Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Raffles Brontestes Panjaitan menuturkan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada 2019, tidak seluas yang terjadi pada 2018 hingga mencapai 500 ribu Ha.
Hasil rekapitulasi Kementerian LHK total area yang terbakar pada Januari hingga 31 Agustus 2019, seluas 339.161 Ha didominasi oleh lahan mineral 239.161 Ha, adapun pada lahan gambut seluas 89.563 Ha. Karhutla pada lahan gambut, kata Raffles, menjadi penyebab kabut asap pekat dalam jangka waktu lama karena sulit dipadamkan. Lahan gambut yang sudah terbakar akan sulit dipadamkan tanpa adanya air yang menjenuhkan.
Dari luas 89.563 Ha lahan gambut yang terbakar, apabila dirinci berdasarkan tutupan lahan, area gambut yang terbakar di kawasan nonhutan seperti semak belukar, belukar rawa, perkebunan, permukiman, transmigrasi, pertanian lahan kering, rawa, tanah terbuka, tambang, sawah, pertambangan, bandara dan tubuh air luasnya mencapai 86.014 Ha. Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan area gambut di kawasan hutan yang terbakar yakni seluas 3.549 Ha.
Pemerintah, ucap Raffles, melakukan upaya tata kelola gambut dengan memastikan lahan tetap basah terutama saat musim kemarau. Tinggi muka air pada lahan gambut, imbuhnya, setidaknya harus 40 cm untuk memastikan pipa kapilernya bisa mengantar air ke permukaan sehingga area gambut tetap basah.
"Kalau ada yang membakar, tidak mau hidup, karena masih berair," tutur Raffles.
Baca juga: Tujuh Helikopter Waterbombing Padamkan Karhutla di Sumsel
Permasalahannya, kanal-kanal untuk mengaliri air di lahan gambut tidak dibuat menyesuaikan karakteristik dan kontur gambut. Itu menyebabkan kanal gambut menjadi kering karena sedimentasi dan pengendapan. Pada musim kemarau, lahan gambut lebih mudah terbakar. Pembuatan kanal-kanal seperti itu, ujar Raffles, telah berlangsung selama bertahun-tahun.
"Sekarang diperbaiki dengan mengeluarkan peraturan menteri LHK tentang pengaturan ekosistem gambut. Perbaikan tata kelola gambut dilakukan," imbuhnya.
Ia mengakui karhutla di lahan gambut 99% disebabkan oleh perilaku manusia yang melakukan pembukaan lahan dengan membakar. Raffles menyebut di daerah, pembakaran lahan umumnya bertujuan untuk membersihkan area yang nantinya akan dibangun permukiman. Kementerian LHK, imbuhnya, mendorong agar pemerintah daerah setempat mengeluarkan peraturan lebih tegas untuk menindak pelaku pembakar lahan.
Selain ulah manusia, menurutnya, karhutla yang terjadi belakangan ini juga dampak dari musim kemarau panjang. BMKG memprakirakan musim kemarau di beberapa wilayah di Indonesia akan berlangsung hingga September sehingga risiko kebakaran masih tinggi.
Berdasarkan peraturan Menteri LHK, pihaknya melarang pembukaan izin pada lahan yang memiliki kubah gambut. Kalau sudah ada izin, maka dihentikan dan dilakukan penataan. Sementara jika sudah terlanjur dibuka dilakukan pemeriksaan aliran air dengan dibuat tetap basah dan menyekat kanal.
Untuk rekapitulasi lahan gambut yang terbakar per provinsi, data Kementerian LHK menunjukkan Provinsi Lampung paling luas yaitu 40.553 Ha disusul dengan Kalimantan Tengah 24.884 Ha, Nusa Tenggara Timur 10.025 Ha, Jambi seluas 5.804 Ha, Sumatra Selatan 4.717 Ha, Kalimantan Selatan 1.949 Ha, Kalimantan Timur 223 Ha, Sumatra Barat 251 Ha, Kepulauan Bangka Belitung 231 Ha, Aceh 202 Ha, Kalimantan Utara 5 Ha dan Aceh 1 Ha.(OL-5)
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nuroqif, di tengah ancaman kepunahan berbagai satwa endemik, penyelamatan keanekaragaman hayati adalah prioritas
Volume besar itu tentunya memperparah tekanan terhadap lahan seluas 142 hektar yang sudah menampung sampah Ibu Kota selama lebih dari tiga dekade.
Dunia saat ini tengah menghadapi tiga ancaman serius yang disebut “Triple Planetary Crisis” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah tekankan komitmen industri jalankan EPR demi kelola sampah plastik. Target 100% pengelolaan tercapai pada 2029 lewat kolaborasi multi-pihak.
KLHK melalui Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menyegel empat perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
‘’Kolaborasi, termasuk dengan kerja sama dengan pihak swasta menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif, bernilai ekonomis dan ramah lingkungan,”
Keberhasilan Indonesia mencapai target Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 sangat bergantung pada percepatan restorasi gambut.
Kemudian, memastikan masyarakat lokal, yang paling tahu tentang gambut, mendapatkan pelatihan dan dukungan
Data historis menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca (GRK) dari lahan gambut serta kebakaran hutan masih menjadi kontributor utama peningkatan emisi nasional.
Kolaborasi antara IPB University dengan Kyoto University bertujuan meningkatkan peran masyarakat sebagai ujung tombak dalam penuntasan masalah gambut yang masih berkelindan di tanah air,
Kubah gambut merupakan sumber air yang sangat penting bagi kesehatan tanah di sekitarnya, terutama saat musim kemarau.
Buruknya perlakuan terhadap ekosistem gambut pun menyebabkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ikut meningkat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved