Rabu 11 Maret 2020, 06:40 WIB

Efek Radiasi, dari Mandul sampai Kanker

(Aiw/H-2) | Humaniora
Efek Radiasi, dari Mandul sampai Kanker

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/wsj.
Petugas dari Pengolahan Limbah Radioaktif Badan Tenaga Nuklir Nasional memeriksa tingkat paparan limbah radioaktif yang sudah diolah

 

PADA 21 Februari 2020, dua dari sembilan warga Perumahan Batan Indah, Kota Tangerang Selatan, Banten, dinyatakan positif terpapar zat radioaktif sesium (Cs-137) dengan dosis sebesar 0,05 dan 0,12 milisievert/tahun. Namun, nilai tersebut masih di bawah batas tole-ransi, yaitu sebesar 1 milisievert/tahun.

Pemerintah melakukan dekontaminasi di area tersebut dan hasilnya paparan radiasi yang tadinya mencapai 149 microsievert, turun signifikan menjadi 0,8-1,1 microsievert per jam, pada Senin (9/3).

"Radiasi yang bersumber dari eksternal, tidak akan mengontaminasi tubuh manusia jika manusia meninggalkan atau menyingkirkan sumber radiasi tersebut," ujar Kepala Bidang Keselamatan Kerja dan Dosimetri, Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Heru Prasetio, belum lama ini.

Di luar batas toleransi, imbuhnya, paparan radiasi dari zat radioaktif akan menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia. Ada dua efek radiasi pengion terhadap tubuh manusia. Pertama, bisa berbentuk efek stokastik, yang tidak bisa dipastikan tapi tingkat kemungkinan munculnya efek tersebut dapat diperkirakan. Efek ini terjadi saat paparan radiasi dosis rendah (0,25 sampai 1.000 msv) dan muncul pada manusia dalam bentuk kanker (kerusakan sel-sel jaringan tubuh) atau cacat pada keturunan (kerusakan genetik).

Dalam efek stokastik, kata Heru, tidak dikenal adanya dosis ambang sehingga sekecil apa pun dosis radiasi yang diterima tubuh dapat memungkinkan timbulnya kerusakan sel somatik maupun sel genetik. "Pemunculan efek stokastik berlangsung lama setelah terjadinya penyinaran," terangnya.

Efek kedua dari radiasi pengion ialah deterministik yang muncul apabila jaringan tubuh manusia terpapar radiasi dengan dosis tertentu, seperti kerusakan saluran pencernaan dengan dosis 10.000-50.000 msv, kerontokan rambut (dosis 6.000-12.000 msv), kulit memerah (3.000-6.000 msv), dan kerusakan sumsum tulang (3.000-5.000 msv).

Untuk radiasi dengan dosis 2-5 sv (2.000-5.000 msv) dapat menimbulkan kerusakan pada lensa, kemandulan permanen atau sterilitas pada pada perempuan (3.000 msv) dan laki-laki (dosis 2.000 mSv). Dengan paparan 1,1 sv atau 100 msv saja sudah bisa membuat laki-laki mengalami kemandulan sementara.

Kanker juga dapat ditimbulkan akibat paparan radiasi sebesar 2 msv. Bahkan, itu bisa menimbulkan kematian apabila terpapar dosis 100.000 msv (100 sv) atau lebih, yang didahului dengan terjadinya kerusakan sistem saraf pusat. "Penyembuhan akibat paparan radiasi bergantung pada tingkat keparahan," pungkas Heru. (Aiw/H-2)

Baca Juga

ANTARA/Asep Fathulrahman

Polri Putar Balik 32.815 Kendaraan Terindikasi Mudik

👤Widhoroso 🕔Jumat 07 Mei 2021, 23:40 WIB
Polri hingga hari kedua pelaksanaan pelarangan aktivitas pulang ke kampung halaman jelang Lebaran alias mudik 2021, telah memutar balik...
Mediaindonesia.com

Bersiap Gelombang 3, Sebanyak 4.371 Awak Media Tuntas Divaksinasi

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 07 Mei 2021, 23:25 WIB
Sebanyak 4.371 awak media se-Jabodetabek tuntas mengikuti vaksinasi Covid-19 dosis kedua di Balai Kota...
dok.korlantas

2 Hari Penyekatan, Kakorlantas Sebut 32.815 Kendaraan Diputarbalik

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Jumat 07 Mei 2021, 23:01 WIB
SELAMA dua hari pelaksanaan peniadaan mudik sejak diberlakukan 6 Mei 2021, Korlantas Polri telah memutarbalik 32.815 kendaraan yang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kualitas Kompetisi Harus Ditingkatkan

Regulasi yang dibuat operator dan regulator harus bisa meningkatkan standar liga dan klub

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya