Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Liga Muslim Dunia Serukan Solidaritas di Tengah Tantangan Global

Dhika Kusuma Winata
06/12/2025 08:12
Liga Muslim Dunia Serukan Solidaritas di Tengah Tantangan Global
Sekjen MWL Syekh Mohammed Al-Issa, dalam khutbah Jumat yang disampaikannya di Masjid Istiqlal, Jakarta(Dok.HO/MWL)

LIGA Muslim Dunia (Muslim World League/MWL) menyerukan penguatan solidaritas dan persatuan umat Islam di tengah tantangan global saat ini. Hal itu dikatakan Sekjen MWL Syekh Mohammed Al-Issa, dalam khutbah Jumat yang disampaikannya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (5/12).

Di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi masjid terbesar di Asia Tenggara itu, Al-Issa menegaskan pentingnya memperkokoh akhlak mulia serta menghadapi tantangan global dengan persatuan dan keteguhan moral.

Al-Issa turut memuji Indonesia sebagai contoh nyata moderasi Islam dan kerukunan sosial yang diakui dunia. Menurutnya, Indonesia berhasil menjaga identitas keislaman sembari merawat keberagaman sebagai kekuatan nasional. 

Karakter tersebut, ujarnya, menjadi modal penting dalam membangun masyarakat muslim yang berpengaruh dan berperan dalam percaturan global. Al-Issa kembali menegaskan prinsip utama ajaran Islam yaitu kasih sayang, kerja sama, dan solidaritas. 

“Seorang muslim adalah akhlak yang berjalan di muka bumi,” ujarnya.

Syekh Mohammed Al-Issa dikenal sebagai figur internasional dalam dakwah moderasi Islam, dialog antaragama, dan penanggulangan ekstremisme. Sejak menjabat Sekjen MWL pada 2016, ia juga memimpin Organisasi Ulama Muslim dan menjadi anggota Haiah Kibarul Ulama Arab Saudi. Sebelum itu, ia pernah menjabat Menteri Kehakiman Arab Saudi.

Al-Issa menyoroti perlunya umat memperkuat ketahanan moral menghadapi dinamika zaman. Al-Issa mengingatkan dua tantangan besar yang dihadapi dunia Islam yaitu meningkatnya Islamofobia dan perpecahan internal.

Dia menyinggung penetapan 15 Maret sebagai Hari Internasional Melawan Islamofobia oleh PBB. Hanya saja, imbuhnya, diskriminasi terhadap umat Islam masih terjadi di banyak negara.

Kondisi tersebut, menurutnya, membutuhkan respons kolektif yang tegas, terukur, dan berprinsip. Pada saat yang sama, ia menyoroti masalah perpecahan di internal umat. 

Sektarianisme, saling menyingkirkan, hingga pelabelan ideologis, menurut Al-Issa, potensial membuka ruang bagi kelompok ekstrem dan teroris untuk berkembang. Ia menegaskan keragaman pemikiran ialah keniscayaan dan harus dipahami sebagai kekayaan intelektual, bukan sumber pertikaian.

“Orang-orang beriman itu laksana satu tubuh. Jika satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakannya,” ungkapnya.Dalam kesempatan itu, Al-Issa turut menyinggung salah satu inisiatif besar MWL, yakni Piagam Membangun Jembatan Antar Mazhab Islam. Piagam berisi 28 pasal tersebut dirancang untuk memperkuat persatuan, mempromosikan harmoni, dan menegaskan keberagaman sebagai sumber keberkahan. Ia juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi ulama Indonesia dalam proses penyusunan dokumen tersebut. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya