Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
TIKET mencoba mengibarkan kembali eksistensi dan menguatkan relevansi mereka lewat tembang duka asmara yang riang.
Dengan formasi lama, lagu baru, Tiket hadir lebih santai, dan lebih merdeka. Tiket pun datang kembali dengan tema patah hati lewat cara yang justru tidak melankolis dan mendayu-dayu lewat Gak Mau.
Bermula dari saling menyapa biasa, basa-basi menanyakan kabar, hingga berlanjut membentuk grup WhatsApp, malah akhirnya berujung pada ide menggulirkan Tiket kembali ke kancah musik Indonesia.
Baca juga : Irfan Darwis Bicara Mengejar Cinta yang tak Berbalas Lewat Single Hingga Akhir Aku Hidup
Yang menarik, komposisi formasi Tiket hari ini bisa diistilahkan dengan "formasi baru rasa lama". Iya, formasinya merupakan formasi Tiket saat pertama kali terbentuk, yaitu Aqi Singgih (vokal), Arden Wibowo (gitar), Opet Alatas (bas), dan Brian Kresna Putro (drums).
Yang membedakan Tiket dulu dan sekarang, menurut Brian, "Dulu kita itu cenderung begajulan dan meledak-ledak. Kalau sekarang sih lebih santai, melakukan hal-hal itu lebih strategic dan simple. Dan sekarang kami lebih bebas menentukan sendiri mau ngapain, tidak lagi diatur oleh label. Saat sudah sama-sama dewasa, kemerdekaan ini adalah berkah. Cukup tahu mau kemana, tenang dalam mengambil keputusan dan melakukan apa-apa."
"2-3 tahun belakangan ini, kita berkumpul kita udah saling paham, saat membuat karya itu tidak lagi melebih-lebihkan, sekarang sudah sadar bahwa segini ini cukup. Sesuatunya gak dibikin sulit, dibikin ribet, porsinya segini, ya sudah, ini yang ideal," timpal Opet.
Baca juga : Shvron Rilis Single I Spit On Your Grave
Sambutan publik terhadap remake Hanya Kamu Yang Bisa (Electric Version, 2022), yang bahkan telah ditonton lebih dari sejuta kali di YouTube, cukup mendongkrak rasa percaya diri Tiket bahwa keberadaan mereka masih relevan.
Kuartet ini pun melanjutkan gebrakan mereka dengan merilis Senjana, yang juga mendapat sambutan cukup baik. Sampai akhirnya datang lagi dengan karya termutakhir mereka, Gak Mau.
"Lagu ini menggambarkan tentang seseorang yang katanya mau berubah, nyatanya gak berubah juga. Sementara kesabaran orang tentu ada batasannya. Dan Gak Mau adalah jawaban orang-orang yang sudah capek akan kesabaran itu tadi. Namun disampaikan dengan harmonisasi yang tenang dan sabar," ujar Aqi.
Baca juga : Trench Horror Rilis Single Hingar Bingar
Dibalut warna pop rock, senandung mid-tempo yang nyaman di kuping, Gak Mau sejatinya adalah kisah sedih di ranah asmara. Namun, Tiket membungkusnya dengan pendekatan happy vibes, feel-good song.
"Aqi yang punya ide awal Gak Mau. Lalu, kami ngumpul bareng di studio Aqi. Saling pancing, saling nimpalin, modelan jamming gitu. Dalam sehari bentuk lagu udah terbangun," ungkap Opet.
Komposisi dasar lagu bisa terbangun hanya dalam sehari bukan berarti materinya masih mentah, kurang matang, belum saatnya dirilis. Tapi justru menunjukkan bahwa Tiket sudah sangat mengenal satu sama lain. Apa-apa jadinya easy-going, menggelinding saja secara alami. Pun energi makin menguat karena optimisme di internal Tiket juga besar.
"Ini sudah nyawa Tiket yang ke-6 ya. Gonta-ganti personel, Opet menjalani sendirian, masing-masing sibuk proyekan lain, ternyata ujung-ujungnya kita malah ngumpul lagi ya, jadi Tiket lagi. Ya artinya kita cukup tahan banting. Sudah sebegitu, masa kita gak optimis?" pungkas Brian.
Gak Mau sudah dirilis di di semua digital streaming platforms sejak 22 Agustus 2024 bersamaan dengan video klip dari single tersebut di kanal YouTube Tiket. (Z-1)
Nama Theresa Kusumadjaja bersanding dengan jajaran sineas dan musisi global dalam kategori yang sangat kompetitif, yakni Best Music Video.
Scoring dari film Phantom Thread, yang dikomposisi oleh Jonny Greenwood dan disutradarai oleh Paul Thomas Anderson, muncul dalam film dokumenter Melania tanpa izin.
Berbeda dengan versi aslinya yang kental dengan nuansa pop-rock era 90-an, Chandra Satria membawa nyawa baru ke dalam lagu Dan.
Bagi Sayap Lepas, musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan rasa dan cerita secara tulus.
Westlife tampil di Indonesia dalam konser bertajuk A Gala Evening, yang digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), BSD City, Selasa (10/2) malam.
Alih-alih narasi perpisahan yang penuh amarah atau pertikaian, lagu Berjarak dari Cocolite memotret fase persimpangan ketika dua orang yang saling mencintai mulai merasa lelah dan bimbang.
Berbeda dengan versi aslinya yang kental dengan nuansa pop-rock era 90-an, Chandra Satria membawa nyawa baru ke dalam lagu Dan.
Bagi Sayap Lepas, musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan rasa dan cerita secara tulus.
Alih-alih narasi perpisahan yang penuh amarah atau pertikaian, lagu Berjarak dari Cocolite memotret fase persimpangan ketika dua orang yang saling mencintai mulai merasa lelah dan bimbang.
Keberhasilan ini membawa Work dari No Na langsung melesat ke posisi puncak Trending YouTube Music Indonesia dan peringkat pertama iTunes Indonesia.
Lagu Born in February dari WUSS merupakan narasi perlawanan terhadap stigma bahwa menjadi yang kedua berarti menjadi bayangan atau pengganti.
Lagu Sementara atau Selamanya dari Trisouls menyentuh sisi kerentanan seseorang saat memendam kekaguman dan kegugupan yang melanda ketika ingin mengungkapkan perasaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved