai instansi manapun dari seluruh Indonesia yang kemudian bila potensial akan dikerjasamakan dengan pihak industri.

“Secara regulasi, saat ini sangat mendukung kegiatan riset dan inovasi. Kita juga punya kebijakan insentif pajak produk riset kerja sama dengan industri, lalu soal royalti hingga dana abadi dana riset meski baru Rp5 triliun,” katanya.

Namun, semua kemudahan regulasi ini menurutnya akan sia-sia bila tidak didukung dengan menggandeng industri dan pelaku usaha. Oleh karena itu, BRIN akan memfasilitasi dari sisi periset maupun pelaku usaha agar hasil inovasi riset bisa dimanfaatkan secara luas dan berdampak pada ekonomi. “BRIN fokus membuat periset dan pelaku industri bisa memenuhi standar regulasi,” katanya.

Sementara Staf Khusus Menteri Kesehatan Laksono Trisnantoro, mengatakan pihaknya akan mendorong lebih banyak penggunaan produk dalam negeri dalam bidang farmasi dan alat kesehatan. Oleh karena itu, Kemenkes berencana mengajukan usulan ke DPR. “Kita akan menguatkan regulasinya ke arah pembentukan UU sehingga bisa lebih kuat lagi seperti di India,” katanya. (H-3)

Baca Juga

Ilustrasi

Kemenkominfo Berantas Ribuan Hoaks soal Covid-19 di Media Sosial

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 02 Desember 2021, 20:29 WIB
Dedy mengungkapkan Kementerian Kominfo menemukan sebanyak 1.991 hoaks pada 5.131 unggahan media sosial dengan persebaran terbanyak pada...
dok.ist

BEM Se-Nusantara Gelar Konsolidasi Bahas PEN dengan Dua Menteri

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 02 Desember 2021, 20:19 WIB
ALIANSI Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Nusantara akan menggelar pra temu di Sumatera Selatan (Sumsel) pada 7-9 Desember...
MI/ Bary Fathahilah

Penambahan Kasus Covid-19 Terbanyak di Jabar

👤Ant 🕔Kamis 02 Desember 2021, 19:59 WIB
Secara keseluruhan, angka kasus korona di Indonesia bertambah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya