Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Film Para Perasuk Tayang Perdana di Sundance Festival

Muhammad Ghifari A
11/12/2025 21:02
Film Para Perasuk Tayang Perdana di Sundance Festival
Film Para Perasuk Tayang Perdana di Sundance Festival.(MI/Muhammad Ghifari A)

SUTRADARA Wregas Bhanuteja kembali dengan proyek terbarunya, Para Perasuk, sebuah karya sinema yang unik dan penuh terobosan. Film ini akan melakukan world premiere di Sundance Film Festival 2026

Tidak hanya itu, film ini terpilih sebagai salah satu dari 10 film internasional yang bersaing dalam kategori World Cinema Dramatic Competition, salah satu kompetisi utama festival film independen bergengsi tersebut.

Wregas Bhanuteja menjelaskan film Para Perasuk bercerita tentang sebuah desa fiktif bernama Desa Latas, di desa tersebut ada kegiatan untuk merayakan kerasukan sebagai suatu pesta besar. Para warga menari mengikuti irama musik dan mantra, dan dengan sengaja membiarkan diri mereka kerasukan.

Dalam tradisi itu, terdapat tokoh perasuk yang bertugas menyalurkan roh ke tubuh warga yang menari dan dirasuki roh, warga yang di masuki oleh roh di sebut pelamun. Roh-roh tersebut memberikan efek halusinasi dan membawa para pelamun masuk ke dunia penuh kepuasan. 

Terdapat 20 roh binatang, seperti roh bulus, kerbau, kodok, semut, dan lainnya, masing-masing memberikan efek kerasukan yang berbeda. Contohnya, Roh Bulus membuat Pelamun merasa dipijat meskipun di dunia nyata sedang dicambuk rotan. Roh Semut menjadikan makanan yang dikonsumsi terasa nikmat layaknya fine dining. Sementara Roh Kerbau memberikan sensasi mandi shower yang segar, padahal mereka mungkin sedang berguling di lumpur.

Inti drama film ini terletak pada sebuah Sayembara yang diadakan oleh Guru Asri yang diperankan oleh Anggun C. Sasmi. Sayembara ini bertujuan mencari Perasuk baru. 

Pemeran utama adalah Bayu yang di perankan oleh Angga Yunanda, seorang pemuda yang sangat terobsesi untuk memenangkan kompetisi ini dan menjadi Perasuk. 

Obsesinya membawanya pada persaingan sengit, terutama dengan dua karakter rival yaitu Ananto yang di perankan oleh Bryan Domani, seorang pemain Tam-tam yang sombong dan ambisius dan Pawit yang diperankan Chicco Kurniawan, sahabat karib Bayu yang juga berkompetisi sebagai pemain gitar listrik.

Wregas menekankan bahwa film ini adalah sebuah proses perjalanan bagi Bayu, yang harus bergelut dengan ambisi, iri hati, dan akhirnya mencoba memaafkan diri serta menerima masa lalunya agar dapat menyalurkan kasih sayang sebagai seorang Perasuk sejati. 

Dinamika ini diperkaya dengan kehadiran Laksmi, seorang Pelamun yang keranjingan kerasukan sebagai upaya healing dari trauma masa lalu. Hubungan Laksmi dan Bayu menjadi poros emosional yang membantu Bayu dalam menemukan jati dirinya.

Para Perasuk adalah bukti kuat kolaborasi seni. Semua tarian kerasukan adalah koreografi fiktif yang dibuat oleh koreografer ternama Mas Siko Setyanto, menirukan gerakan binatang. Komposisi musik Alam Sambetan diciptakan khusus oleh Mas Yennu Ariendra, menggunakan instrumen fiktif seperti Selompret, gitar listrik, dan kendang. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya