Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Reformasi Sektor Kesehatan Sangat Mendesak

M. Ilham Ramadhan Avisena
22/6/2020 15:21
Reformasi Sektor Kesehatan Sangat Mendesak
Petugas kesehatan mengambil sampel lendir untuk tes Covid-19(ANTARA FOTO/Fauzan)

MENTERI Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengungkapkan, tingkat kecepatan tes covid-19 di Indonesia amat rendah dan jauh dari standar yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).

"Kita jauh ketinggalan. Kita seharusnya bisa mencapai 30 ribu per minggu, tapi hari ini kita baru sampai di 11 ribu. Presiden meminta paling tidak sampai 20 ribu," ujar Suharso dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI dengan agenda pembahsan Asumsi Dasar Krangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2021 di gedung DPR, Jakarta, Senin (22/6).

"Kami telah menghitung, kapasitas kita itu bisa sampai 27 ribu per hari dan sayangnya sekarang kita masih di 11-12 ribu. Itu pun ada time delay antara orang yang dites hari ini, itu belum tentu diumumkan 2-3 hari ke depan. Bisa jadi minggu depan. Ini mengakibatkan data-data kita utamanya terjadi di Jawa Timur. Ini mengejutkan kita," tambahnya.

Padahal ancaman di sisi kesehatan tidak melulu soal covid-19. Suharso bilang, bila saja rutin dilakukan pengumuman korban meninggal akibat TBC (Tuberkulosis), jumlahnya jauh lebih mengerikan.

"TBC kita ini sekarang hampir 900 ribu pasien. 14-15 orang wafat per jam. Jadi kalau ada orang yang gelisah karena ada kematian di tingkat covid, kalau kematian di TBC itu diumumkan, saya kira banyak orang Indonesia akan gelisah. Jadi, ini paradoks bagi kita di tengah kita ingin berperang menurunkan daya tular TBC itu," kata Suharso.

Selain itu, persoalan kesehatan lainnya ialah penyakit kusta. Padahal Indonesia delah mendeklarasikan diri sebagai negara yang terbebas dari kusta di akhir tahun 80-an. Namun nyatanya hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang terjadi.

Suharso mengatakan, Indonesia merupakan negara terbesar setelah Brasil dan India dengan penduduk yang menderita kusta terbanyak di dunia. Oleh karenanya program untuk mengeliminasi kusta perlu dilakukan secara masif.

Baca juga: Mendagri Ingatkan Masyarakat Covid-19 Belum Selesai

Perbaikan di lingkup kesehatan, kata Suharso, akan dimulai dari tingkat puskesmas.

"Mengembalikan fungsi puskesmas yang sekarang ini lebih banyak kuratif. Sekarang harusnya ada 9 tenaga kesehatan di puskesmas tapi sekarang ini hanya 39,1% yang seperti itu. Kalau didetilkan hanya 18% dan sebagian besar di Jawa," jelasnya.

Selain itu diperlukan juga menambah rasio dokter dan tempat tidur rumah sakit di Indonesia. Itu bertujuan agar apa yang diperlukan dapat terpenuhi kala ancaman di bidang kesehatan datang dan menimpa Indonesia.

Oleh karenanya fokus pemerintah di 2021 nanti ialah berkaitan pula dengan reformasi di bidang kesehatan. "Jadi banyak PR yang akan kita mulai di 2021 termasuk reformasi sistem ketahanan bencana karena ada yang sifatnya non fisik (wabah/pandemi)," pungkas dia. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya