Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 12 Oktober mendatang, Indonesia akan memperingati Hari Museum. Puncak peringatah Hari Museum Indonesia akan digelar di Jakarta, tepatnya di Taman Fatahillah, Kota Tua pada 7 sampai dengan 13 Oktober 2019.
Peringatan Hari Museum Indonesia merupakan bentuk eksistensi museum di tengah masyarakat.
Hari Museum Indonesia diperingati setiap 12 Oktober berdasarkan diskusi dan perdebatan para ahli permuseuman. Tanggal tersebut ditetapkan karena menjadi salah satu momen penting bagi sejarah permuseuman di Indonesia, yaitu ketika terselenggaranya Musyawarah Museum se-Indonesia pertama pada 1962 di Yogyakarta.
Kehadiran museum di Indonesia yang saat ini tercatat berjumlah 439 museum, bagi Bangsa Indonesia sangat penting, terutama dalam upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan. Terlebih dengan lahirnya Undang-undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Berbagai budaya dan kearifan masa lalu bisa kita temukan di sana.
Baca juga: JDE Jadi Ajang Pertemuan Koreografer Dari Masa Ke Masa di TIM
Menurut Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Fitra Arda, museum tidak saja sebagai ruang tempat melestarikan kebudayaan dan edukasi tetapi sekaligus sebagai ruang rekreasi yang menyenangkan (edutaimen).
Di samping itu, museum juga merupakan ruang publik dalam pemajuan kebudayaan, tempat bertemunya masyarakat dari berbagai latar belakang.
Museum adalah lembaga yang sangat penting bagi dunia pendidikan dan kebudayaan kita. Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, menyampaikan, “Di museum, kita melihat lapisan-lapisan sejarah peradaban dan kebudayaan. Di museum, kita belajar kebudayan Indonesia yang sangat beragam dan juga bersatu, yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Jangan lupa berkunjung ke museum atau kalau orang Jakarta bilang Nyok Kite ke Museum”.
Ajakan ke museum juga dinyatakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
“Di Jakarta ada begitu banyak museum. Lebih dari 70 museum yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Museum adalah tempat kita merasakan sebuah perjalanan waktu. Karena itu bisa dikatakan museum adalah waktu yang diubah menjadi ruang. Perjalanan ribuan tahun, ratusan tahun, diubah menjadi ruang, tempat kita bisa belajar, kita bisa mengambil hikmahnya. Itulah museum, dia mengonversi waktu menjadi ruang. Kita bisa belajar dari perjalanan sejarah. Dan yang tidak kalah penting, selain anak-anak belajar sejarah, mereka nantinya terpantik untuk membuat sejarah. Itulah sebenarnya tugas generasi baru, tugas generasi masa depan,” papar Anies.
Peringatan Hari Museum Indonesia 2019 mengambil tema “Museum Menyatukan Keberagaman” dengan tagline 'Nyok kite ke Museum'.
Indonesia adalah negeri dengan masyarakat majemuk, yang dibentuk oleh perjalanan sejarah yang panjang. Keragaman adalah kenyataan bagi masyarakat yang hidup di belasan ribu pulau, terdiri atas lebih dari seribu kelompok etnik, yang berbicara dalam ratusan bahasa. Semua itu, buktinya bisa kita temukan di museum. Sehingga diharapkan museum bisa sebagai pilar atau ujung tombak dalam merawat kebinekaan di bangsa kita ini.
Pembentukan kesadaran kultural bangsa khususnya bagi generasi muda, antara lain dapat dilakukan dengan pengoptimalan peran mereka dalam pelestarian dan pemajuan kebudayaan lebih khusus keterlibatan mereka di dalam dunia permuseuman.
Karena museum adalah adalah rumah peradaban, tempat tumbuh dan berkembangnya kemampuan berpikir serta kreatifitas masyarakat, berfungsi sebagai pendorong tumbuhnya rasa bangga dan cinta tanah air (nasionalisme) serta menjadi objek wisata yang mengedepankan unsur pendidikan dan pelestarian warisan budaya. Tentu yang tidak kalah pentingya adalah menjadi pusat informasi dan dokumentasi warisan budaya bangsa.
Puncak Peringatan Hari Museum Indonesia 2019 diselenggarakan di Kawasan Kota Tua Jakarta, tidak hanya di Taman Fatahillah, tetapi juga melibatkan museum-museum di kawasan tersebut.
Kegiatan ini dimeriahkan dengan beberapa acara yaitu pameran, dialog kuratorial, seminar, workshop, grebek museum, mural 3D, 1.000 kriya gerabah, olahraga tradisional, lomba, permainan rakyat, penampilan band, dan lainnya.
Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, serta didukung oleh berbagai museum di Indonesia, khususnya di Jakarta. Jadi jangan lupa “Nyok kite ke Museum…” (RO/OL-2)
KEBIJAKAN kenaikan harga tiket masuk Museum Nasional Indonesia mendapat kritikan tajam Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Edy Budi Santoso.
Ketiga destinasi wisata sejarah tersebut adalah Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, serta Museum Tekstil.
Selama pengelola museum masih menerima dana dari APBN, masyarakat tidak seharusnya dibebani biaya tinggi untuk mengakses fasilitas negara.
Kenaikan tarif Museum Nasional dari sebelumnya yang sebesar Rp25.000 merupakan langkah krusial untuk memenuhi standar pemeliharaan internasional.
Sebagai lembaga yang dikelola pemerintah, Museum Nasional mengemban tanggung jawab moral untuk mempermudah akses pendidikan bagi warga negara.
Fosil legendaris Homo erectus atau yang dikenal luas sebagai Java Man kini telah resmi dipamerkan untuk publik di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved