Rabu 25 November 2020, 11:24 WIB

Layanan Puskesmas Diperkuat untuk Tekan Kematian Covid-19

Eni Kartinah | Humaniora
Layanan Puskesmas Diperkuat untuk Tekan Kematian Covid-19

Foto/Dok.MI
Salah satu penyakit penyerta atau komorbid pasien Covid-19 yang cukup berbahaya adalah diabetes.

 

SALAH satu penyakit penyerta atau komorbid pasien Covid-19 yang cukup berbahaya adalah diabetes. Diabetes menempati urutan kedua setelah hipertensi sebagai penyebab keparahan dan kematian pasien Covid-19.

Pasien diabetes harus lebih waspada dan disiplin dalam menjaga kadar gula darah selama pandemi agar kondisinya sehat dan mencegah terjadinya komplikasi. Namun, di saat yang bersamaan terdapat kekhawatiran untuk melakukan kontrol gula darah ke fasilitas kesehatan karena selalu dibayangi oleh penularan virus Covid-19.  

Ketakutan pasien untuk mendatangi fasilitas kesehatan terlihat dari survei MarkPlus Industry Roundtable edisi ke 20 yang menunjukkan bahwa masyarakat semakin takut untuk mengunjungi rumah sakit sejak pandemi. Sebanyak 71,8% responden mengaku tidak pernah mengunjungi rumah sakit ataupun klinik sejak adanya Covid-19.  

Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD- KEMD, selaku Ketua Perkeni menjelaskan, pengelolaan diabetes sebelum maupun selama pandemi seharusnya tidak dibedakan.

“Sebagian masyarakat memang takut datang ke pelayanan kesehatan sehingga berimbas pada gula darah yang tidak terkontrol dan rawan komplikasi," ujarnya.

"Sebenarnya pemerintah sudah memberikan kelonggaran bagi penyandang penyakit tertentu untuk tidak mendatangi fasilitas kesehatan. Pasien yang terlalu berisiko bisa diwakili keluarga, asalkan bukan pasien baru. Pemerintah juga memberikan pengobatan untuk dua bulan sehingga kunjungan menjadi lebih jarang,” jelas Prof.Suas, sapaan akrab Ketut Suastika.

Rapat Komisi IX DPR dengan Kemenkes dan jajarannya tanggal 17 November 2020, menyoroti persoalan ini. Tingginya kematian pada pasien Covid-19 yang disertai penyakit penyerta seperti diabetes, salah satunya disebabkan pelayanan dasar di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP/Puskesmas) belum maksimal.

Tanpa intervensi yang agresif, dikhawatirkan pengelolaan diabetes semakin menurun, dan membuat pasien semakin rentan selama pandemi. Baik rentan komplikasi maupun rentan mengalami keparahan dan kematian saat tertular Covid-19

Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani, mengatakan, “Berbagai upaya memang mesti dilakukan, salah satunya melakukan inovasi pelayanan publik untuk pasien diabetes di Puskesmas. Puskesmas adalah fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat, oleh karena itu harus lebih diberdayakan.” 

“Di awal pandemi pemerintah cukup kedodoran, namun kita maklum karena semua masih belajar bagaimana menyiapkan protokol Covid-19 dan memperkuat SDM untuk penanganan korban. Namun sekarang sudah lebih dari 8 bulan pandemi, seharusnya sudah tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk tidak membenahi pelayanan di Puskesmas,” lanjut Netty.

Menurut Netty, Komisi IX DPR RI mendesak Kementerian Kesehatan untuk mengoptimalkan penanganan penyakit penyerta Covid-19, termasuk diabetes, dengan cara memperkuat berbagai layanan dasar di FKTP. Pelayanan minimal yang harus adalah adalah deteksi dini diabetes, cek gula darah, dan memastikan ketersediaan obat-obatan antidiabetes, termasuk insulin.

Selain itu melakukan langkah mitigasi, yakni bagaimana mencegah agar pasien dengan komorbid yang berisiko mengalami gejala sedang hingga berat saat terinfeksi Covid-19, bisa diminimalisasi. 

“Edukasi juga harus terus dikedepankan sebagai salah satu upaya promotif dan preventif. SDM di Puskesmas bisa menggandeng komunitas-komunitas di masyarakat untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan diabetes selama pandemi. Komunitas ini biasanya lebih didengar oleh masyarakat,” ujar Netty.

Penguatan layanan diabetes di Puskesmas, selain bisa menurunkan mortalitas dan morbiditas pasien diabetes, serta menurunkan risiko gejala berat dan kematian akibat Covid-19, juga sangat menghemat pembiayaan BPJS Kesehatan.

Diabetes adalah salah satu penyakit yang membawa beban ekonomi yang sangat besar, karena berbagai komplikasinya. Semakin tidak terkontrol kadar gula darah, maka semakin mahal cost yang harus dikeluarkan untuk perawatan medis.

“Yang mahal bukan diabetesnya, tetapi juga biaya untuk komplikasinya. Misalnya penyandang diabetes memiliki hipertensi, penyakit ginjal, atau jantung maka obat  untuk komplikasi itu juga harus diteruskan,” kata Prof Suas. (Nik/OL-09

 

 

Baca Juga

ANTARA

KRL Yogyakarta-Solo Mulai Uji Coba, Tarif Dipatok Rp8 ribu

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 21 Januari 2021, 00:13 WIB
Sama dengan tarif kereta api (KA) Prambanan Ekspress (Prameks) yang selama ini sudah melayani koridor...
Dok. Shafwah Global Utama

Shafwah Holidays Gandeng Santri Kembangkan Wisata Halal

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Rabu 20 Januari 2021, 23:53 WIB
program yang dinamakan Ustadpreneur itu mengajak santri di seluruh Indonesia untuk mengembangkan paket wisata halal melalui...
ANTARA/Nova Wahyudi

BMKG Ingatkan Waspada Hujan Ekstrem Hingga Februari 2021

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 20 Januari 2021, 23:40 WIB
Masyarakat juga diimbau berhati-hati dengan tidak mendekati area kejadian guna menghindari risiko yang lebih...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya