Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Lembaga Riset Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Marhaen Hardjo menyebut, deteksi virus novel korona (Covid-19) menggunakan alat rapid test memiliki tingkat akurasi sebesar 95%.
Memang berbeda dengan pemeriksaan menggunakan PCR yang memiliki tingkat akurasi 100%. Namun, deteksi Covid-19 menggunakan alat rapid test dapat mempercepat penemuan kasus sehingga diharapkan mampu menekan laju penyebaran virus.
"Ini Tiongkok yang pertama kali menggunakan. Kemudian Korea dan Italia. Berdasarkan pengalaman di negara-negada yang menggunakan rapid test, menunjukan keberhasilan dalam penanganan cepat," kata Marhaen kepada Media Indonesia, Jumat (20/3).
Adapun, alat rapid test memiliki kemampuan untuk mendeteksi imunoglobulin IgG/IgM covid-19. Jadi, alat tersebut akan mengukur kadar antibodi dalam tubuh seseorang.
"Karena orang yang terinfeksi berarti akan memproduksi antibodi untuk melawan protein virusnya," katanya.
Baca juga: Agar Rapid Test Berjalan Efektif, Pemerintah Harus Jemput Bola
Marhaen menyebut nantinya pemeriksaan akan dilakukan dengan mengambil sample tepi darah seseorang, dan hasilnya bisa didapatkan dalam waktu 15 menit saja.
Terpisah, Ketua PB IDI Daeng Mohammad Faqih, alat rapid test lebih praktis digunakan dibanding PCR. Sehingga, targetnya dengan penggunaan alat ini, deteksi dini Covid-19 dapat dilakukan secara masif di seluruh fasilitas kesehatan.
"Ini kan untuk screening step awal. Kalau positif hati-hati, mungkin nanti akan langsung ada tindakan, apakah diisolasi atau diobservasi. Kalau sudah tau screeningnya tanggapnya bisa lebih awal. Itu yang kita harapkan," ujarnya.
Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo menginstruksikan agar diadakan rapid test untuk mendeteksi secara cepat sebaran Covid-19. Adapun, alat rapid test tersebut telah diimpor sebanyak 500 ribu dari Tiongkok oleh Kementerian BUMN, dan akan didistribusikan ke Rumah Sakit di Indonesia. (OL-4)
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved