Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SERIBU Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase penting bagi anak terhitung sejak anak berada di dalam kandungan hingga usia 2 tahun.
Di fase ini lah terbentuknya jaringan otak, perkembangan tulang dan berbagai organ tubuh lainnya yang membutuhkan dukungan beragam asupan zat gizi, salah satunya protein hewani.
Dengan kata lain, protein hewani merupakan salah satu zat gizi yang berperan penting dalam upaya peningkatan status gizi bagi anak dan sebagai bentuk investasi gizi di masa mendatang.
Pasalnya, protein hewani mengandung kebaikan asam amino esensial, zat mikronutrien yang berperan penting pada kehidupan manusia. Asam amino esensial bisa ditemui dari sumber protein hewani seperti daging, ikan air tawar, seafood, telur, serta susu.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan protein penting untuk memperbaiki status gizi anak dengan gizi buruk. Seperti diketahui, Indonesia masih berkutat dengan masalah gizi kurang pada anak.
Sejumlah penelitian di beberapa daerah menemukan hubungan yang erat antara kekurangan asupan protein hewani terhadap stunting dan masalah gizi kurang lainnya.
Riset Kesehatan Dasar 2018 Kemenkes mendapati prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita yakni 17,7%. Adapun prevalensi stunting, yaitu masalah gizi kronis yang ditandai tubuh pendek, mencapai 30,8%.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata konsumsi kalori dan protein per kapita per hari penduduk Indonesia sampai Maret 2020 adalah 2.112,06 kkal dan 61,98 gram protein.
Lebih rinci, BPS menyebutkan untuk asupan protein hewani sebanyak 15,9 gram dari ikan/udang/cumi/kerang, daging, serta telur dan susu.
Hal ini lah yang mendasari studi lapangan South-East Asia Nutrition Survey (SEANUTS), studi mengenai gizi dan kesehatan di empat negara di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam) yang diprakarsai oleh FrieslandCampina, induk perusahaan produk bergizi berbasis susu PT Frisian Flag Indonesia.
Bekerja sama dengan lembaga penelitian dan universitas di Indonesia, SEANUTS melibatkan sekitar 3 ribu anak di Indonesia usia 6 bulan–12 tahun di 21 kabupaten/kota pada 15 provinsi di Indonesia.
Advisor SEANUTS Prof.Dr. dr.Saptawati Bardosono M.Sc mengatakan studi ini sangat penting untuk mengetahui gambaran status gizi anak-anak di Indonesia dan memberikan informasi soal asupan makanan anak, termasuk konsumsi protein hewani yang berkontribusi bagi tumbuh kembang anak.
Saptawati mengungkapkan protein hewani memiliki kualitas lebih baik daripada protein nabati, sebab strukturnya mendekati struktur protein manusia.
“Manusia ini lebih mirip dengan hewani dibandingkan dengan nabati, sehingga kita lebih pro pada protein hewani yang lebih mudah dicerna mendapatkan asupan proteinnya, untuk kebutuhan zat pembangun itu di dalam semua metabolisme tubuh kita,” tutur Saptawati.
Menurutnya, salah satu sumber protein hewani yang tak kalah penting ialah susu. Susu adalah sumber protein untuk melengkapi asupan macro dan micronutrient bagi anak.
Lewat kemajuan teknologi, susu diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan asupan protein sebagai selingan di antara waktu makan.
“Susu akan melengkapi asupan protein sehingga tumbuh kembang anak menjadi lebih baik,” tuturnya.
Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia Andrew F Saputro menilai studi SEANUTS merupakan salah satu langkah konkret bagi Royal FrieslandCampina dan PT Frisian Flag Indonesia yang bernaung di bawahnya dalam upaya menekan angka kasus malnutrisi di Indonesia sekaligus mewujudkan visi perusahaan Nourishing by Nature.
“Melalui studi SEANUTS ini, Frisian Flag Indonesia sebagai perusahaan produk bergizi yang hadir untuk keluarga Indonesia selama hampir 100 tahun berharap bisa membuka peluang berkolaborasi bersama pemangku kepentingan termasuk pemerintah agar bersama-sama mengentaskan kasus malnutrisi dan meningkatkan literasi gizi masyarakat," tutupnya. (RO/OL-09)
PENINGKATAN keamanan pangan membutuhkan kebijakan yang tepat demi mewujudkan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik di masa depan.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti penghapusan 11 juta peserta PBI BPJS dan meminta penonaktifan tidak mendadak serta disertai sosialisasi.
INDONESIA turut ambil bagian dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN Muslim Youth Summit (ASEAMYS) 2026 yang digelar di Brisbane Technology Park, Australia, pada 6-7 Februari 2026.
Makan pada saat sahur adalah kunci energi selama puasa.
Beberapa penelitian dan pendapat medis menyebutkan bahwa puasa dapat mengurangi kejadian atau keparahan gangguan asam lambung seperti maag dan GERD.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved