Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Garin Nugroho: Mentransformasi Pengetahuan dan Tenaga Kerja Muda

Ardi Teristi Hardi
01/12/2025 13:33
Garin Nugroho: Mentransformasi Pengetahuan dan Tenaga Kerja Muda
Garin Nugraha(Dok JAFF)

Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) telah berusia 20 tahun. Pergelaran festival film tahunan ini telah tumbuh melebihi ekspektasi awal saat pertama kali festival ini dibuat.

Perjalanan dua dekade Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) terangkum dalam acara peluncuran buku “Lintasan Cahaya Asia: 20 Tahun JAFF” dan “Garin: Made in Indonesia”. Kedua buku itu hadir sebagai upaya pengarsipan memori kolektif tentang JAFF dan Garin Nugroho.

"Iya, (JAFF) malah melebihi yang kita harapkan. Jadi ini luar biasa, kalau kalian lihat," kata Garin Nugroho, Sutradara sekaligus Pendiri Festival JAFF, Minggu (30/11).

JAFF 2025 yang bertema "Transfiguration" ini akan berlangsung selama delapan hari, hingga 6 Desember, dengan menayangkan 227 film dari 43 negara."227 film dari 43 negara dengan 894 karya yang masuk.

Ia mengatakan, kebanggaan yang paling menarik adalah JAFF itu mampu mentransformasi dalam hal perekrutan tenaga kerja. Sekarang, pembuat film dari Jogja banyak sekali dan bahkan mencari kru saja kesulitan karena mereka sibuk, susah sekali di Jogja. 

"Jadi, festival itu tidak sekadar memutar dan kompetisi, tapi mentransformasi tenaga kerja muda, baik," kata dia. 

JAFF juga telah menjadi simbol lahirnya generasi muda baru film, lalu melahirkan juga tenaga-tenaga terampil berorganisasi, programmer, dan tenaga-tenaga ahli lainnya. 

"Dan yang ketiga, (JAFF) menghidupkan sebuah kota, eh, baik itu pada ekonomi kreatif maupun turisme, dan lain-lain," kata dia.

Menurut dia, ketiga pencapaian JAFF dalam 20 tahun itu juga telah menjadikan anak-anak muda mengetahui ekosistem media perfilman internasional di Asia. "Mereka tahu gimana cari funding, gimana mentransfer pengetahuan dan keterampilan itu. Jadi, inti prinsip 20 tahun adalah suatu perkembangan dari komunitas dan menjadi suatu festival yang salah satu terbesar di Asia," imbuhnya.

Lalu berbagai negara datang dari Perancis, dari Belanda, dan negara-negara di Asia. 

Dalam dua tahun terakhir, JAFF juga menggelar JAFF Market. Menurut dia, keberadaannya dibutuhkan karena kita juga harus mendukung ekosistem market.

"Indonesia perfilman di Indonesia sedang booming, ya, sedang menjadi masa emas, gitu," ungkap dia.

Dengan adanya JAFF Market, kita tidak hanya memperlihatkan pada dunia tentang pertumbuhan ekonomi film, tapi juga tetap mempertahankan dan mendukung ekonomi film itu. 

Penonton film Indonesia sudah dapat dilihat pertumbuhannya. Jumlah film yang ditonton lebih dari 1 juta penonton semakin banyak. Bahkan, empat film Indonesia dapat box office melebihi dari film Hollywood.

Presiden Festival JAFF, Budi Irawanto mengatakan, JAFF unik karena tidak hanya memutar film, tetapi juga mencoba memproduksi pengetahuan. Ia mengenang bagaimana JAFF dimulai dari nol infrastruktur, namun tumbuh berkat semangat belajar yang tak henti.

"Sejak awal, kami menerbitkan buku, mengadakan public lecture, dan menjadikan festival ini sebagai ‘kampus’ kedua bagi kami semua,” tutup dia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik