Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
UNTUK pertama kali dalam 28 tahun terakhir, cakupan imunisasi difteri, tetanus dan pertusis dosis ketiga (DTP3) merosot. Hal itu didapatkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF dari data empat bulan pertama di 2020 selama pandemi covid-19.
"Empat bulan pertama tahun 2020 menunjukkan penurunan yang substansial dalam jumlah anak yang menyelesaikan tiga dosis vaksin terhadap difteri, tetanus dan pertusis (DTP3). Ini adalah pertama kalinya dalam 28 tahun," ungkap WHO dan UNICEF dalam laporan tertulisnya yang dirilis Rabu (15/7).
Survei terbaru UNICEF, WHO, Gavi, Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat, The Sabin Vaccine Institute dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health mencatat, tiga perempat dari 82 negara telah melaporkan gangguan program imunisasi karena pandemi covid-19, pada Mei 2020.
Alasan untuk layanan yang terganggu bervariasi. Bahkan ketika layanan ditawarkan, orang tidak dapat mengaksesnya karena enggan meninggalkan rumah, gangguan transportasi, kesulitan ekonomi, pembatasan pergerakan, atau takut terpapar pada orang dengan Covid-19.
Selain itu, banyak petugas kesehatan juga tidak tersedia karena pembatasan perjalanan atau pemindahan tugas selama masa karantina serta kurangnya peralatan pelindung.
Gangguan-gangguan itu memundurkan kemajuan yang telah dicapai program vaksin dengan susah payah setelah satu dekade.
“Covid-19 telah menjadikan vaksinasi rutin sebagai tantangan yang menakutkan. Kita harus mencegah kerusakan lebih lanjut dalam cakupan vaksin dan segera melanjutkan program vaksinasi sebelum nyawa anak-anak terancam oleh penyakit lain. Kami tidak dapat menukar satu krisis kesehatan dengan krisis lainnya, ” kata Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore. (H-2)
Tiga tinjauan Cochrane yang ditugaskan WHO mengungkap potensi besar obat GLP-1 untuk penurunan berat badan, namun pakar peringatkan risiko jangka panjang.
WHO terus memantau sejumlah penyakit infeksi paru berat seperti flu burung, MERS, influenza berat, dan virus Nipah yang berisiko tinggi bagi kesehatan global.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukkan virus Nipah (NiV) ke dalam daftar patogen prioritas yang berpotensi memicu pandemi berikutnya.
DISEASE Outbreak News (DONs) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan laporan resmi meninggalnya pasien akibat infeksi virus Nipah (NiV) di Banglades
LEBIH dari 18.500 pasien di Gaza, Palestina, membutuhkan pengobatan medis khusus yang tidak tersedia di daerah kantong tersebut. Demikian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
BARU-baru ini outbreak virus Nipah menyebabkan kewaspadaan kesehatan di banyak negara Asia. Infeksi virus Nipah pada manusia menyebabkan berbagai gejala, kenali penularan dan pengobatannya
UNICEF memberikan apresiasi tinggi atas komitmen kepemimpinan Indonesia dalam membangun kualitas generasi masa depan melalui penguatan gizi ibu dan anak.
Mendagri menegaskan, pemerintah pusat telah menelusuri asal-usul surat dan berkoordinasi langsung dengan pihak terkait untuk memastikan substansi serta kemungkinan tindak lanjutnya.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian memberikan klarifikasi terkait surat dari Pemerintah Aceh yang ditujukan kepada UNDP dan UNICEF menyusul bencana di wilayah tersebut
Hujan deras dan angin kencang memperparah krisis kemanusiaan di Gaza. Puluhan ribu tenda rusak, bangunan runtuh, dan suhu dingin mulai memakan korban jiwa.
Langkah Pemerintah Provinsi Aceh yang meminta bantuan penanganan bencana banjir bandang dan longsor tidak disikapi secara berlebihan oleh pemerintah pusat.
Sekarang ada 77 lembaga dan miliki 1.960 relawannya dalam rangka pemulihan Aceh. Semuanya tercatat pada desk BNPB di posko bencana Aceh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved