Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Chua Kotak Ungkap Kondisi Sheila Dara dan Keluarga Usai Melayat ke Rumah Duka Vidi Aldiano

Nadhira Izzati A
08/3/2026 12:31
Chua Kotak Ungkap Kondisi Sheila Dara dan Keluarga Usai Melayat ke Rumah Duka Vidi Aldiano
Chua Kotak membagikan kisah haru saat melayat ke rumah duka Vidi Aldiano. Ia tersentuh keramahan keluarga almarhum, termasuk Sheila Dara dan orangtua Vidi.(Antara)

KABAR duka menyelimuti industri musik Tanah Air atas meninggalnya penyanyi sekaligus penulis lagu kenamaan, Vidi Aldiano, pada Sabtu, 7 Maret 2026. Sejumlah musisi dan sahabat tampak hadir memberikan penghormatan terakhir di rumah duka yang berlokasi di Jalan Kecapi, Jakarta Selatan, termasuk personel grup band Kotak, Swasti Sabdastantri atau yang akrab disapa Chua Kotak

Chua membagikan momen emosionalnya saat melayat ke rumah duka melalui sebuah catatan menyentuh. Dalam akun instagram pribadinya, Chua Kotak ceritakan momen dirinya melayat ke rumah duka Vidi Aldiano yang diunggah pada Minggu dini hari (8/3). Dirinya bercerita tepat pukul 01.00 dini hari, ia baru pulang ke rumahnya setelah melayat di rumah almarhum Vidi Aldiano.

"MasyaAllah... rasanya ingin sekali berbagi cerita ini. Semua orang pasti setuju, Almarhum Vidi terkenal sebagai 'duta persahabatan'. Beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat, sangat, sangat baik." tulis Chua.

Meski baru pertama kali bertemu langsung dengan keluarga besar Vidi, Chua mengaku langsung merasakan energi positif yang luar biasa.

"Ini pertama kalinya saya bertemu langsung dengan keluarga Almarhum, karena malam itu saya ingin mengucapkan belasungkawa secara langsung. Dan MasyaAllah... pantas saja Vidi begitu baik. Keluarganya pun SANGAT BAIK. Baik banget. Pernah nggak sih kalian bertemu seseorang, tapi hati kalian langsung tahu, 'Ini orang baik.' Begitulah yang saya rasakan."

Saat memasuki rumah duka, Chua disambut adik almarhum, Vadi, yang menunjukkan keramahan luar biasa kepada setiap tamu yang hadir.

"Ketika pertama kali sampai di rumah duka, di lantai bawah saya bertemu adiknya Vidi, Vadi. Dia menyambut semua tamu yang datang, tanpa terkecuali. Tatapan matanya hangat. Senyum matanya tulus. Kepada kami-saya, Tantri, dan Arda-dia mengucapkan terima kasih satu per satu, lalu mempersilakan kami naik ke lantai atas. Cara bicaranya seperti kepada teman yang sudah lama dikenal. Seramah itu." Kata Chua.

Chua kemudian bertemu dengan istri almarhum, Sheila Dara. Ketegaran Sheila di tengah situasi sulit tersebut justru memberikan kekuatan bagi para pelayat yang hadir.

"Lalu kami naik tangga dan bertemu dengan istri Almarhum, Sheila Dara. Kami pun menyampaikan belasungkawa. Tatapannya juga sangat hangat saat menyambut salaman tangan kami, dengan senyum manisnya. la terlihat begitu tenang dan ramah. Jujur, malah kami yang hampir menangis karena berduka. Melihat Sheila setenang dan sekuat itu membuat kami ikut berusaha tegar. Masa iya kami yang malah menangis, ya kan?"

Kehangatan yang sama juga terpancar dari ibunda Vidi yang duduk di samping jenazah, memberikan kasih sayang kepada setiap sahabat yang datang.

"Di samping jenazah, ibunda Almarhum duduk dan bergantian menyalami para tamu. Tatapannya juga sangat hangat. Sikapnya benar-benar seperti seorang ibu yang mengayomi anak-anaknya. Ucapan terima kasih terus terucap dari mulutnya sambil tersenyum. Senyumannya sangat cantik dan manis. Saat bersalaman, tangannya juga mengusap-usap tangan dan pundak kami dengan lembut."

Bahkan, saat ada tamu yang datang sambil menangis tersedu, sang ibu justru yang menenangkan mereka dengan pelukan dan usapan lembut. Bagi Chua, perlakuan tersebut menunjukkan betapa besarnya kasih sayang keluarga ini kepada seluruh sahabat Vidi.

Momen yang paling membekas bagi Chua adalah saat ia hendak berpamitan dengan ayah almarhum, Harry Kis. Di tengah hujan deras yang mengguyur Jakarta malam itu, sang ayah justru mengkhawatirkan kondisi para tamu. Chua menceritakan ayah Vidi sempat mengusap lengan bajunya untuk memastikan apakah ia basah karena hujan atau tidak.

"Tahu tidak apa yang pertama kali dikatakan ayahnya Almarhum saat kami pamit? Selain mengucapkan terima kasih, beliau justru mengusap lengan baju kami-seperti ingin memastikan apakah kami basah atau tidak. Lalu beliau berkata, 'Kalian nggak basah kan? Jangan sampai kehujanan ya.' Ah... manis sekali. Padahal beliau tidak mengenal kami. Tapi kehangatan itu diberikan kepada semua tamu yang datang. Benar-benar memastikan kami tidak kebasahan."

Perhatian serupa kembali ia dapatkan dari Vadi saat melangkah keluar rumah duka.

"Saat kami turun tangga untuk pulang, kami bertemu lagi dengan adiknya Vidi. Dan tahu tidak apa yang dia katakan? 'Jangan kehujanan ya...' Dengan wajah yang terlihat benar-benar cemas. Ya Allah... sebaik itu semuanya. Satu keluarga."

Chua menutup catatannya dengan rasa haru melihat banyaknya pelayat yang terus berdatangan tanpa henti meski hari sudah berganti pagi. Baginya, hal ini adalah bukti nyata dari amal kebaikan almarhum selama hidup.

"Pantas saja banyak orang menjadi saksi betapa baiknya Almarhum Vidi Aldiano. Keluarganya pun sebaik itu. MasyaAllah, kami bahkan merasa iri, dalam arti haru, melihat tamu yang tidak berhenti datang bergantian dari berbagai kalangan. Padahal saat itu sudah lewat pukul 12 malam. Jalanan masih macet oleh mobil yang datang silih berganti. Dan beliau berpulang di bulan suci Ramadhan. MasyaAllah... Rest in Love, Vidi Aldiano. Al-Fatihah." (Instagram/chuakotak/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya