Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
DUO R&B asal Australia, CVIRO & GXNXVS (dibaca Cairo and Genius) resmi merilis single terbaru mereka, Were You Down? di bawah naungan Red Bull Records. Lagu ini sekaligus menjadi rilisan pertama mereka sejak 2023 dengan EP Come On In (Remixes).
Dipertemukan oleh kecintaan mereka terhadap hip-hop dan R&B era 90-an dan awal 2000-an, vokalis CVIRO dan produser GXNXVS kembali menampilkan kemampuan mereka untuk memadukan gaya bermusik yang berbeda dalam lagu Were You Down?.
Lagu ini juga menjadi bentuk penghormatan pada era ikonik dalam sejarah musik yang secara bersamaan juga mencoba untuk memodernisasi lagunya menjadi sebuah entitas baru.
Menggarap ke arah musik elektronik dan soul yang berhasil membuat nuansa gabungan yang penuh energi, cocok untuk clubbing dengan nuansa nostalgia era 90-an dan awal 2000-an.
"Were You Down? adalah cuplikan kecil dari era yang akan kami bawakan selanjutnya. Kami ingin mengambil DNA klasik R&B dan mengembangkannya, mengaplikasikan sebuah aspek kesederhanaan dalam produksi dan lirik, serta penampilan vokalnya. Lagu ini bukan hanya membawa esensi kilas balik karena dia berhasil membuat kalian merasakan sesuatu yang berbeda, di sini kita berusaha membuat sesuatu yang abadi." ungkap CVIRO & GXNXVS dalam sebuah pernyataan remi.
Dari lagu hit mereka Benjamins, yang berhasil mengumpulkan hampir 10 juta streams di Spotify, hingga menjadi artis asal Australia pertama yang mendapatkan waktu tayang di Drake's OVO Sound Radio dan Apple Music Beats1, duo asal Gold Coast. ini telah membuat gebrakan sejak awal mereka berkolaborasi.
Sejak rilisan kolaboratif terakhir mereka, CVIRO & GXNXVS kerap muncul sebagai kolaborator di rilisan musisi global lainnya, seperti penyanyi R&B asal Inggris, H33RA, dan rapper asal Toronto, JAHKOY.
Sentuhan yang mereka berikan pada lagu-lagu ini kental dengan nuansa Y2K dan ciri khas fresh spin yang mereka bawa kemanapun mereka pergi. (Z-1)
Melalui Static Mind, Blind Phase mencoba memotret kondisi mental yang penuh kebisingan, sebuah situasi di mana pikiran terus berputar di antara fluktuasi emosi tanpa jeda.
Nama Theresa Kusumadjaja bersanding dengan jajaran sineas dan musisi global dalam kategori yang sangat kompetitif, yakni Best Music Video.
Scoring dari film Phantom Thread, yang dikomposisi oleh Jonny Greenwood dan disutradarai oleh Paul Thomas Anderson, muncul dalam film dokumenter Melania tanpa izin.
Berbeda dengan versi aslinya yang kental dengan nuansa pop-rock era 90-an, Chandra Satria membawa nyawa baru ke dalam lagu Dan.
Bagi Sayap Lepas, musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan rasa dan cerita secara tulus.
Westlife tampil di Indonesia dalam konser bertajuk A Gala Evening, yang digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), BSD City, Selasa (10/2) malam.
Melalui Static Mind, Blind Phase mencoba memotret kondisi mental yang penuh kebisingan, sebuah situasi di mana pikiran terus berputar di antara fluktuasi emosi tanpa jeda.
Berbeda dengan versi aslinya yang kental dengan nuansa pop-rock era 90-an, Chandra Satria membawa nyawa baru ke dalam lagu Dan.
Bagi Sayap Lepas, musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan rasa dan cerita secara tulus.
Alih-alih narasi perpisahan yang penuh amarah atau pertikaian, lagu Berjarak dari Cocolite memotret fase persimpangan ketika dua orang yang saling mencintai mulai merasa lelah dan bimbang.
Keberhasilan ini membawa Work dari No Na langsung melesat ke posisi puncak Trending YouTube Music Indonesia dan peringkat pertama iTunes Indonesia.
Lagu Born in February dari WUSS merupakan narasi perlawanan terhadap stigma bahwa menjadi yang kedua berarti menjadi bayangan atau pengganti.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved