Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
Universitas Indonesia (UI) tengah mengembangkan vaksin Covid-19 Merah Putih setelah menerima Surat Keputusan (SK) Menteri Riset dan Teknologi pada awal Desember lalu. Dari 3 platform vaksin yang dikembangkan, jenis vaksin DNA merupakan yang paling maju dibandingkan dengan platform vaksin RNA subunit recombinant maupuan vaksin virus-like particles (VLP).
"Yang paling maju di UI sekarang ini adalah vaksin DNA. Tentu akan jadi lebih dulu vaksin DNA, kemudian ini antara vaksin RNA subunit recombinant, yang terakhir VLP," ungkap koodinator dan peneliti utama pada tim pengembangan vaksin Covid-19 UI Budiman Bela kepada Media Indonesia, Senin (4/1).
Baca juga: BPOM Percepat Izin untuk Vaksin Sinovac
Dijelaskannya, saat ini tahap penelitian yang dilakukan adalah menyuntikan bibit vaksin pada hewan sebagai bentuk proof of consept. Hal itu untuk mengetahui respon imun protektif yang dibutuhkan.
"Sudah kelihatan ada respon antibodinya yang signifikan yang jauh di atas vaksin DNA lainnya," terangnya.
Menurutnya, platform vaksin DNA buatan UI berbeda dengan platform vaksin DNA lainnya. Peneliti sudah mencoba beberapa cara pemberian vaksin DNA baik secara konvensional dengan menyutikan DNA saja mengunakan liposom maupun dengan ditambah delivery peptide.
Peptida sendiri merupakan molekul yang terbentuk dari dua atau lebih asam amino. Jika jumlah asam amino masih di bawah 50 molekul disebut peptida, tetapi jika lebih dari 50 molekul disebut dengan protein. Asam amino saling berikatan dengan ikatan peptida.
"Jadi peptida yang dikembangkam oleh UI dan ternyata dengan cara yang kita buat dengan adanya delivery peptide itu lebih bagus dari pada dengan cara konvensional lainnya yamg disuntikan dengan loposom saja. Mungkin sementara begitu," jelasnya.
Budiman mengatakan vaksin DNA merupakan platform vaksin dengan dengan efektifitas paling rendah. Namun, pihaknya sedang meneliti dengan mengembangkan peptida yang bisa menginduksi respon imun dan terbukti peptida buatan Anak Bangsa berneda dengan vaksin DNA yang sudah tersedia saat ini.
Lebih lanjut, dalam pengembangan ke depan tentu ada kendala. Sebab, sejumlah industri farmasi di Tanah Air belum berpengalaman atau terbiasa dalam memproduksi atau mendistribusi vaksin jenis DNA. Dibutuhkan fasilitas yang aman seperti BSL-3 dan teknologi yang bisa mendukung pengembangan vaksin tersebut.
Meski demikian, dirinya tetap optimis bahwa di tengah pandemi dan keadaan krisis yang medesak saat ini hal itu bisa dilakukan. Apalagi, fasilitas maupun teknologi pendukungnya tergolong mudah dan murah investasi.
Di samping itu, UI pun menjalin kerja sama dengan perusahaan farmasi luar negeri terkait tranfer teknologi dan pembangunan fasilitas industri farmasi.
"Sebetulnya bisa dikatakan vaksin DNA termasuk vaksin yang paling sederhana. Jadi instalasi atau investmentnya paling murah bisa dikatakan seperti itu. Tapi kan karena di Indonesia itu belum terbiasa jadi perlu diajarin gitu," tambahnya.
Dia menambahkan, terkait paltform vaksin RNA, kendala yang dihadapi adalah pendingin. Vaksin tersebut harus diamankan dengan pendingin yang memiliki suhu minus 70° dan belum tersedia di Indonesia.
Tim UI menggunakan teknologi *Remotely Operated Vehicle* (ROV) atau drone bawah air untuk memetakan kondisi visual terumbu karang.
Sejak diaktifkan kembali pada 25 Februari 2012, IKA Notariat UI terus bertransformasi menjadi wadah komunikasi dan kontribusi bagi almamater serta masyarakat.
Saat ini setiap tahunnya hanya sekitar 1 juta dari 9 juta lebih siswa SMA yang lulus berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Konferensi ini menekankan pentingnya integrasi pendidikan karakter dan kemajuan sains dalam menghadapi dinamika global serta percepatan transformasi digitaL
Pertambangan berkontribusi sekitar 12% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mineral dan batubara mencapai Rp140,5 triliun pada 2024.
Kombinasi kunjungan kampus dan industri ini bertujuan agar siswa memiliki bekal etika dasar saat nantinya aktif berorganisasi maupun memasuki dunia kerja.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah kasus campak (measles) pada awal tahun 2026.
Malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang kompleks akibat imunitas parsial, pembawa asimtomatik, dan resistensi insektisida.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved