Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Syawalan Muhammadiyah Sulsel, Mendikdasmen Serukan Tiga Kunci Persatuan di Tengah Perbedaan

Lina Herlina
29/3/2026 21:00
Syawalan Muhammadiyah Sulsel, Mendikdasmen Serukan Tiga Kunci Persatuan di Tengah Perbedaan
Ilustrasi(Dok Istimewa)

RIBUAN warga Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan memadati Halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel dalam agenda Syawalan 1447 Hijriah, Sabtu (28/3). 

Momentum silaturahmi pasca-Lebaran itu menjadi panggung utama bagi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, untuk menyampaikan pesan strategis tentang pengelolaan keragaman umat.

Hadir dalam forum tersebut jajaran pimpinan persyarikatan dan kepala daerah, antara lain Ketua PP Muhammadiyah Irwan Akib, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Ketua PWM Sulsel Ambo Asse, serta sejumlah bupati dan wali kota se-Sulawesi Selatan. 

Acara juga diikuti pimpinan 'Aisyiyah, organisasi otonom, pimpinan amal usaha Muhammadiyah, hingga para rektor perguruan tinggi Muhammadiyah.

Di hadapan audiens yang memenuhi lokasi acara, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa perbedaan merupakan sunatullah yang tak terelakkan. Ia mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan disparitas pandangan sebagai sumber konflik, melainkan sebagai arena berlomba dalam kebaikan.

"Muhammadiyah punya manhaj, NU juga punya manhaj, Al Khairat dan organisasi lain punya manhaj, dan itu tidak bisa dihindari. Kalau Allah menghendaki, kamu dijadikan umat yang seragam. Tetapi Allah hendak menguji kamu dengan apa yang telah diberikan. Karena itu jalan keluarnya adalah fastabiqul khairat, berlomba-lombalah kamu untuk menjadi yang terbaik," ujar Mu'ti.

Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu juga mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam perdebatan produktif seputar klaim kebenaran tunggal. "Nggak usah ngotot siapa yang paling benar, nggak usah ngotot siapa yang masuk surga," tegasnya.

Mu'ti memaparkan tiga kunci utama menjaga keutuhan umat di tengah heterogenitas. Pertama, menghindari sikap elitis dengan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. 

Kedua, membersihkan pikiran dari prasangka buruk dan tidak menyibukkan diri mencari kesalahan orang lain. Ketiga, menghidupkan silaturahim yang substantif.

"Kita bisa bersatu kalau kita tidak menempatkan diri kita lebih tinggi dari yang lain. Kita bangun pikiran yang bersih, kita bangun pikiran yang jernih. Sebab kalau kita selalu suudzon kepada orang lain, nanti peningkatannya pada sikap hasad, iri, dengki," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menyerahkan hibah senilai Rp800 juta secara simbolis kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan persyarikatan di provinsi tersebut.

Ketua Panitia sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Abd Rakhim Nanda, menegaskan bahwa Syawalan kali ini bukan sekadar agenda rutin tahunan. "Kehadiran bapak-bapak dan ibu-ibu tentu akan memberi nilai sangat berarti. Saya gunakan kesempatan ini untuk menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh hadirin atas kehadiran kita bersama untuk bersilaturahim di forum ini," ujarnya.

Mu'ti menambahkan bahwa kegiatan seperti Syawalan merupakan bentuk vernakularisasi nilai-nilai Islam yang tumbuh dalam masyarakat Indonesia. 

"Forum silaturahim seperti ini adalah tradisi. Saya katakan tradisi karena memang tidak ada pada zaman Nabi. Namun tradisi itu tidak bertentangan dengan Islam. Vernakularisasi adalah proses bagaimana nilai-nilai Islam diterima oleh masyarakat yang berbeda-beda. Ekspresinya bisa sama, ekspresinya bisa beda, tapi nilai dasarnya tetap Islam," pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya