Jumat 27 November 2020, 08:05 WIB

Tangguh Hadapi Masalah Dengan Bergotong Royong

medaindonesia.com | Humaniora
Tangguh Hadapi Masalah Dengan Bergotong Royong

Dok.Lampost
Masyarakat Pekon Bandaragung, Kecamatan Bandarnegeri Suoh, Lampung Barat, melakukan gotong royong.

 

MASYARAKAT Indonesia memiliki satu nilai khas yang tidak dimiliki bangsa lain, yakni gotong royong. Sudah sejak dulu para leluhur menjadikannya sebagai budaya bangsa. 

Wujud gotong royong bisa beraneka ragam. Yang sering dipraktikkan masyarakat ialah saat kerja bakti lingkungan sekitar tempat tinggal, membangun sarana umum, tolong menolong saat upacara adat, bahkan tolong menolong saat terjadi bencana alam. Biasanya bentuk pertolongan yang diberikan berupa tenaga, bahan makanan, hingga uang.

Hingga saat ini nilai-nilai luhur tersebut masih hidup dan dipegang teguh di masyarakat. Seperti saatnya menghadapi musibah, pandemi covid-19. Banyak warga masyarakat secara individual maupun bersama-sama menyediakan atau memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkannya seperti sembako, makanan jadi, dan uang.

Sudah tertanamnya nilai gotong royong di masyarakat menjadikan seseorang yang melakukannya menjadi ringan dan ikhlas demi menolong sesama. Tidak itu saja, salam menghadapi pandemi covid-19 ini, banyak kampung di Tanah Air secara komunal membentuk Kampung Tangguh dengan maksud melawan pandemi secara bersama-sama. 

Termasuk menjaga lingkungan kampung dari hal-hal yang bisa menyebabkan penyebaran virus korona. Kalau ada warganya yang terjangkit, maka secara bersama membantunya, terutama kepada anggota keluarga yang ditinggalkan karena kepentingan isolasi atau dirawat di rumah sakit. 

Segala cara dan strategi harus dilakukan dalam upaya memerangi virus korona, agar proses pemutusan mata rantai virus bisa lebih cepat.
Model pengendalian covid-19 ini dapat berjalan mulus. Karena pada dasarnya masyarakat terutama yang berbasis di pedesaan sudah terbiasa  melakukan berbagai kegiatan berbasis kebersamaan (gotong royong) yang melibatkan anggota masyarakat. 

Strategi ini dipandang cukup representatif karena melibatkan langsung seluruh elemin masyarakat yang ada di tingkat bawah, seperti dusun atau kampung.

Setidaknya, masyarakat secara sadar ikut andil dalam proses pengendalian penyebaran virus. Mereka secara langsung ikut melakukan tahapan protokol kesehatan terhadap dirinya, terhadap orang-orang di sekitarnya, terutama terhadap orang luar yang kebetulan hendak masuk ke kampung mereka.

Seperti dikisahkan, Mamat warga Desa Pesudukuh, Nganjuk Jawa Timur. Ia bersama isterinya bermaksud pulang ke rumah setelah satu bulan bekerja di Kediri. Oleh warga, mereka tidak langsung diperbolehkan menuju rumahnya.

Namun ada petugas yang menerapkan protokol kesehatan, seperti menanyakan kisah perjalannya selama sebulan, memeriksa suhu tubuh. Baru setelah mengisi form kedatangan Mamat dan isterinya diperkenankan ke rumah. Itu pun dengan syarat selama dua minggu tidak diperkenankan melakukan kegiatan di luar rumah.

Terhadap perlakuan ini Mamat mengaku tidak protes. Alasannya, hal itu demi kepentingan bersama dan menjaga desa agar tidak terpapar virus korona.

Tidak itu saja, komunikasi yang dilakukan dengan tetangga atau warga lainnya lewat telepon genggam sering ditanyai kebutuhan makanan apa yang diperlukan. Meski Mamat sadar bahwa kemampuan warga terbatas, adanya kebersamaan dan nilai-nilai gotong royong tersebut membuatnya merasa lega dan nyaman dalam menghadapi pandemi covid-19.

Hingga masa 'karantina, mereka selesai dan antarwarga selalu saling mengingatkan agar dalam keseharian menerapkan protokol kesehatan seperti 3 M yakni sering mencuci tangan pakai sabun, mamakai masker dan menjaga jarak/menjauhi kerumunan.

Dari kekompakan warga dalam menghadapi covid-19, Mamat pun akhirnya menawarkan diri dan merasa terpanggil untuk melibatkan diri secara suka rela menjaga desa mereka dari serangan virus. 

Para warga, terutama anak-anak muda secara bergantian menjaga posko memantau lalu lintas masuknya orang luar ke kawasan mereka.
Penjagaan desa yang berbasis gotong royong masyarakat ini jelas sangat efektif untuk menjaga keamanan desa maupun keamanan dari serangan covid-19.

Maka dari itu penerapan nilai-nilai yang dilakukan anak-anak muda sesuai dengan prinsip profil pelajar pancasila yaitu gotong royong dalam menghadapi covid-19 ini,hal tersebut juga bisa dijadikan momentum perekat bangsa. Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengakui pandemi covid-19 dapat membantu mewujudkan bangsa Indonesia mempunyai daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.

"Pandemi harus menjadi perekat gotong-royong, menjadi akselerator reformasi dan membuat kita fokus pada fundamental human capital seperti kesehatan dan pendidikan," kata Sri Mulyani saat memberikan kuliah umum secara virtual di FEB UI, Jakarta, Rabu.

Indonesia harus memanfaatkan momentum itu mengingat tidak banyak negara-negara di dunia yang mampu mengatasi krisis akibat ketidakkompakan para pemangku kepentingan dalam mencari solusi.(RO/OL-09)
 

Baca Juga

MI/Andri Widiyanto

100 Juta Penduduk Indonesia Sudah Divaksinasi Covid-19 Lengkap

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 09 Desember 2021, 11:29 WIB
PEMERINTAH menyatakan bahwa 100,03 juta penduduk Indonesia telah mendapatkan dosis lengkap atau dua kali menerima dosis vaksinasi covid-19...
ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Tiga dari Empat Pemilik Hewan Peliharaan tidak Pernah ke Dokter Hewan

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 09 Desember 2021, 11:15 WIB
Sampai saat ini, pasokan informasi soal hewan kesayangan masih didominasi asupan informasi dari sumber-sumber popular, yakni internet...
Dok. Pribadi

Menkominfo Harapkan STMM Hasilkan SDM yang Sesuai Tren Lapangan Kerja Baru

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 09 Desember 2021, 11:08 WIB
Johnny menyatakan perkembangan inovasi dari utilisasi teknologi digital memunculkan tren 10 jenis pekerjaan baru dengan permintaan makin...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya