Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
UNICEF bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Bappenas secara resmi meluncurkan strategi nasional Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) dan diseminasi nasional Hasil Monitoring ATS dan Anak Beresiko Putus Sekolah akibat Dampak Pandemi Covid-19.
Berdasarkan data dari Susenas tahun 2019, jumlah anak tidak sekolah (ATS) usia 7-18 tahun mencapai 4,34 juta anak. Data terbaru belum didapat.
Debora Comini, perwakilan Unicef Indonesia Representative mengatakan pandemi covid-19 menjadi alasan utama yang menyebabkan anak putus sekolah. Dari hasil monitoring yang dilakukan Unicef, meningkatnya jumlah anak putus sekolah dipicu oleh penurunan atau hilangnya paendapatan keluarga karena dampak pandemi.
"Ini memberi peringatan keras kepada kita tetang konsekuensi pandemi yang signifikan terhadp pendidikan," katanya, dalam webinar Rabu (23/12).
Unicef, katanya, berharap stranas ini akan menjadi dasar untuk membuat kebijakan atau upaya berskala nasional untuk memastikan tidak ada satu anak pun yang tertinggal dan memastikan anak-anak memperoleh haknya atas layanan pendidikan dan mencapai potensi anak sepenuhnya.
Sekretaris Kementerian PPN/ Sekretaris Utama Bappenas, Himawan Hariyoga menyebutkan, selama satu dekade terkhir ini capaian indikator pendidikan di Indonesia sebenarnya menunjukan kinerja positif. Rata-rata dari 7,92% di tahun 2010 menjadi 8,67% di tahun 2019.
Namun, lanjutnya capaian tersebut masih relatif rendah apabila dibandingkan dengan negara maju. Selain itu, kesenjangan antar wilayah dan antar kelompok masyarakat masih relatif tinggi.
"Selain karena kondisi keterisoliran wlayah dan masalah geografis. masalah utama ATS terkait dengan faktor ekonomI yang juga erat kaitannya dengan isu anak seperti anak disabilitas, anak yang bekerja, anak terlantar anak jalanan, perkawinan usia dini serta berhadapan dengan hukum," bebernya.
Dengan bekerja sama dengan UNICEF, Himawan berharap ada penguatan, perbaikan, perluasan dan koordinasi yang lebih baik dan efektif dari berbagai program untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di Indonesia.
Sebelumnya, pada 2018 Bappenas dan UNICEF juga telah melakukan uji coba penanganan ATS berdasarkan strategi nasional (stranas) dan petunjuk teknis (juknis) di dua kabupten yakni, Mamuju, Sulawesi Barat; dan Brebes, Jawa Tengah.
"Uji coba ini untuk melihat efektifitas stranas ATS di daerah serta sejauh mana relevansinya dalam mengakomodir situasi daerah dalam mengatasi masalah ATS," kata Himawan.
Pihaknya juga tengah melakukan desiminasi hasil monitorong anak tidak seolah dan anak untuk megetahui dampak pandemin melalui pendekatan pendataan Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM)
"Hasil monitoring diharapkan mampu meningkatkan peran desa penanganann pedidikan sesuai dengan kewenangannya, mendorong terjadinya kemandirian desa dalam pengelolaan data yang dapat dijadikan dasar dalam perencanaan pembangunan desa maupun daerah," kata Himawan. (H-2)
Di tengah derasnya arus teknologi, perhatian pada tulisan tangan terasa seperti langkah mundu
Bangsa kita telah mengalami sejarah panjang bagaimana memosisikan ujian sebagai bagian dari evaluasi hasil belajar di tingkat pendidikan dasar dan menengah.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak memangkas anggaran pendidikan sebagaimana narasi yang beredar di publik.
Teddy menjelaskan bahwa program MBG justru dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak dini, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA.
Kepala BPIP Yudian Wahyudi menegaskan bahwa pendidikan Pancasila harus menjadi arus utama dalam pembentukan karakter generasi muda
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, meminta publik untuk bersikap jernih dan jujur dalam membaca struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved