Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
PUSAT Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis temuan terbaru Laporan Survei Nasional Muhammadiyah di Mata Anak Muda. Survei terhadap 758 pemuda usia 17-40 tahun mengungkap Sekolah/Kampus Berkualitas (44,1%) dan Organisasi Modern & Rasional (42,3%) menjadi top of mind utama saat mendengar kata Muhammadiyah.
Kepala PSKP UAD, Azaki Khoirudin, menjelaskan isu ritual seperti Puasa/Lebaran Duluan (17,1%) atau Terawih 11 Rakaat (3,5%) justru jauh di bawah citra pendidikan dan kemandirian ekonomi. "Survei membuktikan era perdebatan ritual sudah usai bagi anak muda. Yang terbayang di benak 44% responden bukan perbedaan Lebaran atau rakaat terawih, melainkan kualitas sekolah dan kampus Muhammadiyah," tegas Azaki.
Data juga menunjukkan apresiasi tinggi terhadap amal usaha, temuan data menunjukkan hasil persentase pilihan lain, seperti Organisasi yang Kaya (21,4%), rumah sakit berkualitas (21,8%), dan Amal Usaha Mandiri (18,8%). Responden melihat Muhammadiyah sebagai social enterprise raksasa dengan ekosistem kelembagaan kuat, bukan hanya organisasi keagamaan.
Menariknya, perbandingan Gen Z dan Milenial menunjukkan perbedaan pola pikir. Milenial lebih dominan mengaitkan Muhammadiyah dengan amal usaha seperti sekolah dan kampus (54,1%), sementara Gen Z banyak mengaitkan pada sisi Modern dan Rasional (24,2%). "Jika Milenial mengenal Muhammadiyah lewat gedung kampusnya, Gen Z justru kagum pada logika beragamanya yang fleksibel dan modern," tambah Azaki.
"Gen Z yang kritis menghargai cara berpikir Muhammadiyah yang logis dan tidak kolot. Data ini juga menjadi tanda Muhammadiyah memenangkan pasar ide di kalangan generasi digital," pungkas Azaki. (RO/I-2)
Abdul Mu'ti mengimbau masyarakat untuk tidak menjadikan disparitas pandangan sebagai sumber konflik, melainkan sebagai arena berlomba dalam kebaikan.
KETUA PP Muhammadiyah sekaligus pengamat pendidikan dan sosial, Anwar Abbas, mengatakan bahwa proses belajar-mengajar memang sebaiknya dilaksanakan secara tatap muka.
Salah satu hal yang paling mendesak untuk ditinjau ulang ialah penggunaan diksi dalam teks akad.
Ketum Muhammadiyah Haedar Nashir minta masyarakat tak persoalkan perbedaan Idul fitri 1447 H. Ia dorong kalender global tunggal sebagai solusi masa depan.
Dalam khutbah Idulfitri 1447 H di UMY, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan ibadah Ramadan harus melahirkan perubahan perilaku nyata.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved