Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BUAYA mampu selamat dari serangan asteroid yang memusnahkan Dinosaurus 66 juta tahun lalu. Resepnya berkat bentuk tubuh reptil ini yang memungkinkan mereka mengatasi perubahan lingkungan yang sangat ekstrim, menurut penelitian terbaru dari para peneliti di Universitas Bristol, Inggris.
Buaya dapat hidup dalam atau di luar air, bahkan dalam kondisi kegelapan total. Reptil raksasa ini juga memiliki kulit yang keras dan dapat bertahan dari luka yang parah.
Umumnya buaya lebih menyukai kondisi dengan suhu hangat, seperti pada Zaman Jurassic. Buaya merupakan reptil berdarah dingin sehingga mereka tidak dapat mengontrol suhu tubuhnya dan membutuhkan kehangatan dari lingkungan sekitarnya.
Ketika sebuah batu luar angkasa seukuran kota menghantam Teluk Meksiko 66 juta tahun yang lalu dan menyebabkan perubahan iklim ekstrim, buaya merupakan salah satu satwa yang dapat bertahan dengan kondisi tersebut.
Mereka menyesuaikan diri dengan bertahan hidup mengandalkan energi panas dari matahari.
Sejak itu buaya tidak banyak berubah bentuk fisiologisnya, buaya masa kini terlihat sangat mirip dengan buaya dari periode 200 juta tahun yang lalu.
Menurut Dr Max Stockdale dari Universitas Bristol, Inggris, laju evolusi lambat yang dimiliki buaya dikarenakan bentuk fisiologi tubuhnya yang telah cukup efektif untuk mengatasi bencana global jutaan tahun yang lalu.
"Ini bisa menjadi salah satu penjelasan mengapa buaya selamat dari benturan meteor pada akhir periode Cretaceous, di mana dinosaurus punah," kata Dr Max Stockdale, seperti dilansir dari dailymail.co.uk, Kamis (7/1) lalu.
Baca Juga: Pawang Buaya Minta Izin Gantikan Ahli Australia Selamatkan Buaya
Dalam kajiannya, Dr Stockdale mengungkapkan temuannya tentang pola evolusi dari buaya, menurutnya buaya memiliki pola evolusi 'stop-start' (terhenti-memulai) yang dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.
Fenomena evolusi yang dialami buaya ini disebut 'punctuated equilibrium', yang detailnya Dr Stockdale jelaskan dalam sebuah publikasi ilmiah di jurnal 'Nature: Communications Biology', Kamis (7/1).
Laju evolusi satwa ini umumnya lambat, tetapi terkadang evolusi dapat berjalan dengan cepat karena dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.
"Laju evolusi adalah jumlah perubahan yang telah terjadi selama jangka waktu tertentu, yang dapat kita lakukan untuk mengukurnya adalah dengan membandingkan pengukuran dari fosil untuk memperhitungkan berapa usianya," papar Dr Stockdale.
"Untuk penelitian ini, kami mengukur ukuran tubuh, hal ini berkaitan dengan seberapa cepat satwa tersebut tumbuh, berapa banyak makanan yang mereka butuhkan, besar populasi mereka, serta seberapa besar kemungkinan mereka akan punah," pungkasnya. (OL-13)
Baca Juga: Tiga Tahun Berlalu, Buaya di Palu masih Berkalung Ban Motor
Warga Cikiwul, Bantargebang, Kota Bekasi dikejutkan oleh kemunculan seekor buaya berukuran besar di parit sempit kawasan persawahan pada Senin (22/12).
Seekor buaya berukuran besar menggegerkan warga setelah ditemukan berada di area persawahan di Kampung Cikiwul, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.
Keberadaan seekor buaya muara berukuran raksasa di area persawahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, akhirnya menemukan titik terang
Temukan 9 makhluk purba yang masih hidup hingga kini, dari hiu, buaya, hingga ayam, yang telah berevolusi sejak sebelum manusia ada.
Menurut Matt Lamanna dari Carnegie Museum, penemuan ini bisa mengartikan jika dinosaurus itu memang sedang memakan buaya atau hanya kebetulan.
Paleontolog telah mengidentifikasi spesies baru buaya purba dari fosil individu muda di barat daya Montana, Amerika Serikat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved