Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
SEIRING dengan lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia membuat masyarakat melakukan panic buying untuk obat maupun vitamin. Padahal, pemerintah telah meminta masyarakat tak berbondong-bondong membeli, menyimpan dan bahkan mengonsumsi obat sendiri tanpa ada resep dari dokter.
Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Zullies Ikawati mengatakan, jika masyarakat salah memberikan atau mengkonsumsi obat tanpa petunjuk yang benar, maka bisa berakibat fatal. Seperti overdosis ataupun keracunan.
Ia menegaskan, obat yang diminum satu orang belum tentu memiliki efek yang sama dengan orang lain. Sebab, pada dasarnya masing-masing tubuh manusia memiliki respon berbeda terhadap suatu obat.
“Tentu apa saja yang berlebihan dan sembarangan pasti ada risiko. Misalnya saja tidak terkontrol, dipakai dengan sembarang dengan dosisnya berlebih, maka akan berimplikasi terhadap keamanan,” kata dia dalam Katadata Forum Virtual Series “Waspada Konsumsi Obat Ketika Positif Covid-19”
Zullies menuturkan, sampai saat ini belum ada obat khusus yang diperuntukkan untuk penyembuhan Covid-19. Menurut dia, seluruh penelitian terkait dengan virus corona masih terus berjalan.
“Artinya obat-obat yang diizinkan untuk antivirus covid sifatnya masih dalam kondisi emergency. Dimana belum ada obat yang benar-benar manjur,” ucap dia.
Baca juga : Pemerintah Pastikan Ketersediaan Vaksin dan Percepatan Vaksinasi
Ia pun mengungkap, belum lama ini publik juga dihebohkan dengan obat Ivermectin. Obat itu disebut sebagai obat terapi Covid-19 yang efektif dan akhirnya diserbu banyak masyarakat.
Padahal, lanjut dia, Ivermectin tergolong obat keras yang tidak boleh dibeli secara individu tanpa resep dokter. Pada pasien dengan penyakit tertentu, Ivermectin dapat menyebabkan penurunan fungsi hati.
Maka dari itu, Zullies tegas menyarankan masyarakat agar mengkonsumsi obat dibarengi dengan konsultasi ke dokter ataupun ahli. Sebab, obat covid-19 terutama antivirus dan antibiotik merupakan obat keras, yang secara regulasi harus dibeli dengan resep dokter.
Ia mengajurkan pasien Covid-19 yang hanya mengalami gejala OTG ataupun ringan, agar tidak mengonsumsi antivirus. Menurut dia, dengan konsumsi makanan bergizi dan sehat, istirahat teratur, mengelola stress, serta minum vitamin C, D maupun Zink sudah bisa melawan virus tersebut.
Menurut dia, vitamin juga tidak hanya berasal dari obat. Melainkan bisa diperoleh dari makanan, buah dan sayur.
“Saat ini kita sedang berhadapan dengan infodemic, informasi-informasi tidak pas. Jadi, kita yang harus lebih kritis. Apapun informasi yang bunyinya berlebihan jangan dipercaya. Kalau misalnya kita mendapat informasi, air kelapa dicampur garam dan jeruk bisa bunuh virus selama satu jam itu jangan percaya. Tapi kalau bisa untuk menambah stamina saya percaya,” ungkap dia. (RO/OL-7)
Thomas Djiwandono mengusulkan agar pemerintah dan bank sentral meninggalkan skema burden sharing yang diterapkan pada masa pandemi covid-19.
Melihat ancaman besar terhadap keberlanjutan layanan kesehatan dasar, dr. Harmeni mendirikan Symptomedic, platform telemedisin dan layanan pengantaran obat.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Sengketa gaji Cristiano Ronaldo dengan Juventus terkait penundaan pembayaran saat pandemi covid-19 masih berlanjut. Putusan arbitrase dijadwalkan 12 Januari 2026.
Teknologi vaksin mRNA, yang pernah menyelamatkan dunia dari pandemi covid-19, kini menghadapi ancaman.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved