Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KEGADUHAN yang muncul dari potensi gempa kuat yang memunculkan tsunami di selatan Pulau Jawa dari hasil kajian peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) seharusnya segera disikapi dengan audit analisis risiko tata ruang, khususnya di wilayah pantai.
Hal itu ditegaskan oleh Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto. Ia mengatakan aspek penting pertama yang harus dikelola adalah tata ruang wilayah pantai seperti sepadan pantainya dipatuhi.
"Jika aturan sempadan pantai dipatuhi, maka seharusnya tidak perlu jatuh korban jiwa atau setidaknya korban jiwa dan kerugiannya akan bisa diminimalkan," kata Eko ketika dihubungi Media Indonesia, Senin (28/9).
Hal itu, menurut Eko dapat dilihat dari kasus tsunami selat Sunda 2018 dan Palu 2018. Kedua tsunami ini terhitung tsunami kecil yang inundasi atau jarak maksimum air yang sampai ke daratan akibat penjalaran gelombang tsunami hanya mencapai sekitar 200 meter dari garis pantai.
"Melakukan analisis risiko tsunami secara mendetil menjadi salah satu kunci yang perlu dilakukan untuk digunakan sebagai dasar dalam manajemen tata ruang wilayah pantai, " lanjutnya.
Ia mengatakan hal ini menjadi penting, meskipun seringkali diklaim bahwa peta risiko tsunami itu sudah ada tapi baik kualitas data maupun skala petanya sangat tidak memadai untuk digunakan sebagai basis bagi mitigasi risiko tsunami secara umum maupun basis tata ruang secara khusus.
Belajar dari Jepang
Dalam hal tata ruang wilayah pantai ini, kata Eko, Indonesia bisa belajar dari yang dilakukan oleh Jepang yang dilanda tsunami pada 2011 lalu. Setelah kejadian itu, wilayah- wilayah yang terlanda tsunami Risiko tidak boleh dihuni lagi atau boleh dihuni dengan persyaratan sangat ketat.
"Strategi ini akan sangat baik jika kita adopsi tentunya setelah mempertimbangkan faktor-faktor lokal," tandasnya.
Eko juga menyebut, shelter/tempat evakuasi juga penting mengingat golden time yaitu selisih waktu antara gempa hingga tsunami mencapai daratan di wilayah Indonesia relatif pendek atau kebanyakan kurang dari 10 menit.
"Sementara tsunami bisa terjadi dalam kondisi terburuk misalnya malam hari, hujan dalam kepadatan lalin orang yang mengevakuasi diri maka menyediakan shelter/tempat evakuasi sementara tsunami menjadi penting," kata Eko.
Ia menambahkan shelter ini tidak harus dibangun secara khusus namun bisa dengan memfungsigandakan bangunan-bangunan yang sudah ada jika kondisi darurat terjadi. Tentunya bangunan-bangunan yang ditetapkan sebagai shelter pada saat kondisi darurat juga sudah diuji kelayakan dan kekuatan bangunannya.
Pemerintah pun, katanya, harus menanamkan kesadaran dan pengetahuan pentingnya evakuasi mandiri kepada masyarakat, sehingga guncangan gempa (khususnya gempa yang kuat guncangannya dan atau gempa yang lama guncangannya) menjadi peringatan dini dan tanpa harus bergantung pada sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS).
Hal ini menurutnya dikarena berbagai hal dapat mengganggu efektivitas InaTEWS. Misalnya, guncangan gempa boleh jadi merusak berbagai sarpras InaTEWS termasuk pasokan listrik sehingga InaTEWS menjadi tidak berfungsi. "Bencana sangat erat kaitannya dengan attitude/perilaku manusia. Teknologi/Sistem Peringatan Dini hanyalah alat bantu yang tidak terlalu membantu jika perilaku manusianya tidak bisa tertib dan semaunya sendiri," pungkasnya. (H-2)
Wilayah Laut Banda, Maluku diguncang gempa tektonik pada pukul 10.05 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan adanya kemungkinan terjadinya tsunami danau di kawasan Danau Maninjau.
BMKG menyatakan gempa bumi magnitudo 4,7 yang berpusat di Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat, tidak berpotensi tsunami.
Bencana dahsyat tsunami 26 Desember 2004 silam mengajarkan para penakluk Samudera itu untuk lebih kuat, sabar dan teguh seperti karang dihempas gelombang.
BMKG melaporkan gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah Pantai Selatan Bengkulu Utara, Bengkulu, pada Sabtu (27/12).
Peneliti mendeteksi sinyal seismik aneh akibat proses beku-cair batuan di Alaska. Penemuan ini menjadi kunci peringatan dini potensi tsunami dahsyat.
Peralatan pemantau aktivitas Gunung Merapi mencatat lonjakan kegempaan selama periode Jumat (9/1) hingga Kamis (15/1), dengan total 1.277 kejadian gempa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,5 mengguncang wilayah Ambon dan sekitarnya di Provinsi Maluku pada Sabtu.
BMKG menjelaskan bahwa gempa bumi tektonik M6,4 (update) yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Taluad, Sulut merupakan akibat dari deformasi batuan Lempeng Maluku
GEMPA bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,1 terjadi di Melonguane, Sulawesi Utara (Sulut).
Gempa dangkal magnitudo 4,5 mengguncang Kuta Selatan, Bali. BBMKG menyebut gempa dipicu sesar aktif dasar laut dan tidak berpotensi tsunami.
Sepanjang periode waktu tersebut tidak ada kejadian gempa bumi yang dirasakan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved