Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA film Titanic, James Cameron sepakat dengan pernyataan dari Yoshua Bengio, Geoffrey Hinton, dan Yann LeCun yang dikenal sebagai the 3 GodFathers of AI, di mana menurut mereka kecerdasan buatan merupakan bahaya terbesar bagi umat manusia saat ini.
James menegaskan dia telah memperingatkan hal ini pada 1984 melalui filmnya The Terminator.
“Saya setuju dengan apa yang mereka sampaikan. Saya juga telah memperingatkan kalian pada 1984, tapi kalian tidak mendengarkan,” ungkap pria yang kini berusia 68 tahun tersebut kepada CTV News dilansir dari Mirror.
Baca juga: Kembali Ke Akar, Comic Con Tanpa Taburan Bintang Hollywood
Lebih lanjut, the 3 GodFathers of AI memperingatkan bahwa diperlukan regulasi untuk mengatur penggunaan teknologi yang sampai saat ini sudah berkembang sangat pesat.
Cameron mengungkapkan salah satu kekhawatiran terbesarnya saat ini ialah persenjataan AI. Dia merasa khawatir jika teknologi menjadi terlalu maju dan akan mencapai titik di mana manusia tidak lagi dapat melakukan intervensi.
Baca juga: Catatan Si Boy Reboot Bikin Angga Yunanda Melek Gaya Anak Orang Kaya
Kekhawatiran ini tidak dapat dipungkiri merupakan premis dari film The Terminator, di mana Kyle Reese dikirim kembali ke masa lalu untuk melindungi Sarah Connor dan memperingatkannya tentang Skynet, yang merupakan sistem kecerdasan buatan atau AI yang akan memulai bencana nuklir.
“Saya pikir mempersenjatai AI adalah bahaya terbesar. Menurut saya kita akan masuk ke perlombaan senjata nuklir dengan AI, dan jika kita tidak membangunnya, orang lain pasti akan membangunnya, dan itu akan berkembang pesat,” lanjut Cameron.
Dia menegaskan bahwa saat ini penting untuk dilakukan adalah evaluasi orang-orang yang mengembangkan teknologi dan motif mereka di balik pembuatannya. Cameron mengatakan bahwa saat ini pemerintah perlu menentukan pengembangan AI dilakukan untuk mendapatkan keuntungan atau untuk pertahanan, di mana kedua hal ini dia yakini dapat menghasilkan hal negatif yaitu mempromosikan keserakahan dan paranoia.
Cameron menilai bahwa kebutuhan regulasi AI juga merupakan salah satu hal yang membuat para penulis merasa keberatan. Pasalnya, AI dikhawatirkan dapat mengambil alih pekerjaan mereka.
Meskipun demikian, pembuat film Avatar tersebut percaya bahwa AI tidak akan pernah bisa menandingi kemampuan manusia untuk menulis cerita yang bagus.
“Saya secara pribadi percaya bahwa pikiran tanpa tubuh hanya akan memuntahkan apa yang dikatakan oleh pikiran berwujud lainnya baik itu tentang kehidupan yang mereka miliki, tentang cinta, tentang kebohongan, tentang ketakutan, tentang kematian. Saya tidak percaya itu memiliki sesuatu yang akan menggerakkan penonton,” tegas Cameron.
Dia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak tertarik menggunakan AI untuk menulis naskah film yang akan dia buat. Namun, dia berkelakar bahwa dirinya akan mempertimbangkan hal tersebut jika AI dapat mulai menulis skenario film yang berhasil meraih penghargaan Oscar. (Z-3)
Berlatar tahun 2029, MERCY mengisahkan Detektif Los Angeles bernama Chris Raven yang terbangun dalam sebuah kursi persidangan berteknologi tinggi bernama Mercy Chair.
Ashley St. Clair, ibu dari anak Elon Musk, menggugat xAI setelah chatbot Grok diduga menghasilkan citra seksual eksplisit dirinya tanpa izin.
Fitur AI Google Photos kini mampu menghapus objek, mengedit foto dengan teks, dan mengganti latar, menjadikannya alternatif Photoshop yang praktis.
Teknologi AI baru bernama CytoDiffusion mampu mendeteksi tanda halus leukemia pada sel darah dengan akurasi tinggi, bahkan melampaui kemampuan dokter spesialis.
Kesadaran akan pentingnya kesiapan data mulai muncul di seluruh spektrum perusahaan, baik skala besar maupun menengah.
Model tersebut berguna bagi investor sebagai alat bantu dalam investasi kuantitatif, dan akademisi dapat menggunakan hasilnya untuk menguji serta menyempurnakan teori.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved