Minggu 21 Februari 2021, 13:02 WIB

Ahli: Degradasi Hutan Ikut Menyebabkan Masifnya Bencana Banjir

Zubaedah Hanum | Humaniora
Ahli: Degradasi Hutan Ikut Menyebabkan Masifnya Bencana Banjir

Antara
Banjir di Perumahan Pondok Gede Permai, Bekasi, Jawa Barat.

 

GURU Besar Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran Prof Chay Asdak menyatakan, penyebab banjir di Jawa Barat bukan hanya karena cuaca ekstrem semata. Tapi juga karena adanya degradasi luasan hutan, terutama di aliran Sungai Ciliwung.

"Selain karena faktor cuaca dan iklim, degradasi hutan turut menjadi penyebab meningkatnya bencana hidrometeorologi di Jabar," sebut pakar hidrologi dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran Prof Chay Asdak dalam diskusi “Satu Jam Berbincang Ilmu: Waspada Bencana Hidrometeorologi di Jawa Barat” secara virtual, Sabtu (20/2), seperti dilansir dari laman Unpad.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya sudah menginformasikan bahwa curah hujan di wilayah Jawa Barat di awal 2021 terbilang ekstrem, mencapai lebih dari 100 – 150 milimeter/hari. Jika dianalisis lebih lanjut, terang Prof Chay, banjir yang terjadi di wilayah pantai utara Jabar dipicu oleh dua faktor, yaitu tingginya hujan yang terjadi di wilayah tengah dan pesisir utara, serta fenomena air laut yang pasang.

Melihat kontur kawasan utara yang lebih rendah, imbuhnya, hujan di kawasan tengah yang notabene wilayah dataran tinggi akan menyebabkan air melimpah lebih banyak ke kawasan utara. Di saat bersamaan, kawasan utara juga ditekan fenomena air balik (back water) akibat pasang laut menyebabkan air menggenangi sejumlah wilayah di kawasan pesisir utara.

“Kalau kita lihat banjirnya kan diam saja, tidak mengalir seperti di kawasan tengah,” kata Prof Chay.

Penyimpangan tata ruang
Sementara dari sisi tata ruang, degradasi lahan dan hutan masif terjadi. Sejak 2005, penyimpangan tata ruang lahan terus meningkat. Salah satunya adalah di kawasan hulu Sungai Ciliwung. Masifnya peningkatan lahan kritis di kawasan tersebut turut berdampak pada terjadinya banjir di wilayah Jakarta.

Prof Chay menjelaskan, alih fungsi hutan dan lahan untuk kepentingan budidaya maupun komersial di Jawa Barat secara perlahan akan meningkatkan jumlah air yang tidak terserap ke dalam tanah. Akibatnya, banjir akan terus terjadi sepanjang musim.

Selain itu, tidak ada aturan yang tegas dalam melarang masyarakat untuk membuka hutan demi kepentingan budidaya. “Ini yang menjadi tantangan besar, kita masih kesulitan dalam menindak penyimpangan lanskap oleh petani dibandingkan oleh industri,” ujarnya. (H-2)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Bahlil: Ada 109 Izin Produk Minol di 13 Provinsi Saat Ini

👤Despian Nurhidayat 🕔Selasa 02 Maret 2021, 18:07 WIB
Aturan terkait perizinan membuat produk minuman beralkohol sudah berlaku sejak tahun 1931 atau sejak zaman Indonesia belum...
Humas KPU RI

KPU Serahkan Data Pemilih untuk Sukseskan Vaksinasi Covid-19

👤Indriyani Astuti 🕔Selasa 02 Maret 2021, 17:50 WIB
Data kependudukan paling banyak ada pada Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri. Namun, permasalahannya data itu bersifat...
Dok  Yayasan Peduli Jurnalis Indonesia.

YPJI Galang Donasi via Live Streaming untuk Korban Banjir

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 02 Maret 2021, 17:26 WIB
Berawal dari upaya kepedulian terhadap korban bencana alam belakangan ini, Yayasan Peduli Jurnalis Indonesia (YPJI)  menggelar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya