Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

POP Diurus Sesukanya, Muhammadiyah Kukuh Mundur

Syarief Oebaidillah
26/7/2020 22:10
POP Diurus Sesukanya, Muhammadiyah Kukuh Mundur
Logo PP Muhammadiyah(Istimewa)

MAJELIS Pendidikan Dasar dan Menengah ( Dikdasmen) PP Muhammadiyah menegaskan tetap memilih mundur dari Program Organisasi Penggerak (POP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Alasannya karena prinsip transparansi yang diabaikan.

"Ya...Muhammadiyah tetap mundur," tegas Kasiyarno, Ketua Majelis Dikdasmen bidang Kerjasama PP Muhammadiyah menjawab singkat mediaindonesia.com, Minggu sore (26/7).

Ia menegaskan hal tersebut terkait kesedian Mendikbud Nadiem Makarim untuk mengevaluasi POP pasca mundurnya Muhammadiyah, LP Maarif NU dan PGRI yang memilih mundur dari POP tersebut.

Sikap kukuh mundur dari POP ini juga sejalan dengan pernyataan Kepala LP Maarif NU KH Arifin Junaidi, pada konfrensi daring Sabtu (25/7).

Kasiyarno tidak menjawab apakah Kemendikbud telah melakukan komunikasi kembali dengan Muhammadiyah.

Seperti diberitakan sebelumnya, Majelis Dikdasmen Muhammadiyah mempertanyakan kredibilitas organisasi penggerak yang lolos dalam proses verifikasi. Sebab dari 183 proposal yang lolos verifikasi, ternyata terdapat sejumlah organisasi yang programnya dinilai kurang handal dan bukan program yang diperlukan.

“Ternyata ada program yang kami nilai tidak handal dan kurang diperlukan, lolos dalam proses verifikasi tersebut, ada beberapa. Program tersebut lebih mirip paper saja. Padahal syaratnya kan program sudah 3 tahun dilaksanakan,” kata Kasiyarno, pada keterangan persnya, Rabu (22/7).

Muhammadiyah juga menerima informasi dari daerah terkait banyaknya organisasi yang sebenarnya tidak memenuhi syarat, ternyata lolos POP. Organisasi tersebut tidak memiliki kantor yang jelas, tidak memiliki staf, tidak ada bukti laporan keuangan dan tidak memiliki badan hukum. Dengan kenyataan tersebut, Muhammadiyah mempertanyakan apakah mungkin organisasi penggerak yang terpilih itu dapat melaksanakan program yang cakupannya besar dan bersifat nasional.

“Ada organisasi besar, CSR perusahaan, ada juga lembaga yang dipilih karena kedekatan dengan pejabat di dalam, kita pertanyakan apakah proses ini transparan, bisa dipercaya,” tandas Kasiyarno seraya mengingatkan  Muhammadiyah khawatir program yang bagus dengan anggaran yang besar seperti sekarang ini, dikerjakan oleh orang yang tidak kompeten.

“Jika kita serius, lalu ada organisasi yang tidak kompeten, tidak serius, ikut juga dalam program ini. Pasti masyarakat akan menilai hasilnya secara keseluruhan. Muhammadiyah tidak mau ikutan menjadi sorotan masyarakat jika nanti hasilnya tidak sesuai harapan,” tukasnya..

Kendati keluar dari program organisasi penggerak, Muhammadiyah akan tetap melakukan kegiatan yang sama tanpa harus menggunakan dana dari pemerintah.

Baca Juga: Usai Mundur dari POP, LP Ma'arif NU Dihubungi Menteri Nadiem

Seperti diketahui,pemberitahuan hasil evaluasi proposal POP dikirimkan oleh Kemendikbud per 17 Juli 2020. Dalam surat bernomor 231/B.B2/GT/2020 disebutkan sebanyak 324 proposal dari 260 ormas yang dinyatakan lolos evaluasi administrasi kemudian dilanjutkan ke proses evaluasi tehnis substantive. Setelah dilakukan evaluasi teknis, dari 324 proposal sebanyak 231 proposal yang diajukan 188 ormas dinyatakan lolos evaluasi teknis substantive untuk dilanjutkan ke proses verifikasi. Dari 231 proposal yang diverifikasi, sejumlah 183 proposal dari 156 ormas dinyatakan lolos verifikasi. (OL-13)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Muhamad Fauzi
Berita Lainnya