Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Teknologi Artificial Intelligence Tingkatkan Layanan Kesehatan

Rosmery Sihombing
23/7/2019 22:05
Teknologi Artificial Intelligence Tingkatkan Layanan Kesehatan
Dr Fathema Djan Rachmat SpB, Presiden Direktur Pertamedika-Indonesia Healthcare Corporation (IHC)(Ist)

MEMASUKI Revolusi industri 4.0, rumah sakit milik  BUMN harus sudah menggunakan teknologi artificial intelligence (AI), supaya  pelayanan kesehatan meningkat, tidak ada antrian pasien, dan diagnosis penyakit pun lebih akurat.

"Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kesehatan, kita (rumah sakit-rumah sakit BUMN) harus mengarah ke sana, baik secara mandiri maupun berkolaborasi. Kalau rumah sakit tidak mau mengikuti kemajuan teknologi, akan tergilas," ujar Dr Fathema Djan Rachmat SpB, Presiden Direktur Pertamedika-Indonesia Healthcare Corporation (IHC) usai seminar medis Advanced Medical and Medicine Forum (AMMF) 2019, di Jakarta, Selasa (23/7).

Menurutnya, penggunaan teknologi AI di rumah sakit bisa menjadi salah satu solusi di saat belum meratanya jumlah dokter spesialis di Indonesia.

"Kita kekurangan dokter spesialis, maka dengan adanya teleradiologi, telemedicine, itu sangat membantu. Dengan AI pasien juga bisa mengakses fasilitas kesehatan, dan dokter termasuk resgistrasi hanya lewat genggaman tangan (heandphone)," tambah Fathema.

Untuk itu, lanjutnya, BUMN saling berkolaborasi, misalnya, untuk rumah sakit-rumah sakit milik BUMN bekerja sama dengan PT Telkom, dan lain sebagainya.

"Saat ini ada 78 RS milik BUMN dan belum banyak yang menggunakan  AI. Yang betul-betul paperless saja baru RS Pelni. Dalam lima tahun ke depan rumah sakit milik BUMN harus menjadi trend setter dalam penggunaan teknologi AI," katanya lagi.


Baca juga: Jaminan Kesehatan Semesta Dinilai Perlu Pembiayaan Alternatif


Seminar bertemakan Radiologi dan Teknoloh AI yang diselenggarakan oleh Japan-Indonesia Medical Collaboration Association (JIMCA) dan IHC Group itu dihadiri para dokter, dan praktisi kesehatan dari rumah sakit pemerintah maupun swasta, serta perwakilan dari kelompok medis.

Menurut Ketua JIMCA, Satoshi Kusuda, dipilihnya tema radiologi dan teknologi AI, karena melihat meningkatnya  minat masyarakat Indonesia terhadap kesehatan dari tahun ke tahun, dan semakin banyak yang tertarik dengan pencegahan medis daripada pengobatan.

"Pengetahuan dan teknologi pemeriksaan  kesehatan Jepang yang berkualitas tinggi dibutuhkan di Indonesia dalam menjaga kesehatan. Kami memang menciptakan mesin dan teknologinya, tetapi perlu ada orang yang ahli menggunakannya. Untuk itu kerja sama nantinya juga akan ada pertukaran dokter dan transfer teknologi," ujarnya.

Sementara itu, di tempat terpisah diadakan juga Seminar Nasional Asosiasi Rumah Sakit Seluruh Indonesia (ARSSI) ke-6. Ketua Umum ARSSI, Susi Setiawaty, mengatakan, rumah Sakit di Indonesia harus terus mempersiapkan diri agar mampu beradaptasi di era perubahan yang disruptif.

"Mengambil peluang dengan melakukan inovasi dan memanfaatkan teknologi agar tidak kalah bersaing dengan rumah sakit di dalam maupun di luar negeri," ujarnya.

Revolusi industri 4.0, tambah Susi, mendorong inovasi-inovasi teknologi dan service yang memberikan dampak disrupsi atau perubahan fundamental terhadap kehidupan masyarakat. Itu memberi tantangan bagi dunia industri tidak terkecuali industri rumah sakit.

Manajemen rumah sakit didorong untuk melakukan perubahan-perubahan  serta inovasi-inovasi disegala bidang untuk merespon tuntutan dan kebutuhan konsumen rumah sakit dimasa akan datang. (Ind/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya