Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadan dengan cerdas dan tasamuh. Ia menyampaikan bahwa perbedaan awal puasa kemungkinan tetap terjadi selama umat Islam belum memiliki kalender tunggal global.
“Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” kata Haedar dalam keterangannya kepada Media Indonesia, Selasa (17/2/2026).
Ia menuturkan bahwa puasa pada hakikatnya bertujuan meningkatkan takwa, baik secara personal maupun kolektif. Karena itu, fokus utama umat seharusnya pada substansi ibadah agar benar-benar mencapai ketakwaan melalui pelaksanaan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya serta menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.
Menurutnya, peningkatan ketakwaan akan berdampak langsung pada kualitas relasi sosial. Ia menilai berbagai persoalan tidak seharusnya mengganggu tujuan utama ibadah, sebab dengan kecerdasan dan keimanan, umat dapat meraih derajat kemuliaan yang lebih tinggi.
Haedar juga berharap Ramadan dapat dijalankan dengan tenang, damai, dan matang tanpa terganggu perbedaan penetapan awal puasa. “Dalam konteks yang lebih luas, Ramadhan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” pesannya.
Perbaikan Akhlak Pribadi dan Sosial
Ia menjelaskan puasa diharapkan mampu menjaga sekaligus memperbaiki akhlak pribadi dan publik seorang muslim. Ibadah ini, ujarnya, merupakan sarana pembentukan karakter agar umat mampu menjadi komunitas terbaik.
Ia menilai jika umat tidak mengalami peningkatan kualitas, maka upaya meraih kejayaan, martabat, dan kemajuan peradaban akan sulit tercapai. Karena itu, ia mengingatkan agar umat tidak bersikap fatalistis, terutama dalam bidang ekonomi yang masih menuntut kerja keras untuk mencapai kemajuan setara dengan peradaban lain.
“Meraih kualitas hidup umat Islam terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup untuk bisa hemat, dan lain sebagainya. Dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi,” tuturnya.
Puasa sebagai Perekat Sosial
Haedar menekankan dimensi sosial Ramadan sebagai sarana memperkuat persatuan. “Dalam konteks sosial yang lebih luas, umat Islam harus jadi perekat sosial. Puasa itu melatih kita untuk tahan diri, hatta di saat ada pihak yang mengajak kita berkonflik atau bertengkar,” ungkapnya.
Ia mengingatkan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan dorongan emosi yang dapat merusak harmoni sosial. Menurutnya, di tengah arus media sosial yang kerap memicu kemarahan dan perselisihan, puasa seharusnya menjadi pengendali diri.
“Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita,” katanya.
Ia menambahkan bahwa muslim yang berpuasa perlu menempatkan diri sebagai agen perdamaian dan teladan di masyarakat. “Takwa itu juga puncaknya adalah perbaikan martabat hidup tertinggi, maka umat Islam harus menjadi umat yang maju dalam berbagai kehidupan, baik spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik dan berbagai aspek yang lain menuju peradaban utama,” pungkasnya. (Bay/I-1)
LEMBAGA Amil Zakat, Infaq, dan Sadaqah Muhammadiyah (Lazismu) tingkat pusat secara resmi melakukan pentasarufan (penyaluran) dana kepada Majelis, Lembaga, dan Organisasi Otonom.
PIMPINAN Pusat Muhammadiyah menyampaikan tujuh poin sikap Muhammadiyah mencermati perkembangan Kawasan Timur Tengah akhir-akhir ini, salah satunya mengecam serangan AS ke Iran
Membaca Al-Quran akan memberikan pengaruh spiritual lebih dalam apabila dilakukan dengan tartil, sesuai perintah dalam Al-Muzammil ayat 4.
Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah secara individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dalam memperkuat kerukunan dan persatuan.
Saat ini setiap tahunnya hanya sekitar 1 juta dari 9 juta lebih siswa SMA yang lulus berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Sekjen PSI sekaligus Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan ajaran Islam memiliki landasan teologis kuat untuk menjaga lingkungan dan hutan dalam perspektif ekoteologi.
Kemenag prediksi awal Ramadan 1447 H jatuh 19 Februari 2026 berdasarkan hisab dan rukyat, menghormati penetapan Muhammadiyah 18 Februari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved