Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Haedar Nashir Ajak Umat Sikapi Perbedaan Awal Puasa dengan Cerdas dan Tasamuh

Syarief Oebaidillah
17/2/2026 16:48
Haedar Nashir Ajak Umat Sikapi Perbedaan Awal Puasa dengan Cerdas dan Tasamuh
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.(Antara)

KETUA Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadan dengan cerdas dan tasamuh. Ia menyampaikan bahwa perbedaan awal puasa kemungkinan tetap terjadi selama umat Islam belum memiliki kalender tunggal global.

“Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” kata Haedar dalam keterangannya kepada Media Indonesia, Selasa (17/2/2026).

Ia menuturkan bahwa puasa pada hakikatnya bertujuan meningkatkan takwa, baik secara personal maupun kolektif. Karena itu, fokus utama umat seharusnya pada substansi ibadah agar benar-benar mencapai ketakwaan melalui pelaksanaan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya serta menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.

Menurutnya, peningkatan ketakwaan akan berdampak langsung pada kualitas relasi sosial. Ia menilai berbagai persoalan tidak seharusnya mengganggu tujuan utama ibadah, sebab dengan kecerdasan dan keimanan, umat dapat meraih derajat kemuliaan yang lebih tinggi.

Haedar juga berharap Ramadan dapat dijalankan dengan tenang, damai, dan matang tanpa terganggu perbedaan penetapan awal puasa. “Dalam konteks yang lebih luas, Ramadhan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” pesannya.

Perbaikan Akhlak Pribadi dan Sosial

Ia menjelaskan puasa diharapkan mampu menjaga sekaligus memperbaiki akhlak pribadi dan publik seorang muslim. Ibadah ini, ujarnya, merupakan sarana pembentukan karakter agar umat mampu menjadi komunitas terbaik.

Ia menilai jika umat tidak mengalami peningkatan kualitas, maka upaya meraih kejayaan, martabat, dan kemajuan peradaban akan sulit tercapai. Karena itu, ia mengingatkan agar umat tidak bersikap fatalistis, terutama dalam bidang ekonomi yang masih menuntut kerja keras untuk mencapai kemajuan setara dengan peradaban lain.

“Meraih kualitas hidup umat Islam terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup untuk bisa hemat, dan lain sebagainya. Dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi,” tuturnya.

Puasa sebagai Perekat Sosial

Haedar menekankan dimensi sosial Ramadan sebagai sarana memperkuat persatuan. “Dalam konteks sosial yang lebih luas, umat Islam harus jadi perekat sosial. Puasa itu melatih kita untuk tahan diri, hatta di saat ada pihak yang mengajak kita berkonflik atau bertengkar,” ungkapnya.

Ia mengingatkan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan dorongan emosi yang dapat merusak harmoni sosial. Menurutnya, di tengah arus media sosial yang kerap memicu kemarahan dan perselisihan, puasa seharusnya menjadi pengendali diri.

“Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita,” katanya.

Ia menambahkan bahwa muslim yang berpuasa perlu menempatkan diri sebagai agen perdamaian dan teladan di masyarakat. “Takwa itu juga puncaknya adalah perbaikan martabat hidup tertinggi, maka umat Islam harus menjadi umat yang maju dalam berbagai kehidupan, baik spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik dan berbagai aspek yang lain menuju peradaban utama,” pungkasnya. (Bay/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik