Rabu 18 November 2020, 02:15 WIB

Pontang-panting Rancang Pembelajaran Daring

(CitraLarasati/Ilham Pratama/X-11) | Humaniora
Pontang-panting Rancang Pembelajaran Daring

MI/CITRA LARASATI
Fajar Selawati Guru PPKN SMAN 77 Jakarta

 

“HARI itu sibuk banget, kami kaget. Suasana tegang. Guru-guru masih masuk sekolah dan berkumpul di ruangan serbaguna ini,” ungkap Fajar Selawati, guru PPKN SMAN 77 Jakarta ketika menceritakan hiruk pikuk hari pertama penerapan pembelajaran jarak jauh, beberapa waktu lalu.

Sesuai instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, daerah di zona oranye dan merah covid-19 harus melaksanakan PJJ. Namun, hari itu, dengan penuh keterpaksaan, kepala sekolah meminta seluruh guru SMAN 77 untuk tetap masuk meski tak satu pun siswa berada di sekolah. Kepsek menambahkan agar seluruh guru membawa laptop. “Kami mulai rapat dan merumuskan aplikasi apa yang akan digunakan,” terang Sela, panggilan akrabnya, ketika ditemui Medcom.id.

Begitu banyak aplikasi yang mendadak harus dipelajari, mulai Zoom, Google Classroom, hingga Sipintar milik Dinas Pendidikan DKI Jakarta. “Akhirnya, kami mengembangkan LMS (learning management system) yang sekolah punya. E-learning yang sudah sekolah miliki bernama Moodle,” ujar Sela.

Lalu, muncul tantangan berikutnya, yakni mengatasi tak seragamnya daya adaptasi guru dalam menggunakan aplikasi. “Tapi saya salut, semua guru di sekolah ini berusaha keras untuk cepat beradaptasi,” terang Sela.

Untungnya, SMAN 77 terbiasa menggunakan sistem tutor sebaya. Sistem ini digunakan untuk saling menularkan kemahiran. Kepala sekolah kemudian membagi guru ke dalam beberapa kelompok. Setiap guru diminta mengusulkan aplikasi belajar yang ia kuasai. Guru yang sudah mahir diberi kesempatan memberi materi dan melatih sesama guru.

Awal pelaksanaan PJJ diakui Sela ialah yang terberat. Pembelajaran daring yang ideal pun urung terwujud. Guru kala itu masih sebatas mengunggah paparan menggunakan Power Point atau memberi tugas harian. “Karena memang tidak ada yang siap dan belum ada bahan ajar yang kami buat di Youtube,” ucap Sela.

Pekan-pekan awal belajar mengunakan aplikasi pun tak berlangsung mulus. “Banyak siswa bangun kesiangan, jadi kadang guru harus membangunkan. Mulai 05.30 WIB saya sudah ngomel di group Whatsapp,” terang Sela.

Nyaman setelah tiga bulan Di waktu yang sama, Sela dan guru lainnya juga masih harus datang ke sekolah. Proses pelatihan memahirkan berbagai aplikasi belajar masih terus berlangsung. Sebagai guru milenial dan lumayan menguasai teknologi, Sela mendapat tugas membantu guru-guru lain memperlancar cara memasukkan bahan ajar, membuat soal, dan sebagainya.

“Memang sulit, kami lakukan bertahap. Tiga bulan pertama memang ujian terberat bagi guru, sekolah, juga anak-anak,” ujar lulusan Universitas Negeri Jakarta itu.

Kini, saat memulai semester baru, tepatnya Juli 2020, sekolah, guru, siswa, dan orangtua sudah lebih nyaman dengan PJJ. Sela dan guru-guru lain pun sudah mulai bisa berimprovisasi, tak lagi sekadar memberi tugas harian, tetapi juga bagaimana membuat PJJ daring ini tak membuat siswa jenuh atau bahkan depresi. (CitraLarasati/Ilham Pratama/X-11)

Baca Juga

Antara

GeNose akan Dipakai Deteksi Korona di Transportasi Publik

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Minggu 24 Januari 2021, 22:00 WIB
GeNose merupakan alat pendeteksi covid-19 buatan Indonesia, yang diinisiasi oleh tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada...
Ist

480 Paket Bubur Bayi untuk Korban Gempa Sulbar

👤Syarief Oebaidillah 🕔Minggu 24 Januari 2021, 21:12 WIB
Sebanyak 480 paket bubur bayi disalurkan untuk korban gempa bumi di Kabupaten Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), sejak Selasa...
MI/ Bary Fathahilah

Pemaksaan Siswi Berjilbab Akumulasi Pembiaran Kebijakan Intoleran

👤Faustinus Nua 🕔Minggu 24 Januari 2021, 21:10 WIB
Pasalnya, kasus intoleransi di sekolah yang dilakukan secara terstruktur bukanlah kasus...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya