Kamis 25 Februari 2021, 22:11 WIB

Bahasa dan Aksara Nusantara Harus Menyesuaikan Perkembangan Zaman

Budi Ernanto | Humaniora
Bahasa dan Aksara Nusantara Harus Menyesuaikan Perkembangan Zaman

DOK IST
PERAYAAN Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional dan Selebrasi Aksara Sunda.

 

PERAYAAN Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional dan Selebrasi Aksara Sunda pada akhir pekan lalu berlangsung meriah. Ditengah Pandemi covid-19 yang masih berlangsung, kegiatan yang merupakan agenda tahunan UNESCO tersebut tetap terselenggara dengan baik via daring.

Erry Riana Harjapamekas, Ketua Dewan Pembina Yayasan Rancage, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa di era digital saat ini, bahasa dan aksara nusantara harus bisa menyesuaikan perkembangan zaman agar bisa terus dikenal dan dilestarikan.

"Sangat penting untuk mengungkapkan warisan budaya kita secara lebih luas di tingkat internasional, kita bersama-sama mengupayakan agar bahasa dan aksara sunda dapat berkembang mengikuti perkembangan jaman," kata Erry dalam keterangannya yang diterima, Kamis (25/2).

Syaiful Huda, Ketua Komisi X DPR RI yang hadir secara daring mengatakan pada momentum ini, sangat penting untuk kembali menuturkan bahasa ibu masing masing. Menurutnya bahasa adalah representasi dari kehidupan sebagai manusia, sehingga mencerminkan identitas bangsa yang majemuk.

"Peradaban di masa yang akan datang harus diwarnai dengan kemampuan anak-anak kita, masyarakat kita semakin dalam memaknai bahasa ibunya," ungkap Syaiful.

Dalam kesempatan lain, Dirjen APTIKA, Semmuel A Pangerapan menyampaikan bahwa Internet dan teknologi digital saat ini telah menjadi jembatan bagi masyarakat untuk menyaksikan keberagaman budaya yang dibawa oleh masing-masing wilayahnya.

"Bertepatan dengan perayaan hari bahasa ibu internasional upaya digitalisasi aksara nusantara dalam hal ini aksara sunda merupakan bentuk ikhtiar kita untuk terus menjaga keberagaman budaya nusantara di ruang digital, sebagai warisan bagi anak cucu kita nanti yang semakin mengandalkan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari," ucap Semmuel.

Turut hadir pula Ming Kuok Lim selaku UNESCO Advisor For Communication secara daring. Dalam kesempatannya ia mewakili UNESCO mendukung penuh upaya pelestarian budaya daerah.

Baca juga: Pentingnya Bahasa Ibu Sebagai Penyangga Pengetahuan

"UNESCO sangat mengapresiasi dan mendukung penuh upaya upaya untuk melestarikan bahasa ibu dari sebuah daerah. Karena hal ini selaras dengan misi UNESCO yaitu Linguistic Diversity," ungkapnya.

Wakil Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage, Etti RS mengungkapkan rasa terimakasih kepada seluruh masyarakat yang telah mengikuti rangkaian acara tersebut.

"Ada lebih dari 7000 orang yang terlibat, 30 orang dewan juri, dan pemenang lomba sebanyak 50 orang. Terimakasih atas bantuannya baik moril maupun materil dari seluruh stakeholder yang terlibat," ungkap Etti.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Endang Aminudin yang mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tahun ini.

"Walaupun di tengah pandemi Covid-19, peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional tahun 2021 ini ditandai dengan semaraknya acara yang bisa kita saksikan di seluruh pelosok Nusantara. Bukan hanya seminar, festival, lomba, gelar wicara, tapi banyak lagi acara yang dikemas dengan format baru yang sangat kreatif. Di dalam komunitas penutur bahasa Sunda, kita melihat kesemarakkan itu. Belasan acara telah digelar dan melibatkan ribuan penutur bahasa Sunda dari berbagai wilayah tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menuturkan bahwa Pemprov Jabar berjanji untuk terus mendukung program pelestarian Budaya, Bahasa dan Aksara Sunda kedepannya.

"Sebagai Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kami terus mendukung program program penguatan kebudayaan program program pelestarian kebudayaan sunda khususnya, karena kami melihat upaya upaya ini akan meningkatkan pelestarian dari bahasa Sunda, ucap Ridwan Kamil.

Sementara dari sisi PANDI, Yudho Giri Sucahyo selaku Ketua PANDI menegaskan pentingnya pelestarian budaya aksara sunda pada momentum perayaan hari bahasa ibu internasional agar bisa memberikan sinyal pada dunia bahwa budaya dan aksara daerah di Indonesia memang ada dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

"Kita disindir oleh ICANN, pengelola internet dunia bahwa aksara daerah kita hanya muncul di dekorasi hanya muncul untuk kepentingan sejarah dan pendidikan, dan belum digunakan secara umum untuk komunikasi. Mari kita jadikan sindiran dari ICANN tersebut sebagai semangat kita sebagai momentum untuk menggerakan digitalisasi aksara nusantara," pungkas Yudho. (R-3)

Baca Juga

ANTARA/RAISAN AL FARISI

Peran Pers Membangun Infrastruktur Pendidikan

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Kamis 23 September 2021, 12:20 WIB
Media pers dibutuhkan sebagai infrastruktur penyebaran informasi dari berbagai arah dalam dunia pendidikan, memberi penerangan, dorongan...
Ant/M Risyal Hidayat

Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Kemayoran Tinggal 405

👤Rahmatul Fajri 🕔Kamis 23 September 2021, 11:55 WIB
RUMAH Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat kini tinggal merawat 405 pasien covid-19, Kamis...
MI/Dok SETWAPRES

Wapres Tegaskan Penanganan Kemiskinan Ekstrem jadi Prioritas

👤Indriyani Astuti 🕔Kamis 23 September 2021, 11:50 WIB
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan hingga kuartal pertama 2021...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Sarjana di Tengah Era Disrupsi

Toga kesarjanaan sebagai simbol bahwa seseorang memiliki gelar akademik yang tinggi akan menjadi sia-sia jika tidak bermanfaat bagi diri dan orang banyak di era yang cepat berubah ini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya