Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTOR Angga Yunanda berkolaborasi lagi dengan sutradara Wregas Bhanuteja dalam film Para Perasuk, namun ia mengakui bahwa tantangan yang dihadapi kali ini jauh melampaui ekspektasinya.
Angga secara jujur menggambarkan pengalamannya bekerja dengan Wregas sebagai tantangan yang berat untuk mendapatkan totalitas fisik dan emosional yang luar biasa.
"Pastinya kayaknya kalau bekerja sama bareng sama Kak Regas tuh enggak pernah gampang sih. Kayak pasti tantangannya tuh kayak melewati atap," ujar Angga di Galeri Indonesia Kaya (11/12).
Salah satu tantangan terbesar yang harus dilalui Angga adalah pelatihan fisik yang intens selama kurang lebih tiga bulan. Bersama koreografer Mas Siko Setyanto, Angga harus mempelajari gerakan-gerakan hewan untuk adegan kerasukan.
Angga harus melatih tubuhnya agar lebih luwes, mempelajari gerakan melompat, hingga melata. Namun, tantangan yang paling ekstrem adalah gerakan yang hanya mengandalkan otot perut.
"Geraknya cuma pakai perut. Jadi enggak pakai tangan, enggak pakai kaki. Pakai perut, tuh bayangin gimana tuh caranya. Susah banget," ungkap Angga.
Ia bahkan harus melakukan gerakan-gerakan sulit ini di permukaan keras seperti aspal, yang mengakibatkan lecet di tubuhnya. Namun, ia menyebut pengorbanan ini dilakukan demi mewujudkan visi Wregas Bhanuteja.
Selain fisik, Angga juga dituntut untuk bisa memainkan alat musik tradisional Slompret, yang merupakan instrumen khusus karakter Bayu sebagai calon Perasuk.
Angga harus berlatih keras karena, sesuai tuntutan Wregas, semua penampilan alat musik dalam film dilakukan secara nyata, bukan sekadar lipsync saat proses syuting.
Tantangan tak berhenti di aspek teknis dan fisik. Angga juga harus mendalami sisi emosional karakter Bayu, yang menuntut eksplorasi akting yang berbeda dari perannya di film Wregas sebelumnya, Budi Pekerti.
"Emosinya itu enggak melulu dari perkataan, tapi dari fisik, dari raut wajah," jelas Angga. Hal ini memaksa Angga untuk menyalurkan emosi yang kompleks termasuk obsesi, ambisi, dan rasa iri terhadap rival seperti Ananto dan Pawit.
Proses pendalaman karakter ini dilakukan melalui sesi reading yang panjang dan intim dengan Wregas. Angga menekankan bahwa proses ini sangat berharga karena ia bisa memahami sisi emosi yang paling mendalam.
Meskipun menggambarkan proses syuting sebagai penyiksaan, Angga Yunanda menyimpulkan pengalamannya dalam Para Perasuk sebagai pengalaman yang sangat menyenangkan dan seru, sekaligus memberinya kesempatan untuk melihat sisi berbeda dari Wregas Bhanuteja.
Dengan duet maut Angga Yunanda dan Dodit Mulyanto, film Sebelum Dijemput Nenek dijadwalkan menyapa penonton di bioskop pada Januari 2026 mendatang.
Angga Yunanda dan Dodit Mulyanto berperan sebagai anak kembar dalam film Sebelum Dijemput Nenek, yang dijadwalkan tayang Januari 2026.
Dalam film Sebelum Dijemput Nenek, Angga berperan sebagai Hestu, yang memiliki saudara kembar bernama Akbar, diperankan oleh komika Dodit Mulyanto.
Angga Yunanda mengungkapkan bahwa lari telah memberinya pengalaman yang sangat positif.
Bagi Angga Yunanda, film Dopamin memotret realitas banyak pasangan yang harus menghadapi naik turunnya kehidupan rumah tangga.
Sutradara Wregas Bhanuteja kembali dengan proyek terbarunya, Para Perasuk, sebuah karya sinema yang unik dan penuh terobosan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved