Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
LIGA Muslim Dunia (Muslim World League/MWL) menyerukan penguatan solidaritas dan persatuan umat Islam di tengah tantangan global saat ini. Hal itu dikatakan Sekjen MWL Syekh Mohammed Al-Issa, dalam khutbah Jumat yang disampaikannya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (5/12).
Di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi masjid terbesar di Asia Tenggara itu, Al-Issa menegaskan pentingnya memperkokoh akhlak mulia serta menghadapi tantangan global dengan persatuan dan keteguhan moral.
Al-Issa turut memuji Indonesia sebagai contoh nyata moderasi Islam dan kerukunan sosial yang diakui dunia. Menurutnya, Indonesia berhasil menjaga identitas keislaman sembari merawat keberagaman sebagai kekuatan nasional.
Karakter tersebut, ujarnya, menjadi modal penting dalam membangun masyarakat muslim yang berpengaruh dan berperan dalam percaturan global. Al-Issa kembali menegaskan prinsip utama ajaran Islam yaitu kasih sayang, kerja sama, dan solidaritas.
“Seorang muslim adalah akhlak yang berjalan di muka bumi,” ujarnya.
Syekh Mohammed Al-Issa dikenal sebagai figur internasional dalam dakwah moderasi Islam, dialog antaragama, dan penanggulangan ekstremisme. Sejak menjabat Sekjen MWL pada 2016, ia juga memimpin Organisasi Ulama Muslim dan menjadi anggota Haiah Kibarul Ulama Arab Saudi. Sebelum itu, ia pernah menjabat Menteri Kehakiman Arab Saudi.
Al-Issa menyoroti perlunya umat memperkuat ketahanan moral menghadapi dinamika zaman. Al-Issa mengingatkan dua tantangan besar yang dihadapi dunia Islam yaitu meningkatnya Islamofobia dan perpecahan internal.
Dia menyinggung penetapan 15 Maret sebagai Hari Internasional Melawan Islamofobia oleh PBB. Hanya saja, imbuhnya, diskriminasi terhadap umat Islam masih terjadi di banyak negara.
Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan respons kolektif yang tegas, terukur, dan berprinsip. Pada saat yang sama, ia menyoroti masalah perpecahan di internal umat.
Sektarianisme, saling menyingkirkan, hingga pelabelan ideologis, menurut Al-Issa, potensial membuka ruang bagi kelompok ekstrem dan teroris untuk berkembang. Ia menegaskan keragaman pemikiran ialah keniscayaan dan harus dipahami sebagai kekayaan intelektual, bukan sumber pertikaian.
“Orang-orang beriman itu laksana satu tubuh. Jika satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakannya,” ungkapnya.Dalam kesempatan itu, Al-Issa turut menyinggung salah satu inisiatif besar MWL, yakni Piagam Membangun Jembatan Antar Mazhab Islam. Piagam berisi 28 pasal tersebut dirancang untuk memperkuat persatuan, mempromosikan harmoni, dan menegaskan keberagaman sebagai sumber keberkahan. Ia juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi ulama Indonesia dalam proses penyusunan dokumen tersebut. (M-3)
Institut Transportasi dan Logistik Trisakti (ITL Trisakti) berkomitmen untuk terus berinovasi. Inovasi disebut sebagai cara terbaik merespons tantangan global.
Ajang ini bukan sekadar pameran dan kompetisi, melainkan juga menjadi panggung kolaborasi internasional, tempat ide-ide visioner.
DIASPORA Indonesia yang tersebar di mancanegara ikut menyoroti wacana Indonesia emas 2045 di tengah tantangan geopolitik yang sedang berkobar di belahan dunia.
Sejurus dengan Syahganda, Fuad Bawazier dalam ceramahnya meminta agar tidak ada dikotomi Orde Baru, Orde Lama maupun rezim-rezim setelah reformasi dalam melihat pasal 33 UUD 45 tersebut.
Sebagaimana diketahui, kondisi global saat ini tengah menghadapi tekanan signifikan akibat meningkatnya praktik proteksionisme dan perang dagang dari negara mitra dagang utama.
Refleksi 80 tahun Kementerian Agama menjaga kerukunan, pendidikan, dan pengelolaan dana umat demi kemaslahatan bangsa Indonesia.
SEKRETARIS Jenderal Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin, mengatakan, penguatan nilai-nilai moderasi beragama di generasi muda adalah yang yang fundamental.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen (Dirjen Bimas Kristen) Jeane Marie Tulung turut hadir dan berpartisipasi aktif dalam apel Hari Santri.
BPIP dan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar diskusi bertajuk “Aktualisasi Nilai Ketuhanan dan Kebangsaan dalam Menjaga Moderasi Beragama di Indonesia”. Edukasi Pancasila
Toleransi, katanya, adalah kata yang paling sering terdengar tapi terkadang bisa berbalik menjadi penyebab tindakan-tindakan intoleran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved