Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
Pianis Nathasia Djong, 7, baru-baru ini merilis karya Indonesia Inspirasiku yang berisi medley tiga lagu Indonesia yakni Di Timur Matahari, Satu Nusa Satu Bangsa, dan Tanah Airku. Lagu ini merupakan kolaborasi Nathasia bersama dengan Aksi Cinta Indonesia (ACI) sebuah gerakan yang bertujuan mengajak anak-anak menemukan kembali identitas mereka sebagai orang Indonesia melalui seni inovatif.
Nathasia ingin anak-anak Indonesia maju dan rajin meraih cita-cita dengan mencontohkan bermain musik alih-alih menggunakan banyak waktu untuk bermain ponsel dan bermain gim.
Berbincang dengan Nathasia pada Sabtu (11/3), dia bercerita dengan gayanya yang ceria. Dia memulai kisahnya pada saat berusia dua tahun, di mana tahun itu adalah tahun pijakannya menunjukkan minatnya pada piano. "Aku pertama kali lihat kakak-kakak latihan piano dan bagus sekali, jadi aku seneng, ingin bisa juga. Saat itu aku baru main asal-asalan, belum bisa membaca, tetapi mami kemudian punya cara, " katanya.
Diceritakan sang Ibu, Lidiana Bunyamin yang merupakan pengajar piano, saat itu, bahkan kaki Nathasia belum bisa sampai ke pedal. "Tetapi kemudian saya gendong, tetapi saat saya lihat jarinya cukup kuat, kemudian saya menggunakan alat tambahan supaya bisa sampai ke pedal, masalah belum bisa membaca not balok, kemudian solusinya adalah dengan memberi warna pada setiap not balok untuk membantu mengenali not," kata Lidiana.
Pada usia lima tahun, Nathasia pertama kali mengambil ujian piano di The Associated Board of the Royal Schools of Music, London. Tahun ini Nathasia menjadi peserta ujian termuda yang dicatat Indonesia dengan Level Grade 5. Grade ini setara dengan kemampuan pengajar piano tahap awal.
Lidiana sangat meyakini, anaknya memiliki bakat. "Tetapi bakat itu hanya 20 persen bisa membuat orang menjadi mahir, 80 persen selebihnya adalah hasil latihan. Bakat dan latihan inilah yang harus didukung orangtua," ucapnya.
Sering ikut lomba
Nathasia, anak semata wayang sekaligus pelajar kelas dua Tzu Chi School Pantai Indah Kapuk, Jakarta itu mulai perjalanannya dari berbagai lomba. Secara bertahap dia mengikuti lomba di Jakarta, Surabaya, kemudian Singapura, Hongkong, dan kemudian Amerika.
Ratusan prestasi telah diraihnya baik dalam pada kompetisi dalam dan luar negeri, termasuk pada akhir 2022 Nathasia mengikuti acara World Championships of Performing Art di California, Amerika serikat dan Nathasia merupakan menjadi peraih tiga medali emas pertama, tiga medali perak, serta overall winner untuk Indonesia. Peristiwa ini menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang membentangkan merah putih di panggung international di Amerika Serikat dengan Perolehan 3 mendali emas dan 3 medali perak serta 2 overall winner.
Hari-hari Nathasia rupanya juga seperti anak-anak seusianya kecuali dalam hal screen time. Nathasia tidak punya minat di situ bahkan hanya untuk menonton televisi dan menyaksikan film. "Aku biasanya setelah sekolah tidur siang, bermain dengan boneka, dan berlatih," katanya.
Berlatih baginya adalah sebuah kesenangan. Dia bebas mengunakan waktunya untuk latihan kapan saja. Tidak hanya piano, Nathasia bahkan berlatih vokal, biola, drum, dan balet yang semuanya bermuara dengan prestasi.(B-4)
Melalui karya terbaru berjudul Peganglah Tanganku, sejumlah penyanyi lintas generasi bersatu untuk memberikan dukungan moril dan semangat bagi para penyintas di daerah terdampak.
Gerakan ini merupakan sinergi lintas sektor yang melibatkan musisi lintas generasi, komunitas, serta dukungan penuh dari pemerintah dan sektor swasta.
Hasil donasi yang terkumpul akan dikelola secara profesional oleh Masjid Jogokariyan.
Didirikan pada 14 Maret 2025, Amustra lahir dari keresahan atas keterbatasan akses, perlindungan profesi, hingga minimnya ruang pengembangan bagi musisi tradisi.
Partisipasi aktif para pelaku musik, penting untuk memastikan hak ekonomi mereka benar-benar terlindungi.
Dalam rangka merayakan 11 tahun perjalanan sebagai wadah bagi musisi perempuan lintas genre dan generasi, Sisterhoodgigs Movement menggelar We Matter.
Aku Jeje menghadirkan sebuah sekuel berjudul Melati, sebuah lagu yang membawa pendengar bertransisi dari keriuhan kebahagiaan menuju ruang refleksi yang lebih tenang.
Secara tematik, single Semalam dari Armada berbicara tentang momen ketika kerinduan seseorang sudah tidak terbendung lagi hingga terbawa ke alam bawah sadar.
Melalui Manusia Favorit, Andien tidak sekadar bernyanyi; ia menuturkan cerita tentang orang-orang yang dinilai paling berarti dalam hidup.
Berbeda dari harmoni R&B halus yang selama ini menjadi ciri khas mereka, Gachi Funk menampilkan sisi WOLF HOWL HARMONY yang lebih meriah dan bersemangat.
Bagi Pugar Restu Julian, Ramadan bukan hanya tentang satu warna atau tema tunggal.
Nisa Farella mengungkapkan bahwa lirik dalam single Legowo adalah representasi dari proses belajar berdamai dengan perasaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved