Selasa 28 Juli 2020, 13:45 WIB

Pancasila Pilihan Terbaik dan Final bagi NU dan Muhammadiyah

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Pancasila Pilihan Terbaik dan Final bagi NU dan Muhammadiyah

Antara/Ahmad Subaidi
TOLAK RUU HIP: Sejumlah pengunjukrasa memajang poster saat mengikuti aksi penolakan terkait RUU HIP di NTB.

 

PANDEMI covid-19 tak menghentikan Universitas Indonesia (UI) menggelar sidang terbuka Promosi Doktor Ilmu Komunikasi dengan promovendus atas nama Said Romadlan. Sidang digelar secara daring di Aula Juwono Sudarsono (AJS) Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( FISIP) UI Depok, Jawa Barat, Senin. (27/7)

Said menyampaikan penelitian disertasinya yang berjudul "Diskursus Gerakan Radikalisme dalam Organisasi Islam (Studi Hermeneutika pada Organisasi Islam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama tentang Dasar Negara, Jihad, dan Toleransi)". Adapun Tim promotor terdiri Prof. Dr. Ibnu Hamad, M.Si (Promotor) dan Prof Effendi Gazali, Ph.D (Kopromotor).

Said yang juga dosen Universitas Prof Dr.Hamka (Uhamka )Jakarta ini menjalani sidang terbuka dan dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Dalam kesimpulan hasil penelitiannya, Said mmenguraikan, bagi organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), Pancasila merupakan pilihan final dan terbaik. Menurutnya, Pancasila merupakan hasil perjanjian seluruh elemen bangsa.
 
Dalam pemahaman Muhammadiyah, Pancasila adalah <i>darul ahdi wa syahadah<p> (Negara Konsensus dan Kesaksian). Sedangkan NU memahami Pancasila sebagai <i>mu’ahadah wathaniyah<p> (Kesepakatan Kebangsaan).

"Peneguhan sikap Muhammadiyah dan NU mengenai Pancasila tersebut sekaligus menjadi kritik dan perlawanan atas upaya-upaya kelompok tertentu untuk mengganti dan mengubah Pancasila sebagai ideologi bangsa," ujar Said usai sidang tersebut.

Said menggunakan metode penelitian analisis isi hermeneutika. Ia menjelaskan, pemahaman dan sikap Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) atas Pancasila sebagai pilihan terbaik dan final merupakan hasil penafsiran ayat Alquran dan refleksi kedua organisasi Islam terbesar Indonesia tersebut atas Pancasila.

Muhammadiyah merujuk pada Alquran, surat Saba’ ayat 15 <i>baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur<p> yang artinya: sebuah negeri yang baik
dan berada dalam ampunan Allah SWT. Kalimat tersebut oleh Muhammadiyah ditafsirkan sebagai Negara Pancasila.
Sedangkan NU mengacu pada Alquran, Surat al-Baqarah ayat 30: <i>khalifah fil ardhi<p>. Khalifah ditafsirkan NU sebagai
melaksanakan amanat Allah melalui NKRI dan Pancasila.

"Pancasila sebagai pilihan terbaik dalam pandangan Muhammadiyah dan NU bukanlah pandangan politik yang didasarkan atas kepentingan pragmatis dan jangka pendek," ujar Said.

Pandangan kedua organisasi Islam moderat ini dihasilkan melalui proses refleksi dan dialektika keduanya atas sejarah lahirnya Pancasila di mana tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU terlibat langsung dalam proses lahirnya Pancasila sebagai dasar negara.

Selain itu, imbuh Said, secara kontekstual peneguhan sikap Muhammadiyah dan NU atas Pancasila juga merupakan perlawanan kedua organisasi Islam ini terhadap upaya-upaya kelompok-kelompok tertentu yang hendak mengganti dan mengubah Pancasila.

Selain meneguhkan pandangan dan sikap tentang Pancasila sebagai pilihan terbaik dan final, dalam disertasinya diuraikan pula mengenai pandangan Muhammadiyah dan NU mengenai jihad dan toleransi terhadap non-muslim. Dalam pandangan Muhammadiyah dan NU jihad bukanlah diwujudkan dalam bentuk kekerasan, apalagi terorisme.

Bagi Muhammadiyah jihad adalah <i>jihad lil-muwajahah<p>, yakni bersungguh-sungguh menciptakan sesuatu yang unggul dan kompetitif. Sedangkan bagi NU jihad adalah sebagai <i>mabadi’ khaira ummah<p>, yaitu bersungguh-sungguh mengutamakan kemaslahatan umat.

"Muhammadiyah dan NU sejak awal dikenal sebagai organisasi Islam yang toleran terhadap non-muslim. Bagi Muhammadiyah toleransi terhadap non-muslim sebagai ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan), sedangkan bagi NU adalah sebagai ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan),” ujar Said menjelaskan perihal toleransi terhadap non-muslim.

Dalam disertasinya, Said menulis pentingnya peran Muhammadiyah dan NU sebagai kekuatan civil Islam untuk melakukan gerakan penyadaran dan perlawanan terhadap gerakan radikalisme yang dianggap antidemokrasi dan menyimpang dari ajaran Islam sebagai agama <i>rahmatan lil-alamin.<p>

"Salah satu bentuk penyadaran dan perlawanan terhadap gerakan radikalisme adalah dengan terus menciptakan narasi-narasi sebagai kontra-diskursus atas pemahaman kelompok-kelompok Islam radikal mengenai isu-isu radikalisme yang selama ini dominan dan dianggap benar adanya, yang disuarakan melalui media-media resmi organisasi, lembaga pendidikan, dan pengajian-pengajian," pungkas Said.(H-1)

Baca Juga

Antara

Kemkes Percepat Vaksinasi Booster di Jabodetabek Antisipasi Lonjakan Omikron

👤Ant 🕔Minggu 16 Januari 2022, 23:54 WIB
Menkes menuturkan sebagian besar atau lebih dari 90 persen transmisi lokal varian omikron akan terjadi di...
Antara

174 Bencana Melanda Indonesia Sepanjang 2022

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Minggu 16 Januari 2022, 23:10 WIB
Bencana terbanyak, yakni banjir dengan 90 kejadian, cuaca ekstrem dengan 55...
MI/ Lina Herlina

119,7 Juta Orang Telah Divaksinasi Lengkap

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Minggu 16 Januari 2022, 23:05 WIB
Indonesia menargetkan 208,2 juta penduduk menerima vaksin...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya