Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menjelaskan sejumlah makna di balik peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Semangat para pemuda pada 1928 harus terus mengakar dan menjadi pelecut dalam memajukan dan membangun bangsa.
"Kewajiban kita adalah menjaga warisan Sumpah Pemuda dan kemerdekaan Indonesia ini dengan melakukan pembangunan, antara lain, dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa (pendidikan) dan memberantas kemiskinan (ekonomi) serta politik kesehatan untuk membangun kesejahteraan umum. Allahu Akbar," tegas Mahfud dalam akun media sosialnya, @mohmahfudmd, Rabu (28/10).
Menurut dia, generasi muda merupakan tulang punggung dalam berbagai hal, mulai perjuangan atas kolonial hingga menguasai ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Maka, peran generasi muda tidak boleh padam namun sebaliknya terus menjadi motor penggerak pembangunan.
Baca juga: Kowani : Sumpah Pemuda juga Momen Perjuangan Perempuan
Ia pun menyampaikan peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-92, 1928-2020, harus diresapi semua pihak. Pasalnya, capaian yang bernilai paling tinggi dari pejuangan bangsa Indonesia adalah sumpah dan tekad untuk bersatu dalam keberagaman yang kemudian dijalin dalam dasar dan ideologi negara, Pancasila.
Setelah 92 tahun pemuda Indonesia bersumpah dampak yang muncul sangat terasa hingga kini.
"Kita mengalami banyak kemajuan dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Salah satu tugas berat kita adalah menegakkan hukum dan keadilan yang harus diakui masih terseok," ujarnya.
Ia menjelaskan buah dari tekad dan komitmen para pemuda pada 1928 yang dilengkapi kemerdekaan telah mampu menumbuhkan angka kesejahteraan. Tongkat estafet kepemimpinan bangsa dapat menekan angka kemiskinan.
"Dengan segala kekurangannya kita terus berhasil menurunkan angka kemiskinan. Pada masa kolonial hampir 100% kita miskin, akhir pemerintahan Bung Karno berkurang menjadi sekitar 54%, akhir Orde Baru menjadi 18%, era reformasi akhir pemerintahan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) menjadi 10,8% dan akhir periode I Jokowi menjadi 9,1%," pungkasnya. (OL-1)
SETIAP 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berikrar untuk bersatu: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, Indonesia.
Dulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing dan pena, kini perjuangan itu menuntut transformasi ekonomi, kemandirian finansial, dan keadilan sosial.
Menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini menjadi langkah penting dalam membangun generasi muda yang peduli dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan kembali pentingnya pemulihan kawasan Puncak sebagai hulu DAS Ciliwung yang menopang kehidupan di wilayah hilir.
Momentum ini menjadi titik temu antara penegakan hukum, pelestarian lingkungan, tanpa melupakan sisi anugerah alam yang bisa dijadikan sumber mata pencaharian masyarakat.
Dalam sejarah, Sumpah Pemuda 1928 dapat dibaca sebagai upaya membangun imajinasi kolektif di bawah kondisi keterpecahan dan penindasan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved