Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
Pemerintah Aceh menyambut kedatangan 19 nelayan Aceh yang ditangkap oleh Pemerintah India, saat tiba Jakarta, Sabtu, (12/12). Mereka yang ditangkap di Perairan Nikobar pada 24 Desember 2019 lalu, dibebaskan setelah menyelesaikan masa hukumannya selama satu tahun.
Pemerintah Aceh melalui Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), menyambut ke 19 nelayan tersebut saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta,Tangerang, sekitar pukul 17.00 WIB, dengan menggunakan pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ 0983.
Mereka melakukan pengecekan kesehatan terlebih dahulu sebelum keluar dari bandara. Namun, sebelum diberangkatkan dari India, para nelayan itu juga sudah melakukan swab test, yang hasilnya negatif covid-19.
Baca juga: BNPB&Pemkab Nias Selatan Simulasi Evakuasi Peringatan Dini Tsunami
Kepala BPPA Almuniza Kama mengatakan, sebelum dipulangkan ke Aceh, 19 nelayan itu akan menginap semalam di Rumah Singgah atau Mess Aceh Cipinang, Jakarta Timur.
"Hal itu mengingat pesawat menuju ke Aceh yang mereka tumpangi, jadwal tiket hanya ada pada Minggu pagi. Mereka akan menumpangi pesawat Lion Air yang berangkat pukul 04.30 WIB melalui Bandara Soekarno-Hatta," kata Almuniza dalam keterangannya, Sabtu (12/12).
Ia menambahkan, sesampainya mereka di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang sekitar pukul 08.30 WIB, ke 19 nelayan itu akan dijemput oleh tim dari Dinas Sosial Aceh. Kemudian mereka akan diantar ke kampung halamannya masing-masing.
Almuniza juga mengatakan, selama para nelayan itu berada di Jakarta, BPPA akan memfasilitasi dan membantu apa keperluan yang mereka butuhkan selama tinggal di Rumah Singgah.
"Hal ini sesuai dengan yang diamanahkan pimpinan kita, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Jadi kalau mereka perlu bantuan sesuatu bisa langsung menghubungi kita (BPPA)," jelasnya. Ia mengatakan, ke-19 nelayan kapal motor (KM) Selatan Malaka itu ditangkap oleh otoritas India pada 24 Desember 2019. Karena sudah melewati perbatasan negara lain.
"Saat itu kapal yang mereka tumpangi mesinnya rusak, sehingga dibawa arus ombak hingga memasuki batas teritorial laut India. Dan mereka ditangkap petugas patroli di perairan Nikobar," sebut Almuniza.
Diketahui para nelayan tersebut berangkat melaut dari Lampulo, Banda Aceh, pada 18 Desember 2019, sebelum ditangkap oleh otoritas India.
Dalam hal ini, Pemerintah Aceh katanya, menyampaikan terima kasih kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) New Delhi, Kementerian Luar Negeri RI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)RI yang telah membantu mengurus kepulangan para nelayan itu hingga ke tanah air.
Adapun ke-19 nelayan itu, diantaranya Rusli (Sigli), Mustafa Abdullah (Jeunieb, Bireuen), Muliadi (Jurong Pante, Sakti, Pidie), Muhammad (Kuta Glumpang, Samudera, Aceh Utara), Syahrul (Jangka Buya, Pidie Jaya), Muhammad Yusuf (Alur Cucur, Rantau, Aceh Tamiang).
Lalu, Muhammad Hasan (Keumala, Pidie), Razali (Jangka Buya, Pidie Jaya), Abdur Rahman Syahrel (Cot Batee, Kuala, Bireuen), Ilyas Ishak (Blang Gandai, Jeumpa, Bireuen), Tahur Ali (Ujong Blang, Kuala, Bireuen), Muhamadur (Batee, Pidie), Minja Syah Putra (Pasir Induk, Gayo Lues).
Kemudian, Sayuti (Pulo Gajah Mate, Simpang Tiga, Pidie), Arul (Kualaraja, Bireuen), Zulkifli (Tunong, Panteraja), Samsul Bahri (Panton Makmur, Kreung Sabee, Aceh Jaya), Junaidi (Gampong Pande, Kutaraja, Banda Aceh), dan Junaldi (Simpang Tiga, Pidie).
Sementara itu, Syahrul, salah seorang nelayan, mengaku sangat bahagia sudah dipulangkan ke Indonesia. Karena sudah setahun menjalani hukuman di India. "Alhamdulillah, kami bersyukur sudah tiba di Indonesia hari ini. Dan kami sangat merindukan keluarga di kampung," kata Syahrul, warga asal Ulee Glee, Pidie Jaya ini.
Ia juga berterimakasih kepada pihak KBRI, Kemenlu dan juga KKP. Tentunya juga berterima kasih kepada Pemerintah Aceh yang sudah memfasilitasi penjemputan mereka. (H-3)
Seorang nelayan asal Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dilaporkan terdampar di Sri Lanka setelah perahu motor yang ditumpanginya mengalami kerusakan mesin.
Nelayan di Poncosari, Bantul mengapresiasi program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) gagasan Presiden Prabowo.
Kehidupan masyarakat pesisir di Karimunjawa mengalami perubahan karena dampak dari perubahan iklim yang terus menerus.
SEORANG nelayan Petaling Kabupaten Bangka diterkam buaya saat memancing ikan di sungai Limbung, Selasa (10/2) malam. Korban ditemukan menyangkut di jaring ikan, Rabu (11/2) pagi.
Pemkab Indramayu mengalokasikan pembayaran premi asuransi untuk 1.000 nelayan.
Cuaca ekstrem tersebut berupa hujan deras yang diikuti dengan angin kencang. Kondisi tersebut bisa menimbulkan terjadinya gelombang tinggi yang berbahaya untuk nelayan
Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh terus melakukan akselerasi kegiatan fisik di lapangan.
Aksi peduli lingkunhan digelar untuk meningkatkan kesadaran pengurangan risiko bencana dan pelestarian habitat gajah Sumatera yang terancam punah.
Tradisi meriam bambu di Pidie saat Lebaran menarik ribuan wisatawan, memicu kemacetan panjang, dan berpotensi dikembangkan sebagai wisata budaya unik Aceh.
Harga cabai merah di Aceh melonjak hingga Rp60.000 per kg saat Lebaran 2026. Simak penyebab dan pantauan harga terbaru di Pasar Pante Teungoh Sigli.
ARUS balik Lebaran 2026 di jalur Nasional Banda Aceh-Medan pada Selasa (24/3) mulai menunjukkan kepadatan signifikan.
GELIAT arus balik Lebaran 2026/ Idulfitri 1447 H mulai terasa di sepanjang jalur nasional yang menghubungkan Banda Aceh, Provinsi Aceh, dengan Medan, Sumatra Utara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved