Jumat 09 Oktober 2020, 12:00 WIB

Medan Kota Kelahiran Preman

Micom | Humaniora
Medan Kota Kelahiran Preman

MI
.

 

PREMAN berasal dari bahasa Belanda vrije man atau vrijeman atau dalam bahasa free man dalam Bahasa Inggris. Istilah vrije man lahir dari dunia perkebunan di Sumatra Timur. Istilah ini melekat pada kaum lelaki yang menolak bekerja dalam ikatan kontrak di perkebunan Belanda. Kata tersebut merujuk pada lelaki bebas yang enggan diatur-atur.

Vrije secara harfiah berarti bebas. Orang Indonesia seringkali menyebut kata prei yang sesungguhnya berasal dari kata vrije itu. Prei bermakna bebas, libur, atau gratis. Prei sering juga dibaca pre. Konon, kata preman muncul karena mereka sering mendapat makan-minum secara gratis dari rakyat. Dari situ kabarnya kata preman merupakan kependekan dari “prei makan-minum.”

Baca juga: Medan Parisj van Sumatra

Preman di perkebunan Sumatra Timur awal abad ke-20, tampil sebagai pembela kuli kontrak asal Jawa, Tiongkok, dan India yang mendapat perlakuan kasar dari mandor atas perintah tuan kebun. Mereka menebar keresahan dengan merusak tanaman di perkebunan, menenggak minuman keras sampai mabuk, dan memancing keributan.

Itu semua mereka lakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap tuan kebun dan pembelaan terhadap kuli kontrak. Sebagai balas jasa, para vrije man ini digratiskan mengambil makanan dan minuman di warung.

Akan tetapi, ada pendapat lain tentang makna vrijeman. Menurut Loren Ryter pada awal abad ke-20 di Deli bahwa vrijeman tidak mengacu kuli yang dibebaskan, tetapi lebih mengacu kepada pengawas nonkontrak atau kuli harian. Itu artinya vrijeman masih bekerja di perkebunan, meski tidak terikat secara legal.

Baca juga: Asal Muasal Nama Medan

Dalam satu kasus kriminal yang terjadi pada 1926, mandor menghukum para kuli dengan memaksa mereka memakan kotoran, dan mandor itu disebut vrijeman. Ryter menyebut para preman terlibat dalam pertarungan fisik antara agen-agen pemilik perkebunan dan kuli kontrak Jawa serta Tionghoa. Intinya, para preman kala itu ialah pembuat onar di perkebunan.

Dengan demikian, preman paling tidak mengandung tiga makna. Pertama, preman dalam makna positifnya ialah pembela rakyat dan kuli dari kekejaman perusahaan atau penguasa perkebunan. Preman dalam makna ini serupa Robin Hood di Inggris atau Si Pitung di Betawi. Kedua, preman dalam makna netralnya ialah orang bebas, bukan buruh perkebunan. Ketiga, dalam makna negatifnya, preman ialah pembuat onar di perkebunan.

Itu merupakan nukilan buku Medan: Pasang Surut Peradaban Kota Perkebunan, karya terbaru Ketua Dewan Redaksi Media Group Usman Kansong.

Saksikan pembahasannya pada program Dialektika dengan tajuk Peluncuran dan bedah buku Medan, Pasang Surut Peradaban Kota Perkebunan, pada hari ini (Jumat, 9/10) dari pukul 14.00-16.00 WIB.

Acara yang dipandu presenter Metro TV Yohana Margaretha itu menghadirkan Usman Kansong (penulis buku), Muryanto Amin (Dekan FISIP Universitas Sumatra Utara) dan Mohammad Abdul Gani (Dirut PTPN Holding dan penulis buku Jejak Planters di Tanah Deli)

Acara dapat diikuti melalui live streaming:
1. Youtube Media Indonesia
2. Facebook Media Indonesia
3. IG Media Indonesia
4. Website Media Indonesia

Baca Juga

Dok MI

8 Rekomendasi Tempat Wisata di Kaohsiung yang Wajib Dikunjungi

👤Meilani Teniwut 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 23:49 WIB
Kaohsiung juga memiliki objek wisata yang menarik untuk dikunjungi mulai dari Pier 2 Art Center, Cijin Island atau Pulau Cijin hingga...
Antara

40 Juta Masyarakat Sudah Terima Booster

👤Ant 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 23:14 WIB
Sebanyak 1.699.504 tenaga kesehatan (nakes) rampung menerima vaksin...
MI/Haryanto Mega

MPR Ingatkan Upaya Memperjuangkan Hak-Hak Masyarakat Adat Harus Konsisten

👤Putra Ananda 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 23:05 WIB
PERJUANGAN untuk meningkatkan kesadaran dan melindungi hak-hak masyarakat adat perlu didukung dengan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya