Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KEHADIRAN kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas mahasiswa. Teknologi ini dimanfaatkan dalam berbagai keperluan, mulai dari menyelesaikan tugas akademik, mencari bahan bacaan, hingga memproduksi konten digital.
Meski menawarkan kemudahan, penggunaan AI juga memunculkan persoalan baru yang berkaitan dengan etika sosial serta nilai-nilai kebangsaan.
Fenomena pemanfaatan AI di kalangan mahasiswa memperlihatkan sisi positif sekaligus tantangan. Di satu sisi, AI mendorong efisiensi dan membuka peluang eksplorasi ide yang lebih luas. Namun di sisi lain, penggunaan yang tidak terkendali dapat memicu ketergantungan, mengikis kejujuran akademik, serta melemahkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
Jika ditinjau melalui perspektif Pancasila, khususnya sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, perkembangan teknologi seharusnya memperkuat peran manusia sebagai subjek utama. AI idealnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti nalar dan tanggung jawab. Ketika mahasiswa terlalu bergantung pada hasil instan, proses pembelajaran berisiko kehilangan makna dan nilai kemanusiaannya.
Dampak AI juga terasa kuat di ruang digital. Sistem algoritma yang mengatur arus informasi di media sosial cenderung menyajikan konten yang sejalan dengan preferensi pengguna. Akibatnya, mahasiswa dapat terjebak dalam ruang informasi yang sempit dan kurang beragam, sehingga berpotensi memicu perpecahan sosial. Kondisi ini berseberangan dengan semangat Persatuan Indonesia yang menuntut keterbukaan dan saling menghargai perbedaan.
Selain itu, kemajuan AI turut mempermudah penyebaran informasi palsu, manipulasi visual, dan konten menyesatkan. Dalam situasi ini, mahasiswa dituntut memiliki kesadaran etis untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga pengguna yang bertanggung jawab. Nilai Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan mengajarkan pentingnya berpikir rasional, kritis, dan bijak sebelum bertindak di ruang digital.
Dari sisi keadilan sosial, perkembangan AI juga menimbulkan kesenjangan akses dan literasi teknologi. Tidak semua kelompok masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan teknologi tersebut. Oleh karena itu, nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjadi landasan agar kemajuan AI tidak hanya menguntungkan sebagian pihak, melainkan memberikan manfaat yang merata. Di tengah derasnya arus digitalisasi, mahasiswa memiliki peran penting dalam memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap sejalan dengan nilai kemanusiaan dan kepentingan bersama. (Z-10)
Riset Pew Research Center mengungkap hampir 70% remaja AS pernah memakai chatbot AI, dengan sepertiganya menggunakannya setiap hari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved