Kamis 23 Juli 2020, 18:13 WIB

Risiko Perkantoran Menjadi Klaster Baru Tinggi

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
 Risiko Perkantoran Menjadi Klaster Baru Tinggi

ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6).

 

DEWAN Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, mengatakan diterapkannya PSBB transisi berkonsekuensi terhadap pembukaan industri dan juga aktivitas pekerjaan di perkantoran.

"Rata-rata teman-teman yang di ruangan officer begitu sekarang ini kan sudah masuk. Walaupun ada protokol tetap menjaga jarak dengan menggunakan masker tetapi potensi keramaian dalam suasana rapat dan aktivitas yang memang mengharuskan bertemu muka. Nah ini tetap ada risikonya," kata Hermawan dalam keterangannya, Kamis (23/7).

Apalagi adanya pengumuman dari WHO terkait dengan potensial aerosol tramision terutama di ruangan ber-AC. Dalam ruangan ber-AC jarang ada ventilasi yang memadai serta sirkulasinya terhambat. Tentunya potensial coronavirus itu mengambang cukup lama.

"Di bawah suhu 20 derajat, dia (covid-19) bisa bertahan 8 jam. Jadi kalau begitu di ruang kerja berarti ada tambahan tidak hanya dari perilaku individu dan juga bekerja tetapi juga dari manajemen kesehatan ruang perkantoran ini," jelasnya.

Baca juga: Hari Ini, Kasus Positif Covid-19 Capai 1.906 dan Sembuh 1.909

Menurutnya, semua faktor yang memang akan berkontribusi penularan virus Covid-19. Pertama dengan adanya kebijakan PSBB transisi sehingga aktivitas perkantoran dibuka. Kemudian juga adanya perilaku yang mungkin juga tidak selalu disiplin terutama penggunaan masker.

"Yang menarik, kalau kita menganggap teman sendiri atau keluarga sendiri itu, seringkali kita mengabaikan bahwa ini kita kenal tidak mungkin lah tertular. Padahal kita tidak tahu siapa menularkan ke siapa walaupun itu orang yang kita kenal dekat," paparnya.

Dia menambahkan, coronavirus ini juga memang tidak mengenal keluarga atau orang lain sehingga itu berkaitan dengan perilaku. Penularan covid-19 juga berkaitan dengan manajemen kesehatan lingkungan, yakni memang air conditioner atau udara yang tidak tersirkulasi dengan baik. Apalagi tidak ada ventilasi yang mengganti udara baik tentunya juga potensial aerosol bisa menambah.

"Walaupun ada penggunaan masker juga, kalau cukup lama intensitas dengan orang yang boleh jadi pembawa virus itu juga akan berdampak juga," pungkasnya. (A-2)

Baca Juga

MI/Susanto.

CEO MGN: Siapkan SDM tidak Boleh Terlena dengan SDA Melimpah

👤 Faustinus Nua 🕔Jumat 28 Januari 2022, 18:09 WIB
Yang dialami Indonesia hari ini sama persis denga yang dialami Jepang pada 1948. Negara Sakura itu mengalami bonus demografi dan berhasil...
MI/RAMDANI

Guru Migran Tingkatkan Keahlian Pekerja Migran Indonesia

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 28 Januari 2022, 18:06 WIB
Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan salah satu penyebab mengapa para pekerja migran Filipina lebih dipilih ketimbang dari negara...
Antara/Fakhri Hermansyah

Epidemiolog : Gelombang Ketiga Covid-19 di Indonesia Diprediksi Terjadi Februari 

👤Selamat Saragih 🕔Jumat 28 Januari 2022, 18:05 WIB
"Sekarang ini kita belum awal, jadi ini belum seberapa dibanding nanti (puncaknya) Februari, sesuai prediksi kita akan mengalami...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya