Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Cosplay Buka Peluang Baru bagi Kreator Konten di Industri Hiburan

Indrastuti
19/2/2026 21:44
Cosplay Buka Peluang Baru bagi Kreator Konten di Industri Hiburan
Ilustrasi(Dok Istimewa)

KULTUR pop Jepang jadi titik awal Lipay Xia menjadi seorang cosplayer. Perempuan kelahiran Tangerang, 25 Agustus 2000, ini mengenal kultur pop Jepang tersebut sejak akhir 2015.

Berkat pengaruh sang kakak, ia jatuh hati pada karakter Roronoa Zoro dan Portgas D Ace dalam anime One Piece. Namun perjalanannya sebagai cosplayer tak sepenuhnya mulus.

Sebelum dikenal di dunia cosplay, ia lebih dulu pada industri hiburan arus utama. Pada 2018, dia sempat mengikuti audisi JKT48 dan menembus 100 besar dari sekitar 1.000 pendaftar.

Pengalaman itu menjadi fondasi kepercayaan diri. Setahun berselang, namanya mulai diperhitungkan pada komunitas cosplay. Ia meraih juara favorit Predator League Cosplay Competition 2019 dan peringkat ketiga Pemm’z Cosplay Competition 2019. Pada 2024, ia dipercaya menjadi juri Cosplay Mukashi Festival.

“Setiap panggung itu melatih mental. Entah itu audisi, lomba cosplay, atau live streaming. Semua butuh keberanian untuk tampil apa adanya,” ujar Lipay, Kamis (19/2/2026).

Ia mengaku tahun 2019 sebagai titik balik. Ia menerima kontrak siaran dari sebuah platform live streaming. Ia mempopulerkan format virtual girlfriend, sebuah pendekatan yang menuntut spontanitas, empati, dan kemampuan membaca suasana.

Format itu membesarkan namanya. Organisasi esports raksasa Rex Regum Qeon (RRQ) kemudian merekrutnya sebagai Exclusive Talent Streamer pada 2020. “Live streaming itu bukan hanya bermain game. Kami membangun hubungan. Penonton datang bukan hanya untuk konten, tapi untuk merasa didengar,” katanya.

Perjalanannya bersama RRQ berakhir pada awal 2023. Pada 2024, ia lalu dipercaya jadi Brand Ambassador BFAUNNDATION (BFN Esports), menandai fase baru dalam karier profesionalnya.

Pada tahun yang sama, ujian datang. Dia kehilangan akses permanen ke akun Instagram utamanya, akun yang dibangun sejak 2019, yang menyimpan dokumentasi perjalanan dan portofolio digitalnya.

Bagi kreator konten, itu bukanlah sekadar kehilangan akun. Lebih dari itu, kehilangan arsip, jejaring, dan jejak kerja keras bertahun-tahun. Namun ia memilih bertahan. Ia membuka akun baru, mengumpulkan pengikut satu per satu, membangun kembali ritme. Adaptasi itu justru berbuah kepercayaan baru dari industri.

“Pada industri digital, yang paling penting bukan seberapa besar kita jatuh, tetapi seberapa cepat kita bangkit dan menata ulang langkah.”

Kini, di luar kesibukan depan kamera, Lipay rutin berolahraga gym dan bulu tangkis sebagai penyeimbang. Dia selektif memilih lingkungan, menjaga stabilitas mental, serta menata ekosistem kerja yang sehat.
“Selama kita mau belajar dan beradaptasi, selalu ada ruang untuk berkembang. Dunia digital itu cepat berubah, tapi kerja keras tetap relevan,” pungkasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya