Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wien Kusharyoto mengatakan bahwa mutasi virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 berpotensi mengurangi efikasi vaksin yang sudah ada saat ini. Pasalnya, mutasi tersebut telah mengubah DNA virus, sehingga tidak sesuai dengan vaksin yang sudah diproduksi.
"Mutasi seperti E484K memang berpotensi mengurangi efikasi vaksin. Mutasi E484K adalah salah satu mutasi pada varian dari Afsel dan Brasil," ujarnya kepada Media Indonesia, Jumat (9/4).
Baca juga: Pemerintah Larang Mudik, 166.734 Aparat Polri Dikerahkan
Meski demikian, Wien mengatakan pengaruh virus tersebut dapat diatasi dengan membatasi penyebarannya. Menurut dia, langkah itu akan sangat efektif mengurangi dampak mutasi virus pada efikasi vaksin.
Selain itu, untuk mengatisipasi maka perlu dilakukan modifikasi vaksin. Secara khusus untuk vaksin Merah-Putih yang tengah dikembangkan peneliti Indonesia, perlu memperhatikan pengaruh dari mutasi tersebut.
"Seandainya kita bisa produksi vaksin sendiri, kita bisa mengantisipasinya apabila muncul varian-varian baru dengan melakukan modifikasi pada vaksin tersebut," imbuhnya.
Lebih lanjut, Wien menjelaskan bahwa modifikasi vaksin bisa diawali dengan melakukan mutasi terarah pada gen/DNA penyandi protein spike. Protein seperti asam amino, asam glutamat pada posisi 484 digantikan oleh asam amino lisin (mutasi E484K). Kemudian dilanjutkan dengan produksi protein yang mengandung mutasi tersebut.
"Contoh asam amino asam glutamat (Glu atau E) disandi oleh GAG misalnya, sedangkan lisin (Lys atau K) disandi oleh AAG. Dengan demikian cukup dilakukan mutasi G menjadi A agar asam aminonya berubah," jelas Wien.
Dengan memaksimalkan dua langkat tersebut, mutasi virus sebenarnya tidak akan berdampak besar pada efikasi vaksin. Vaksin Covid-19 yang sudah tersedia bisa terus dugunakan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.(
Masyarakat perlu dijelaskan bahwa virus influenza yang saat ini banyak ditemukan di berbagai negara tidak selalu lebih berat, tetapi memang lebih mudah menular.
IDAI mengingatkan cacar air sangat menular. Satu anak bisa menularkan varicella ke 8–12 anak lain, terutama di sekolah dan lingkungan dengan kontak erat.
Pengurus Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) sekaligus Ketua PDITT dr. Iqbal Mochtar, meminta masyarakat tidak panik dengan penyakit ini, apalagi dengan istilah super flu.
Superflu merupakan influenza tipe A virus H3N2 subclade K yang sudah ada dari dulu.
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan potensi influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu menjadi pandemi tergantung dari 3 faktor.
Hingga saat ini, telah dilaporkan 189.312 kasus flu positif di New York pada musim ini.
Pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat meningkatkan koordinasi dan sinergi guna mencari solusi terbaik dalam penanganan krisis.
Wiku berharap vaksin Pfizer yang sudah disebar ke berbagai daerah digunakan dengan baik. Supaya masyarakat semakin terlindungi dari penularan covid-19.
Vaksin Inavac merupakan vaksin covid-19 dengan platform inactivated virus yang dikembangkan oleh peneliti di Universitas Airlangga.
Vaksin Sars-CoV-2 (sel vero) inaktif hasil karya anak bangsa ini sudah menuntaskan uji klinis tahap 1, 2, dan 3.
Setelah mendapatkan izin EUA dari Badan POM pihaknya akan menyiapkan 10 juta vaksin sesuai kebutuhan dalam negeri.
Prosen uji praklinis vaksin merah putih BRIN memerlukan waktu enam bulan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved