Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Muhammadiyah: Ramadan Harus Jadi Perekat Sosial dan Perbaikan Akhlak

Ficky Ramadhan
17/2/2026 15:33
Muhammadiyah: Ramadan Harus Jadi Perekat Sosial dan Perbaikan Akhlak
Ilustrasi(Xinhua)

UMAT Islam di berbagai belahan dunia bersiap menyambut puasa Ramadan 1447 H. Namun, perbedaan penetapan awal Ramadan di Indonesia maupun negara lain diperkirakan masih akan terjadi, terutama karena belum adanya kalender Islam tunggal yang disepakati bersama.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir meminta umat Islam menyikapi perbedaan tersebut dengan kecerdasan dan sikap tasamuh.

"Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri," kata Haedar, Selasa (17/2).

Menurutnya, perbedaan harus dihadapi secara arif dan bijaksana. Ia menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah meningkatkan ketakwaan, baik secara pribadi maupun kolektif. Karena itu, umat diminta memfokuskan diri pada substansi puasa, yakni menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.

Haedar berharap peningkatan ketakwaan juga berdampak pada relasi sosial kemasyarakatan yang semakin harmonis, sekaligus menebarkan kebaikan bagi sesama dan lingkungan. Ia menekankan agar berbagai persoalan tidak mengganggu tujuan utama puasa, yaitu meraih ketakwaan dan kemuliaan hidup.

Ia juga berpesan agar Ramadan dijalani dengan tenang, damai, dan penuh kematangan tanpa terganggu hiruk pikuk kehidupan, termasuk perbedaan awal puasa.

"Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas," ujarnya.

Haedar menilai puasa Ramadan harus menjadi momentum menjaga sekaligus memperbaiki akhlak pribadi dan publik. Puasa diharapkan menjadi wahana pembentukan karakter agar umat Islam mampu menjadi umat terbaik dan berkontribusi pada peradaban maju.

Ia mengingatkan umat tidak bersikap fatalistis, terutama dalam bidang ekonomi yang masih membutuhkan kerja keras untuk mencapai kemajuan.

"Meraih kualitas hidup umat Islam terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup untuk bisa hemat, dan lain sebagainya. Dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi," tuturnya.

Dalam dimensi sosial, Haedar menekankan pentingnya puasa sebagai sarana menahan diri dari konflik dan pertengkaran. Ia menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan nafsu yang dapat merusak keharmonisan sosial.

Di tengah derasnya arus informasi media sosial yang kerap memicu amarah dan perselisihan, puasa seharusnya menjadi pelindung agar umat mampu menahan diri.

"Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita," ucapnya.

Menurut Haedar, muslim yang berpuasa harus mampu menempatkan diri sebagai agen perdamaian dan teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia berharap agar Ramadan tahun ini dapat menjadi momentum mencapai kemajuan hidup di berbagai bidang, seperti spiritual, moral, sosial, ekonomi, hingga politik, menuju peradaban yang utama. (Fik/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik