Minggu 15 November 2020, 13:00 WIB

Kitab Tib Beraksara Jawi Ungkap Khazanah Pengobatan Kuno Melayu

Zubaedah Hanum | Humaniora
Kitab Tib Beraksara Jawi Ungkap Khazanah Pengobatan Kuno Melayu

Perpustakaan Negara Malaysia
Kitab Tib

 

SEBELUM ada pengobatan modern, masyarakat di masa lampau memanfaatkan beragam rempah, bumbu dapur, dan tanaman tradisional untuk mengobati penyakit. Resep obatnya pun diberikan turun temurun secara lisan hingga datang era tradisi tulis.

"Dari zaman ke zaman, penduduk kita pasti ada yang sakit, namun selalu ada jalan penyelesaiannya," ujar alumnus Sastra Indonesia dari Universitas Airlangga Dr Junaini Kasdan dikutip dari laman Universitas Airlangga, Minggu (15/11).

Di masa lampau, imbuhnya, resep obat tradisional dalam tradisi lisan dan hanya diwariskan pada orang terpilih. Seiring berjalannya waktu, sampailah pada tradisi tulis.

Ketika era tradisi tulis datang, jelas Junaini, terdapat manuskrip beraksara Jawi yang membahas perobatan tradisional, yakni Kitab Tib. Secara umum, manuskrip itu membahas perihal khazanah pengobatan tradisional Melayu, jenis penyakit, ramuan, dan tatacara pembuatan hingga konsumsi.

“Dengan ilmu filologi kita dapat membaca dan menerjemahkan jenis obat-obatan tradisional dalam Kitab Tib,” ucap Junaini.

Dari hasil penelitian Junaini pada Kitab Tib, ditemukan enam perkara utama yang dibahas. Mulai cara menentukan penyakit, menghindari penyakit, bilangan edaran tahun arab, ilmu siam, obat-obatan, dan hal-hal sejenis.

Selain itu, terdapat 34 jenis penyakit yang dideskripsikan secara teperinci. Seperti sakit mata yang dijelaskan menjadi 12 jenis dengan obat yang berbeda. Menurutnya, aturan pengobatan yang digunakan dokter saat ini juga mirip dengan petuah dalam Kitab Tib.

“Ketika demam kita akan diberikan obat generik, namun dahulu kala orang tua akan memberikan obat dari bumbu dapur yang tidak berefek samping,” ungkapnya.

Dalam Kitab Tib, bebernya, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan untuk obat, yaitu akar, daun, batang, bunga, buah, biji, kulit, dan isi. Sedangkan cara penggunaannya bervariasi, yakni diminum, makan, mandi, kunyah, telan, usap, tempel, sembur, hingga kumur.

Dosen Universitas Kebangsaan Malaysia itu menyampaikan, dari Kitab Tib itu pula diketahui ada beberapa tumbuhan yang beracun juga dimanfaatkan tanpa memakannya. "Yakni, dengan menempel atau mengusap karena racun itu dapat melawan penyakit dari luar," sahutnya.

Kesederhanaan pengobatan tradisional pun terlihat dari cara mengukur dosis obat. Junaini mengungkapkan, dahulu misalnya, pemanfaatan kunyit sebagai obat ukurannya disesuaikan jempol tangan yang mengidap penyakit. Menurutnya, hal itu sebagai batasan atau dosis.

“Bahan tradisional dalam Kitab Tib telah dikaji secara scientific dan sistematik oleh ahli farmasi dan terbukti manfaatnya. Perobatan Melayu masih relevan dengan kehidupan modern karena berasal dari sumber alami,” pungkasnya. (H-2)

 

Baca Juga

Antara

Komisi Kejaksaan Pantau Penyidikan Kasus HAM Paniai

👤Tri Subarkah 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 17:35 WIB
Komisi Kejaksaan berharap penanganan kasus pelanggaran HAM Paniai dapat berjalan baik. Serta, memenuhi rasa keadilan bagi keluarga korban...
MI/Susanto

61,81% Jemaah Haji Indonesia Memiliki Risiko Tinggi

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 16:40 WIB
Menurut PPIH Arab Saudi bidang kesehatan bahwa jemaah haji Indonesia per 25 Juni 2022 yang memiliki risiko tinggi terhadap kesehatan...
MI/Susanto

Jemaah Haji Indonesia yang Wafat Menjadi 12 Orang

👤 M. Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 16:25 WIB
Sementara jemaah haji sakit sebanyak 520 orang, sebanyak 446 orang rawat jalan, 60 orang dirawat di klinik kesehatan haji Indonesia, dan 14...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya